Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label BOLOGNA. Tampilkan semua postingan

Bologna, Kota dengan Lorong Rumah Terpanjang di Dunia

lorong jalan di kota Bologna


Kehadiran beranda rumah menjadi seni tersendiri bagi penghuninya. Rumah yang mempunyai beranda tentu punya nilai lebih tersendiri ketimbang yang tak ber-beranda.

Di kota Bologna, Italia, beranda rumah ini mempunyai peran yang sangat strategis. Konon, dalam sejarahnya, pada abad-abad lalu beranda rumah menjadi tempat melihat pemandangan indah. Pemandangan itu hanya dilihat dari tempat yang paling tinggi. Dan memang orang Bologna pada saat itu membuat beranda rumah di lantai paling atas rumah. Beranda dibuat di bagian samping rumah. Ini tentu saja disesuaikan dengan model rumah masyarakat yang bergaya apartemen (palazzo) tinggi. Dari beranda rumah inilah kita bisa melihat sebagian besar wilayah kota.

Selain melihat pemandangan, beranda ini juga punya peranan lain terutama di musim dingin. Musim dingin biasanya dingin sekali. Lebih dingin lagi jika tidak ada matahari. Matahari seolah-olah membuat manusia tambah dingin sebab dia jarang muncul. Menunggu matahari di musim dingin itu memang kadang-kadang meresahkan. Seperti keresahan seorang ibu di desa menunggu matahari untuk mengeringkan padinya di musim hujan. Di kota-kota di Indonesia keresahan ini tidak ada karena di kota tidak ada kebiasaan menjemur padi sebelum diubah jadi beras di tempat penggilingan padi. Matahari memang jarang muncul tetapi begitu matahari muncul semua orang berkumpul di beranda rumah. Bagian ini pasti kena matahari. Itulah sebabnya beranda rumah menjadi amat penting.

lorong jalan


Beranda rumah seperti ini—di kota Bologna—masih dipertahankan sampai sekarang. Banyak rumah ber-beranda. Bahkan di tiap lantai. Dalam perjalanannya, kota Bologna berbenah sesuai dengan kondisi sosial dan keamanan waktu itu. Sekitar abad XIII (1288) pemerintah kota Bologna mewajibkan masyarakatnya membuat beranda rumah dengan tinggi 2,66 meter. Beranda rumah ini bukan lagi seperti beranda di tiap lantainya tetapi di lantai bawah, lantai yang setara dengan tanah (pianoterra). Beranda ini bukan lagi sebagai tempat melihat pemandangan dan menunggu matahari tetapi menjadi seperti lorong rumah sekaligus jalan yang biasa dilalui oleh  panjang. prajurit perang dan kudanya. Maka, beranda pun bukan terpisah tetapi bersambung sehingga membentuk sebuah lorong panjang. Saat itu masih terjadi perang antar-kota dan masing-masing kota ingin mempertahankan kota dan mengamankan masyarakatnya.  

Tingkat keamanan di beberapa bagian kota berbeda. Di rumah penduduk misalnya penjagaannya tidak seketat di kantor wali kota. Itulah sebabnya ukuran lorong rumah juga berbeda. Di kantor wali kota dan kantor publik lainnya tingginya 3,60 meter. Tidak ada ukuran pasti untuk lebarnya. Saat ini memang ukuran lebar untuk setiap teras rumah beda-beda. Boleh jadi ini muncul sejak awal. Bukan saja ukuran lebar yang berbeda. Bahan pembuatannya juga beda. Pada awalnya terbuat dari kayu (legno) lalu pada perkembangannya diubah dengan bahan dasar pasir dan semen seperti sekarang ini. Dengan ini lorong rumah ini menjadi bagian yang menyatu dengan rumahnya. Inilah yang menjadi nilai seni tersendiri bagi kota Bologna dalam perjalanan sejarahnya dari dulu sampai saat ini.

Saat ini kota Bologna menjadi kota dengan lorong (portici) terpanjang di dunia. Semua pusat belanja, rumah penduduk, kantor publik, dan gedung-gedung yang ada di kota Bologna mempunyai portici dengan berbagai gaya. Ada yang bergaya atik abad pertengahan (dengan gaya arsitek Roma-Gotik, romano-gotico), ada yang bergaya abad pencerahan, renesans (rinascimento), ada juga yang bergaya pavaglione (dimulai sekitar abad XVI). Total panjang seluruh portici ini adalah 38 kilometer. Kalau dijumlahkan dengan portici yang dihubungkan dengan beberapa tempat strategis di luar tembok kota menjadi 53 kilometer. Ini bisa dibayangkan seperti berjalan kaki dari Monas-Jakarta Pusat ke Bintaro Jaya-Tangerang. Dengan beranda atau teras atau portici ini, kota Bologna menjadi kota dengan seni tersendiri. Satu-satunya di dunia.

lorong dengan tembok 


Selain itu, jika Anda ingin berbelanja atau sekadar jalan-jalan di kota Bologna, tak usah khawatir kena hujan. Mengelilingi kota Bologna tanpa payung pun jadi. Dijamin tidak akan basah. Semua gedung terhubung dengan portici tadi. Pejalan kaki pun nyaman. Asal Anda kuat jalan kaki dan mau menikmati perjalanan di dalam portici dengan berbagai gaya dan ukuran ini. Sampai sekarang gaya-gaya portici antik masih dipertahankan. Di sebagian besar gedung dan rumah antik, masih terdapat portici antic. Sekarang, dengan kehadiran gedung dan pusat perbelanjaan baru, model portici ini tidak jelas. Beberapa arsitek pun menamainya dengan portici bergaya modern.

Saya beruntung tiga kali lewat di kota Bologna ini dan berjalan-jalan di bawah lindungan portici ini. Jika Anda mampir ke Italia dan mampir di kota Bologna, salah satu keindahan yang bisa Anda nikmati saat turun dari kereta api, bus, atau pesawat adalah keindahan portici ini. Selamat datang, benvenuti, welcome, sapa orang Bologna jika Anda datang.

PRM, 7/1/2015
Gordi

Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana


Kami pulang dengan senyum haru ke Parma. Senyum ini mewakili perasaan kami setetalh berpetualang beberapa jam di kota Bologna. Senyum memang kadang-kadang bisa dibuat. Tetapi, kami tersenyum dari hati. Hati kami begitu bergembira melihat keindahan kota Bologna. Itulah sebabnya kami tersenyum.



 
Kami tersenyum bukan saja saat di foto. Tetapi karena kami tersenyum makanya kami ingin mengabdikannya dalam foto. Kami tersenyum juga saat kami membuat lelucon dalam kereta. Kami tersenyum meski badan kami capek. Kami kehilangan banyak tenaga namun sudah ada penggantinya setelah kami makan siang di sebuah restoran. Kami tersenyum lalu tertawa karena lelucon yang kami buat lalu ada juga yang tertidur saking capeknya. Kebahagiaan dan senyum kami tidak luntur meski satu di antara kami tertidur. Sebelum tidur dia juga ikut tersenyum. Boleh jadi dia tidak ingin diingat sebagai orang yang hanya tidur saja setelah menikmati semua ini. Dia juga ikut tersenyum sebelum akhirnya tertidur. Atau mungkin dia tertidur karena capek termasuk capek karena tersenyum.










Inilah pengalaman menarik kami selama mengunjungi kota Bologna ini. Saya pamit dan sampai jumpa di tulisan lain dalam petualangan menarik lainnya di berbagai kota di Italia. Salam senyum. (selesai)

Parma, 25 April 2014
Gordi

Lihat Catatan Perjalanan sebelumnya

Gereja atau Basilika St Stefano (atau Stefanus dalam bahsa Indonesia) di Bologna merupakan salah satu gereja terkenal di Bologna. Gereja ini mulai dibangun pada abad ke-5. Kemudian, selanjutnya ditambahkan beberapa bagian hingga terbentuk seperti sekarang ini. Orang-orang Bologna tidak asing mendengar nama gereja ini.



Kami yang berkunjung ke Bologna juga tak ketinggalan melihat basilika ini. Dari luarnya kelihatan hanya satu gedung yakni gereja St Stefanus. Rupanya di bagian dalam ada beberapa tempat lain. Itulah sebabnya namanya bukan hanya Basilika atau Gereja St Stefanus tetapi kompleks St Stefanus. Sayang jika pengunjung tidak mampir di kompleks ini. Saya menganjurkan untuk mampir sebentar di sini jika Anda datang ke Bologna pada suatu waktu.


Saya menampilkan beberapa foto di sini untuk menambah pemahaman pembaca. Kadang-kadang kata-kata tidak cukup menggambarkan suasana. Saya menampilkan beberapa foto untuk tidak memperpanjang penjelasan. Yang jelas untuk mempersingkat penjelasan saya menyimpulkan dengan satu kata yakni menyenangkan. Sebelumnya saya mengajak Anda sekalian untuk melihat perjalanan pulang kami ke Parma.(Bersambung)





Lihat Catatan Perjalanan sebelumnya

tampak bagian depan 
Gereja Katedral Santo Petronio, nama gereja paling terkenal di Bologna-Italy. Itulah sebabnya kami juga mengunjungi gereja ini saat berkunjung ke kota ini pada Desember 2013 yang lalu. Nama Petronio diambil dari nama pelindung kota Bologna. Jadi, St Petronio bukan saja pelindung kota Bologna tetapi juga pelindung keuskupan Bologna.

Riwayat hidup St Petronio tidak begitu jelas. Ketidakjelasan ini nyata dalam literature yang mengulas kehidupannya. Saya mencoba mencari di internet, di ensiklopedi on line tetapi tidak ada. Tetapi bukan berarti tidak ada ulasan. Yang jelas dia menjadi uskup di Bologna pada abad V, sekitar tahun 431-449/450. Ada yang menulis sampai 449, dan ada yang menulis 450. Tahun kematiannya diperkirakan 450. Jika benar demikian boleh jadi dia menjadi uskup sampai akhir hidupnya. Dan, jika dia menjabat sebagai uskup sampai 449 maka dia beristirahat dari jabatan uskup selama lebih kurang setahun.

pintu masuk
Pada abad XIII tepatnya tahun 1253 Petronio diangkat menjadi Pelindung kota Bologna. Tentu saja oleh pemerintah yang berkuasa pada saat itu di kota Bologna. Entah apa namanya. Boleh jadi kita sebut saja raja. Sebab, Italia pada zaman itu masih dalam bentuk kerajaan. Atau juga boleh jadi oleh pemerintah yang berada di bawah kekuasaan Negara Vatikan. Sebab, boleh jadi Paus sebagai kepala agama berkuasa juga sebagai kepala pemerintahan.

Gereja Katedral St Petronio atau dikenal sebagai Basilika St Petronio diperkirakan mulai dibangun pada 7 Juni 1390. Arsiteknya adalah Antonio di Vicenzo (Bologna, 1350 – 1401/1402). Dia termasuk arsitek terkenal di Italia. Gereja ini selesai dibangun pada 1663. Jadi, butuh waktu 3 abad untuk menyelesaikannya. Tentu saja jangan dibayangkan pekerjanya bekerja setiap hari. Kadang-kadang ada waktu jedanya. Tidak seperti membangun rumah di zaman sekarang yang cepat. Menurut catatan yang ada, Antonio bekerja selama 10 tahun dalam pembangunan gereja ini. Entah siapa lagi yang mengerjakan bagian lainnya. Boleh jadi dia hanya bekerja membentuk bangunannya. Ada arsitek lain yang mengerjakan bagian dekorasi misalnya. Atau juga hiasan lainnya. Gereja ini memang kaya dengan dekorasi. Seperti gereja-gereja lainnya di Italia yang dibangun pada abad pertengahan (sekitar abad 5-15).

Kami berhenti sejenak di gereja ini, menikmati pemandangan indah di dalamnya. Kami memandang dekorasi yang indah sambil membayangkan pengerjaannya oleh para arsitek. Muncul kesan sungguh luar biasa arsitek pada zaman dulu. Saya tidak mengambil foto di bagian dalam gereja ini sebab memang hukumnya dilarang mengambil foto. Gerja ini sedang diperbaiki khususnya bagian luar saat kami berkunjung.

Gereja ini kaya dengan nilai seni. Tentu saja butuh biaya besar untuk mengerjakan semua ini. Di balik symbol-simbol yang ada tentu saja ada pesan yang tersirat. Misalnya mengapa sebuah gambar ditempatkan di sudut atau di tengah. Mengapa gambar ini dipilih. Apa artinya gambar ini. Dan sebagainya. Ada penjelasan tersendiri tentang bagian ini. Tengoklah gereja ini jika suatu saat Anda berkunjung ke Italia. (bersambung)

Prm, 15/3/14
Gordi

Sebelumnya







Kalau pembaca jalan-jalan ke kota Bologna-Italy, pembaca akan melihat keunikan di kota ini. Salah satu keunikan itu adalah model bangunannya. Dalam bahasa Italy dikenal dengan nama il portico (singular) menjadi i portici (plural, lebih dari 1). Seperti kalian lihat di foto. 

Model bangunan seperti ini banyak terdapat di Bologna. Di kota lain di Italy tidak ada portici seperti ini. Panjangnya 40 kilo meter. Portici ini dibuat sejak abad 12 (1100) hingga abad 18 (1739). Tentu saja butuh uang banyak untuk membuat portici ini. Jangan heran jika portici ini dibuat oleh keluarga-keluarga kaya di Bologna pada zaman itu. Dan, sebuah kebanggaan juga tentunya karena portici itu masih bertahan sampai sekarang. Mungkin dulu hanya simbol kekayaan saja tetapi sekarang menjadi simbol khas atau unik dari kota Bologna.


Saya juga kagum melihat portici ini. Mula-mula, saat kami membaca sejarahnya agak sulit membayangkan. Bagaimana mungkin portici dibuat sepanjang itu? Berapa lama pembuatannya. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab sudah. *Semua foto, koleksi pribadi






Tulisan Sebelumnya:

1. Naik Kereta Api dari Parma ke Bologna 

3. Piazza Nettuno, Fountain of Neptune Bologna 


FOUNTAIN OF NEPTUNE BOLOGNA


Dalam tulisan sebelumnya saya menyinggung soal stasiun kereta api di kota Bologna-Italy. Nah sekarang kami sudah turun dari kereta. Sudah keluar dari stasiun. Salah satu tempat pemberhentian kami adalah Piazza Nettuno (dalam bahasa Italia), atau dalam bahasa Inggrinsya Fountain of Neptune Bologna

Seperti kalian lihat di foto, patung Nettuno sungguh menarik perhatian. Dan mungkin kalau orang yang tidak biasa dengan seni akan menilai patung ini sebagai bentuk pornografi. Saya sendiri menilainya sebagai bagian dari seni. Dalam artian, patung ini adalah hasil karya seni. Boleh-boleh saja mengaitkan dengan bentuk pornografi. Tetapi, orang di sini, Italia, tetap mengatakan ini adalah hasil karya seni. 

Saya akan mengulas sedikit tentang sejarah patung Nettuno.  The Fountain of Neptune atau Fontana di Nettuno, seperti saya sebut di atas merupakan satu tempat unik di Bologna. Patung Nettuno ini ada juga di Firenze, Italia. Firenze atau Florence. Patung yang di Bologna ini memang merupakan tiruan dari yang di Firenze. Tentu tidak 100% meniru. Gambar patungnya hampir sama. Saya belum melihat yang di Firenze. Tetapi saya mencoba mencari di google dan menemukan gambar-gambarnya. Model patungnya sama. Bentuknya yang beda. Dalam artian posisi berdirinya berbeda sedikit. Juga rias patungnya beda. Saya tidak bisa membandingkan mana yang lebih indah menurut saya sebab saya hanya melihat yang di Bologna. Tetapi mengapa ada tiruan seperti ini?



Tentu ada maksudnya. Hanya saja saya belum menemukan alasan yang pasti mengapa Bologna meniru Firenze. Bisa juga kita menduga biar ada pelestarian. Menurut laporan dari BBC NewsItaly Neptune statue loses hand pada 3 Agustus 2005, sebagian tangan patung Neptunus/Nettuno/Neptune hilang. Ada bekas patahannya. Ini berarti ada yang merusak patung ini. 

Patung Nettuno di Bologna berada di tempat strategis yakni Piazza Maggiore yang sebelumnya juga dikenal dengan nama Piazza Nettuno. Tempat ini juga dekat dengan gereja katedral di Bologna. Ini menjadi hal lazim di Italy, di mana tempat strategis di pusat kota dekat dengan gereja katedral atau Duomo dalam bahasa Italia. 

Patung Nettuno di Bologna ini dibangun juga atas prakarsa Charles (Carolus) Borromeo yang pada waktu itu menjadi Cardinal delegatus untuk wilayah Bologna. Dia membuat ini sebagai simbol keberuntungan karena pamannya dipilih sebagai paus yakni Paus Pius IV atau Giovanni Angelo Medici (31 March 1499 – 9 December 1565). 



Patung ini dibuat pada abad 16 antara tahun 1563-67. Patung ini dikerjakan oleh beberapa arsitek yakni Giambologna, atau dikenal dengan Giovanni da Bologna, atau juga Jean Boulogne (1529-1608) yang meniru karya Bartolomeo Ammannati (1511-1592) pada patung Nettuno di Firenze atau Florence. Perancangan awal patung ini dikerjakan oleh arsitek lain Lauréti, Tommaso (kira-kira lahir pada1530-1602) pada 1563. Jadi, bisa disimpulkan bahwa patung ini ada karena campur tangan ketiga arsitek ini. Ammannati memulai lalu Laurètì merancang ulang dan Giambologna melanjutkan pekerjaan. (bersambung)

*Tulisan ini masih akan dikoreksi. Kalau ada pembaca yang bisa menyumbangkan masukan atau mau mengoreksi dipersilakan.

Tulisan Sebelumnya 


STASIUN KERETA API DI BOLOGNA

Stasiun Bologna tampak dari bagian depan, foto Gordi
Stasiun Kereta Api di Bologna merupakan salah satu stasiun Central/Center di jalur kereta Api di Italia. Stasiun ini menghubungkan kereta api dari Utara dan Selatan, Italia. Itulah sebabnya dia menjadi pusat atau sentral.

Saya beruntung bisa berada di stasiun ini pada Desember tahun 2013 tahun lalu bersama keempat teman saya. Saya tidak sempat mengambil foto di bagian dalam stasiun karena kami buru-buru baik waktu tiba maupun waktu kembali. Saya mengambil foto di luar stasiun sebelum kami meninggalkan kota Bologna.


Di stasiun inilah kami memesan tiket untuk pulang kembali ke Parma. Teman saya mencoba memesan tiket dan kami yang lain melihat bagaimana dia memperagakannya. Kereta api regional yang kami tumpangi dari Parma juga berhenti di sini.

Suasana di jalan ke stasiun, foto Gordi

Foto yang lain yang ada di tulisan ini adalah foto di jalan menuju stasiun. Kami berjalan kaki dari stasiun ke beberapa tempat di Bologna. Nanti saya ceritakan di bagian berikutnya. Begitu pula saat kami selesai mengunjungi beberapa tempat di Bologna, kami berjalan kaki. Saat itulah saya mengambil foto sambil menyelinap di antara banyak orang. Bologna memang menjadi kota pejalan kaki.


Parma, 28/2/2014

Gordi




Foto, Gordy, kursi di gerbong kelas 1
Naik kereta api dari Parma ke Bologna. Tidak lama, hanya dalam 1 jam. Saya ingin membagikan pengalaman selama naik kereta ini. Sebelumnya tentu saja harus berangkat ke Stasiun. Saya dan 3 teman saya berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke stasiun. Jadwal kereta yang kami pesan adalah jam 9. Jadi, jam 8.15, paling lambat, kami harus berangkat. Di sana, seorang teman (guru bahasa Italia) kami yang adalah oang Italia, menunggu.

Saya lupa tanggalnya. Harinya hari Kamis di bulan Desember tahun 2013. Antara tanggal 12 atau 19 Desember. Maaf beribu maaf saya lupa. Saya juga akan tanya teman saya dan akan melihat kalender saya.

Seperti pembaca lihat di foto. Suasana masih pagi. Kami berjalan di pinggir jalan, di trotoar, yang ruasnya besar. Trotoar ini ada di kota Parma. Dan, bukan saja untuk pejalan kaki tetapi juga untuk pengguna sepeda. Kebetulan di ruas ini tidak ada pemisahan antara ruas untuk pejalan kaki dan pemakai sepeda. Dalam bahasa Italia, ruas untuk pemakai sepeda disebut pista bicicletta, yang dalam bahasa Inggris disebut bike track. Harus hati-hati saat melintas di sini.

Pemandangan pagi hari di sekitar jalan yang kami lalui
foto, Gordy
Pagi ini, kami berjumpa dengan beberapa pengguna sepeda di ruas ini. Ada yang ke sekolah, kantor, dan sebagainya. Saya lupa menjempret. Maklum saya juga masih takut mengambil foto orang yang sedang berpapasan dengan saya. Meski saya sedikit tahu hukum-fotografi. Salah satunya adalah boleh mengambil foto di tempat umum dan tidak boleh mengambil foto di tempat terlarang seperti penjara dan rumah sakit.

Matahari bersinar terang. Hari ini amat cerah. Ada satu kalimat dalam bahasa Italia untuk menggambarkan hari yang cerah seperti ini. Che bella giornata. Memang kami memilih hari ini karena sebelumnya melihat perkiraan cuaca. Ini untungnya ada perkiraan cuaca yang tingkat keakuratannya tinggi.

Kami bertemu teman kami di stasiun. Rupanya dia sudah menunggu lama. Kami berempat terlambat. Untunglah kereta juga terlambat 5 menit sehingga kami masih bisa masuk di kereta yang kami pesan. Pesan maksudnya bukan pesan tiket. Pesan maksudnya, kami memlih salah satu rute. Untuk hari ini, seperti hari biasanya juga, jadwal kereta dari Parma ke Bologna, dan sebaliknya, selang 30-45 menit. Jadi, kalau kami tidak berhasil ikut kereta jam 9, tunggu 30-45 menit lagi di jadwal kereta berikutnya.

Tamapak teman saya berjalan di belakang saya, Foto Gordy
Alhamdulilah kami berhasil ikut jadwal yang jam 9. Jadinya, jam 9.07 kami berangkat. Teman kami memesan di tiket lewat mesin. Bukan lewat petugas. Di sini cepat. Antrian yang panjang pun tidak menjadi masalah. Caranya mudah. Masukkan data jumlah penumpang, jam, dan tujuan, serta jenis kereta, lalu, masukan uang, klik OK. Kami berlima naik kereta Regional. Kereta ini berjalan dari kota ke kota dalam satu provinsi. Misalnya untuk kereta yang kami gunakan, berangkat dari Parma, melewati Regio-Emilia, Modenna, lalu Bologna. Melewati 3 kota ini.

pintu gerbong kelas 1, foto Gordy
Ada yang unik. Kami memilih kursi penumpang di kelas 2, kelas yang biasanya menjadi pilihan banyak penumpang. Harganya murah, 6.90 euro. Hanya ada 2 kelas, 1 dan 2. Pagi ini banyak penumpang di kelas 2. Ada mahasiswa dari Parma yang berangkat kuliah di Bologna, ada pekerja kantoran, dan pekerja pabrik, yang berangkat ke 3 kota yang dilalu kereta ini.

Setelah kami duduk di gerbong kelas 2, teman kami yang Italia menengok ke gerbong kelas 1. Rupanya di sini tidak ada penumpang. Dia bilang ke kami kalau kami bisa pindah ke situ setelah kereta berjalan sekitar 15-20 menit. Dan, benar, kami benar-benar pindah. Tidak banyak penumpang yang pindah. Entah karena tidak tahu atau memang sudah nyaman dengan kursi di gerbong kelas 2. Nyaman juga duduk di gerbong kelas 1 ini yang kualitasnya tentu saja lebih tinggi dari kelas 2.

Di sini suhunya agak hangat ketimbang kelas 2. Itulah sebabnya kami melepaskan jaket tebal kami. Juga topi, kaus tangan (guanti), dan syal di leher (Sciarpa). Yang tertinggal hanya switer bagian dalam. Maklum, kami mengenakan paling tidak 3-4 pakaian. Yang terluar biasanya jaket tebal. Ini untuk menahan dingin. Setelahnya kami menikmati perjalanan sambil bercerita. Saya mengambil foto pemandangan di sekitar jalan. Pengalaman selanjutnya diceritakan di bagian lain. (bersambung)

Parma, 23 Februari 2014

Gordi


Diberdayakan oleh Blogger.