Halloween party ideas 2015


KUNJUNGAN KE LUBANG BUAYA



Nama “Lubang Buaya” tak asing lagi bagi kita. Apalagi yang lahir pada era orde baru. Konon, tiap tanggal 3o September (malam) ada pemutaran film dokumenter. Film yang mengisahkan penyiksaan, pembunuhan, dan pengangkatan jenazah para jenderal revolusi di kompleks Lubang Buaya. Saya ingat betul peritiwa pemutaran film ini. Bersama teman-teman di kampung, kami berbondong-bondong ke rumah pemilik televisi berwarna. waktu itu (tahun ’90-an), televisi hanya dimiliki oleh sebuah keluarga Cina. Meski demikian kisah tentang Lubang Buaya ini belum begiu jelas.

Untuk menambah pengetahuan sejarah dan mengungkap kekaburan akan peristiwa ini, saya bersama teman-teman sekomunitas berkunjung ke Lubang Buaya pada Rabu, 1 September yang lalu. Sebuah tempat di Jakarta Timur, tepatnya di desa/kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung (20 kilometer dari pusat kota Jakarta).  Ada sumber yang menyebut desa, ada pula yang menyebut kelurahan Lubang Buaya. Agaknya sebutan kelurahan yang tepat mengingat di Jakarta hanya ada kelurahan, dan tidak ada desa. Namun, merujuk pada situasi saat itu (belum seramai sekarang) bias saja nama desa menjadi lebih tepat.

Memasuki kompleks seluas 14,6 hektar dan terletak di wilayah milik Kodam Jaya ini, suasana seram muncul. Dari Gapura Monumen Pancasila Sakti masih harus berjalan sejauh lebih kurang 500 meter. Ada sumber menyebut tempat ini Monemuen Lubang Buaya. Di dalam ada beberapa gedung-museum seperti Museum Pengkhianatan PKI/Komunis, Gedung Paseban, Rumah-rumah eks G 30S/PKI, Ruang Pameran foto, ruang perpustakaan/kantor, dan beberapa ruang lain. Ada juga area parkir yang cukup luas. Ada juga Lapangan Upacara Sapta Marga yang cukup luas. Di sini bisa diadakan upacara meriah.

Kami hanya mengunjungi beberapa tempat. Mulai dari Sumur tua berdiameter 75 cm dan kedalaman 12 meter, lalu ke Monumen Pancasila Sakti, dan rumah-rumah eks 30S/PKI. Tiga tempat ini letaknya berdekatan. Sumur tua ini tampak serem. Konon, di sinilah ketujuh jenderal dibuang setelah dibunuh oleh pasukan militer G30S/PKI pimpinan Letnan Kolonel Untung pada 1 Oktober 1965. Tiga hari kemudian (4 Oktober), diadakan penggalian jenazah. Ada Jenderal Ahmad Yani, Mayjen Raden Suprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen Siswondo Parman, Brigjen Donald Isaac Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Letnan satu Pierre Andreas Tendean. Ada yang menulis Piere Andries Tendean.

Melihat sumur ini, naluri saya bertanya, “Benarkah mereka dibuang di sini?” Kurang yakin kalau mayat tujuh jenderal dimasukkan ke lubang kecil ini. Namun, keyakinan selama ini adalah mereka dimasukkan ke lubang ini. Bisa jadi keyakinan ini direkonstruksi oleh kekuatan zaman itu. Sejarah memang mengandung misteri. Misteri yang dibuat oleh mereka yang berkuasa. Kalau bukan di sumur ini, kemanakah mayat jenderal itu dibuang sebelum ditemukan? Ini pertanyaan yang mengiang selama berada di sana. Bisa jadi sejarah pula yang menjawabnya nanti.

Gambar ketujuh jenderal ini diabdikan dalam Monumen Pancasila Sakti. Monumen yang letaknya berdekatan dengan sumur ini. Di tengah barisan jenderal itu tampak Ahmad Yani, mengacungkan tangannya menunjuk ke arah sumur. Seolah-olah mau mengatakan, “Di sanalah kami dibuang.” Di belakang mereka, ada gambar burung Garuda berukuran besar. Konon, mereka mempertahankan dasar negara (pancasila) dengan lambangnya (burung garuda) dari tangan kelompok PKI. Kelompok PKI dianggap sebagai penghancur negara. Mereka ingin merebut negara dan mengganti dasar negara dengan komunis.

Sementara itu, rumah-rumah eks 30S/PKI merupakan tempat penyiksaan. Di rumah ini ada patung-patung yang menggambarkan peristiwa naas itu. Mulai dari interogasi hingga penyiksaan. Peristiwa itu kini dikenal dengan”Tragedi 30 Septeber 1965”.

Selanjutnya, kami mengunjungi Museum Pengkhianatan PKI. Masuk melalui gedung pendopo lalu mulai melihat kumpulan diorama (miniatur 3 dimensi) sejarah PKI. Di situ dipaparkan sejarah gerakan PKI di seluruh nusantara. Dibantu dengan lukisan dan foto, gambaran tentang peristiwa itu mudah dimengerti. Meskipun kadang-kadang muncul pertanyaan, benarkah seperti itu?

Di ruangan yang sama, kita juga bisa melihat pakaian dan peralatan para jenderal yang masih bisa diselamatkan. Ada pistol, senjata, pakaian militer, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong, kunjungan ini mengesankan. Selain belajar sejarah, juga perjalanannya. Dengan sepeda dari Cempaka Putih Jakarta Pusat, berombongan, menyusuri Jalan Ahmad Yani, menuju ke arah Cawang, lalu mengikuti aliran kali Malang dengan mengikuti Jalan Raya Kali Malang, sampai bertemu perempatan. Mengambil arah Kanan lalu mengikuti Jalan Jatiwaringin dan ke kanan lagi mengikuti Jalan Pondok Gede hingga menemukan Gapura bertuliskan Monumen Pancasila Sakti. Murah-meriahkan???

Tentang pendirian Monumen Pancasila Sakti ada dua sumber berbeda. Ada yang mengatakan Monumen itu dibangun tahun 1973. Ada pula yang menyebutkan tahun 1967 sebagai awal pembangunannya dan baru diresmikan 5 tahun kemudian (1972). Bisa jadi angka 1973 diyakini sebagai tahun peresmian Monumen ini. Monumen ini berbatasan dengan markas besar (Mabes) Tentara Nasional Indonesia Cilangkap di sebelah Selatan, dan Bandar Udara Halim Perdana Kusuma di sebelah Utara. Sedangkan bagian Timur dengan Pasar Pondok Gede, dan bagian Barat dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Akhirnya, kunjungan berakhir setelah 1,5 jam menyusuri “bukti-bukti” sejarah. Lumayan buat menambah pengetahuan. Tanpa mempersoalkan kebenaran pengetahuan itu. Asal saja sudah melihat langsung apa yang ditulis dalam buku sejarah dulu. Juga untuk tidak meluapakan sejatah bangsa sendiri. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa sejatahnya, seperti kata Soekarno?

Cempaka Putih, 12 September 2011
Gordi Afri

Posting Komentar

  1. MICHAEL LOEKITO4 Februari 2013 14.49

    KALAU MAU PERGI LEBIH BAIK NAIK TAKSI AJA KAN LEBIH GAMPANG HE HE HE

    BalasHapus
  2. MIchael L,....betul juga....
    kalau mau gampang memang demikian.

    tetapi kalau mau menikmati daya juangnya naiks epeda juga asyik hehee

    trims dah mampir..ya...

    salam

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.