Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label RAVENNA. Tampilkan semua postingan

Jam Berkunjung dan Pintu Masuk ke Museum Bertinoro

Museum dialog inter-religius Bertinoro adalah musem khusus. Kekhususannya tidak saja karena hanya mencakup tiga agama besar, Yahudi, Kristiani, dan Muslim. Kekhususannya juga tampak dalam jam bukanya. Ya, hampir semua kantor dan took di Eropa memiliki jadwal tertentu. Tidak 24 jam seperti rumah sakit dan palang merah. 



Museum Bertinoro juga demikian. Tidak buka setiap hari. Tidak buka sepanjang tahun. Tentu ada waktu libur seperti juga di kantor-kantor pemerintah atau juga di took-toko umum. Hari libur khusus bagi petugas museum ini adalah hari Senin. Hari lain dibuka namun dengan memerhatikan musim dan juga permintaan. Demikian juga dengan bulan libur yakni Agustus. Sedangkan pada bulan lainnya tetap dibuka. Pada Januari dan Desember hanya buka beberapa hari saja, tidak sepanjang bulan. Untuk lebih jelasnya saya buatkan tabel di bawah ini.

Tanggal dan bulan
Jam berkunjung
1 Feb-31 Mei
Selasa-Jumat

Sabtu-Minggu

14.00-18.30 kalau ada permintaan
15.30-18.30 buka untuk umum
1 Juni-31 Juli
Selasa-Jumat

Sabtu
Minggu

14.00-18.30 kalau ada permintaan
15.30-18.30
17.00-21.00, sabtu dan minggu,
buka untuk umum
1 Sep-30 Nov
Selasa-Jumat

Sabtu –Minggu

14.00-18.30 kalau ada permintaan
15.30-18.30
1-20 Des
Selasa-Jumat

*Museum ditutup dari tanggal 24 Des-6 Jan

9.00-13.00 dan 14.00-16.30 kalau ada permintaan

Unntuk informasi lebih lanjut, bisa dilihat di situs ini, http://www.museointerreligioso.it/italiano/informazioni/ dan nomor telepon serta alamat yang bisa dihubungi,

Il Museo Interreligioso di Bertinoro
Via Frangipane 6,
47032 Bertinoro (FC)
Tel. 0543-446600
Fax 0543.446557
e-mail: musint.bertinoro@libero.it - musint.scuola@libero.it

Untuk informasi yang berkaitan dengan objek-objek dalam museum, bisa ditanyakan ke guide. Jasanya dibayar 4 euro per orang dan 25 euro untuk grup. Satu grup minimal 15 orang. Tiket kunjungan perorangan juga 4 euro. Tiket masuk untuk pelajar sampai umur 18 tahun dan orang tua di atas 60 tahun 3,5 euro.
Jalan ke sana
Ada beberapa kota terdekat yang menjadi pintu masuk ke kota Bertinoro yakni Bologna, Forli, dan Rimini. Bisa juga dari Ravenna, seperti yang kami buat. Tetapi, kami waktu itu menginap di Ravenna sehingga tidak perlu melalui tiga kota lainnya tersebut. Untuk ke Bertinoro, kita bisa ambil beberapa jalan lewat mobil pribadi (via tol), bus, kereta api atau juga pesawat.

Mobil pribadi
Dari Bologna atau Rimini, bisa ambil jalan tol, dan keluar di Cesena-Nord (Cesena-Utara) nomor A14, lalu masuk E 45 tujuan Roma, sampai di pintu keluar Cesena Ovest (Cesena Barat). Dari situ, ambil arah Kanan menuju Via (jalan) Emilia 9, tujuan Forli-Bologna. Jalan ke Bertinoro tepat setelah Capocolle, sebuah dusun kecil, yang terletak di sebelah kiri dekat lampu merah. Dari situ ke Bertinoro sekitar 12 km. Keterangan lebih lanjut lihat di situs ini www.autostrade.it.

Kereta api
Dengan kereta api dari Bologna ke Rimini. Naik kereta Espressi, Eurostar. Turun di Forlì atau Cesena. Dari stasiun kereta api di Forlì dan Cesena ke Bertinoro sekitar 13 km. Bisa juga naik bis atau taksi, hubungi nomor ini (tel +39 0543 31111). Untuk informasi lebih lanjut lihat di situs ini www.trenitalia.it.
Bus umum
Dari terminal bus (Punto Bus di fianco alla stazione FFSS, sebelah kanan stasiun FFSS) kota Forlì, naik beberapa bis jalur Bertinoro. Atau, cek di situs ini www.atr-online.it
Pesawat 
Bandar udara kota Fotlì didarati pesawat komersial dari berbagai kota di Eropa. Dari bandara ini sekitar 5 km lagi ke Centro Universitario, pengelola museum. Bisa juga naik pesawat dan turun di bandara Bologna. Hanya saja dari Bologna, masih sekitar 80 km. Untuk pengunjung dari luar Italia mungkin lebih mudah akses ke bandara Bologna ketimbang bandara Forlì. Untuk informasi jalur pesawat bisa dicek di situs ini www.bologna-airport.it.

Saya sertakan di sini foto peta Bertinoro dan kota sekitarnya. Foto dari situs resmi museum Bertinoro.



Menatap sejenak Perbedaan Ini

Menatap sejenak dengan tatapan tajam. Tatapan tajam penuh harapan. Menatap keindahan. Indahnya alam dan indahnya hidup bersama. Hidup bersama dalam perbedaan. Berbeda sekaligus bersama. Berbeda tetapi tidak membeda-bedakan. Berbeda dan menerima perbedaan. 

Mataku enggan terpejam melihat bangunan di atas gunung ini. Tinggi menjulang setinggi harapanku untuk tinggal bersama orang-orang yang berbeda denganku. Menatap ke bawah dengan keindahan alamnya. Demikianlah harapanku untuk negeriku Indonesia yang dihuni pemeluk dari berbagai agama.

Ya, bangunan ini dingin sekali. Bulu kulitku merinding saat masuk ruangan bawah tanah. Sejenak kurespons dengan mengenakan rompi hangat yang baru saja kukenakan di Italia ini. Italia saat itu sedang musim panas. Matahari terang. Tetapi di sini dingin karena letaknya di ketinggian. Dingin itu seketika hilang. Badanku jadi hangat sehangat indahnya hidup bersama dalam berbagai perbedaan.

Benda-benda religius dari ketiga agama Abrahamik ini jadi saksi bisu. Semua terlihat. Semua tampak. Semua memancarkan harapan. Harapan akan indahnya hidup bersama. Kutatap satu per satu benda-benda itu. Dari ruangan ke ruangan. Mataku menatap tajam. Telingaku mendengar dengan penuh perhatian suara sang guide kami. Oh betapa indahnya melihat perbedaan.

Salam bersatu dalam perbedaan. (bersambung)

Ravenna, November 2014

Gordi






Kitab Taurat, Alkitab, dan Al’Quran

AL'QURAN
Satu rumah untuk tiga agama. Tidak perlu ribut-ribut siapa yang benar, siapa yang salah. Siapa yang sah dan siapa yang tidak. Siapa yang kafir dan siapa yang tidak. Siapa yang asli dan siapa yang tiruan. Siapa yang suci dan siapa yang berdosa. 

Tidak! Tidak ada pembedaan seperti itu. Tentu saja ada perbedaan. Tetapi tidak perlu dibedakan. Cukup diterima saja. Itulah indahnya kebersamaan. Bersama dalam berbeda. Bukan bersama dalam kesamaan. Lihatlah bunga yang berwarna-warni saat awal musim semi.
KITAB TAURAT DAN ALKITAB

Perbedaan itu tinggal dalam satu rumah. Rumah museum tiga agama besar, Yahudi, Kristen dan Muslim. Banyak perabot keagamaan yang dipertunjukkan dalam museum ini. Salah satunya adalah kitab suci dari ketiga agama ini. Ada Kitab Taurat dari orang Yahudi, Alkitab dari orang Katolik-Kristen, dan Al’Quran dari orang Muslim.

Mari tinggal bersama dalam perbedaan. Mari menghargai perbedaan dalam hidup bersama.
Mari kita membangun hidup bersama dalam perbedaan. (bersambung)

Ravenna, November 2014

Gordi



KUTIPAN AYAT AL'QURAN



Berkunjung ke Museo Interreligioso Bertinoro

Tempatnya di atas gunung. Jalannya mendaki. Ya, namanya gunung. Dari Ravvenna, San Pietro in Vincoli sekitar 30-45 menit. Dekat untuk ukuran di Italia. Kami juga waktu berkunjung ke sana, tidak merasa capek.

Dari sana pengunjung bisa lihat ke berbagai daerah di sekelilingnya. Pemandangan indah. Saya mengabdikan beberapa foto di sana. Karena letaknya di pegunungan, kita pun bisa melihat ke berbagai tempat. Kami sudah melihatnya sebelum pendakian. Hanya saja, sebagian besar di antara kami belum tahu persis kalau tempat itulah tujuan kami.

Museum dialog antar-agama namanya atau sebutannya. Dalam bahasa Italia ditulis seperti ini, Museo Interreligioso Bertinoro. Bangunan itu dulunya adalah kastil. Tempat tinggal raja pada beberapa abad lalu. Sekarang dijadikan museum dialog antar-agama. Lembaga ini didirikan dan dikelola oleh Keuskupan Forlì-Bertinoro, kota dekat Ravenna, Provinsi Emilia-Romagna.
Kami tiba di sana setelah mengitari bukit pendakian. Kami berfoto sejenak di dekat pintu masuk. Lalu, giude-nya membuka pintu gerbang. Kami masuk dan terus mengikuti rute yang ditunjukkan. Guide itu membawa kami ke berbagai pos. Dari pos masuk, dalam, atas, bawah tanah, lalu keluar halaman.

Di dalamnya, kami bisa melihat berbagai replika atau model perabot atau sarana doa dari berbagai agama. Masjid, gereja, sinagoga, salib, Kitab Suci, Al’Quran, Taurat, dan sebagainya. Ada juga berbagai perabot lain seperti peralatan misa dalam agama Katolik. Juga, pakaian-pakaian yang dipakai para imam Katolik.

Menarik, mengitari pos-pos ini. Selain mendengar penjelasan, kami juga membaca sendiri penjelasan yang ada di sana. Tulisannya dalam bahasa Italia dan Inggris. Sedangkan untuk kitab suci dari berbagai agama dalam berbagai bahasa. Yang uniknya adalah buku doa dalam bahasa asli seperti Latin, Ibrani, Arab, Yunani.

Saya tidak menemukan banyak koleksi tentang agama-agama besar dari Asia seperti Hindu, Budha, Konghucu. Mungkin karena agak sulit mendatangkan peralata seperti itu. Memang museum antar-agama ini hanya mengoleksi benda-benda penting dari ketiga agama Abrahamik seperti yahudi, Kristiani, dan Islam.

Kami puas berkunjung ke tempat ini. Suhunya dingin—maklum di gunung—tetapi otak kami panas, diasah oleh pengetahuan dari berbagai agama. Kapan-kapan pembaca bisa berkunjung ke sini. Bukan saja menimba ilmu dan pengalamannya, tetapi juga melihat pemandangan indahnya. Salam. (bersambung)


Ravenna, November 2014
























Berjemur di Pantai Ravenna

Di dekat kota Ravenna ada pantai. Ya, harus keluar kota supaya sampai di pantai. Saya tidak ingat persis nama pantai yang sempat kami kunjungi. Saya dan teman-teman dua kali ke pantai selama kami menginap seminggu di kota Ravenna tepatnya di San Pietro in Vincoli. Dengan mobil ke sana, hanya 45 menit. 

Bulan-bulan libur seperti Juli sampai September memang pantai selalu ramai. Seperti itulah yang kami lihat pada bulan September tahun 2013 yang lalu. Kami tiba di pantai pada sore hari. Di sana, banyak orang menghabiskan waktunya.

Kami berada di sana selama sekitar 3 jam plus 1,5 jam kami habiskan di pizzeria untuk makan malam. Menu menarik yakni pizza dan bir. Kami mengisi waktu ini dengan berbagai kegiatan. Main sepak bola, nyanyi, renang (bagi yang hobi dan tahu), jalan-jalan, berjemur (bagi mereka yang kulitnya putih), membaca buku, berfoto-foto.

Para pengunjung yang mayoritas bule Italia dan sekitarnya juga hampir sama. Banyak yang berjemur dengan celana bikini saja biar sebagian besar kulit kena sinar matahari dan menjadi sedikit hitam atau merah. Mereka berjemur sambil membaca buku. Atau juga tidur-tiduran di atas pasir. Ada juga menghabiskan waktunya dengan berduaan dengan pacar. Ini yang tentunya paling dicari oleh pasangan muda dan beberapa pasangan tua.

Saya dan seorangi teman mula-mula bermain sepak bola. Satu tim dengan 6 pemain. Semuanya menang. Gol lebih dari 10. Bukan gol yang dihitung tetapi kebersamaan dan beramai bersama di pantai, di atas pasir panasKeramaian ini juga kami bawa dalam kegiatan lain seperti bernyanyi bersama. Lagu-lagu berbahasa Italia, Inggris, Prancis, dan Indonesia. Indahnya hidup bersama dalam komunitas internasional seperti ini. Atau juga kegembiraan saat makan es krim (gelato) bersama di tengah panas terik matahari.

Malamnya, kami makan pizza dan minum bir. Para sopir tidak boleh minum bir. Atau minum sedikit, paling hanya segelas. Kami yang lain boleh lebih bahkan hampir satu botol setiap orang. Pizza-nya ukuran besar. Yang tidak siap mungkin agak sulit menghabiskannya. Saya juga hampir lambat selesainya tetapi dengan bir semuanya jadi bias diselesaikan. Banyak bir banyak pizza.

Jam 9 malam, kami pulang. Sudah gelap. Tetapi ada lampu di jalan. Lagi pula, banyak pengunjung yang datang dan pergi. Jalanan jadi ramai. Hanya 45 menit kami sudah tiba kembali di rumah. Asyik bukan????? (bersambung)

Ravenna, 5 November 2014






Kamar Nomor 21

Kamar nomor 21. Kamar yang selalu saya gunakan ketika datang ke rumah di Ravenna ini. Kali ini saya nginap di kamar ini. Sama seperti kali pertama datang ke sini tahun lalu.

Saya pernah nginap di dua kamar lainnya. Satunya masih dekat dengan kamar 21 ini. Sama-sama di lantai 2 dan di sisi Timur rumah ini. Di sana juga bagus. Hanya saja, pemandangannya kurang bagus. Ketika keluar dari jendela, mata kita langsung tertuju pada rindangnya pepohonan yang ada di depan rumah. Bisa lihat dua ruas jalan raya dan rumah penduduk lainnya. Tetapi, kebanyakan pemandangan pepohonan.


Saya juga pernah mentina di sisi Barat rumah ini. Di kamar nomor 40-an. Saya tidak ingat persis nomornya. Lebarnya sekitar 2,5 meter tetapi panjangnya sekitar 10 meter. Termasuk kamar mandi. Ya, semua kamar di sini lengkap dengan kamar mandi. Tidak ada yang mandi di luar kamar.

Saya suka luasnya kamar ini. Tapi saya kurang suka pemandangannya. Hanya bias melihat halamana tengah rumah yang sangat indah. Tamannya dipenuhi bungan dan beberapa pohon. Ditata dengan rapi sehingga indah dipandang. Letaknya di lantai 1. Lantai 1 di sini maksudnya kamar yang terletak di atas bagian rumah yang rata dengan tanah. Lantai yang setinggi tanah di sini disebut lantai tanah atau piano terra dalam bahasa Italia. Ini bukan lantai dasar atau lantai 1 seperti dalam bentuk rumah di Indonesia.

Saya lebih suka kamar nomor 21. Bukan karena nomornya 21 yang juga berarti 3 kali 7. Angka 7 dalam budaya antik berarti sempurna. Tiga kali 7 berarti super sempurna. Saya suka bukan karena ada kaitan dengan nomornya. Saya suka dengan modelnya. Pas di ujung sisi Timur rumah ini. Pemandangan di sebelah Barat dan Selatan cukup indah. Lampara tanah yang ditanami berbagai jenis tanaman—tergantung musim. Bisa juga melihat langit-langit lantai 1 rumah yang terletak di sisi Barat, Utara, dan Selatan. Kebetulan dari keempat sisi rumah ini, hanya sisi Timur yang berlantai 2.

Saya menghabiskan waktu pribadi di kamar ini dengan membaca, melihat pemandangan, mengambil beberapa foto kala sore hari. Terima kasih kamar nomor 21. (bersambung)






Rumah Xaverian di Ravenna

Kami berada di sini sampai hari Senin yang akan datang. Rumah ini adalah satu-satunya rumah Xaverian di kota Ravenna. Rumah ini dulunya adalah rumah novisiat unuk calon Xaverian. Banyak pastor dan bruder Xaverian yang sekarang sudah tua merupakan jebolan rumah pendidikan ini. Banyak Xaverian yang melewatkan masa pendidikan novisiatnya selama 1 tahun di sini. Di kota Ravenna ini dulu—tepatnya Keuskupan Agung Ravenna—Santo Conforti (1865-1931) bertugas sebagai Uskup Agung. Tidak lama. Hanya 2 tahun (1902-1904).


Sekarang rumah ini menjadi pusat spiritualitas Xaverian. Rumah pertemuan. Rumah retret. Rumah animasi juga. Kadang-kadang ada kelompok dari paroki atau keuskupan di Ravenna atau kota sekitarnya yang datang dan menggunakan rumah ini. Ada juga kelompok religius yang menggunakan rumah ini untuk retret seperti yang kami buat sekarang ini. Bersama kami di sini, dalam beberapa hari ini, ada satu atau dua orang pastor dari Ordo Fransiskan-Capucino (OFM Cap) sedang menjalankan retret.
Di rumah ini, tinggal sekitar 6 orang pastor Xaverian. Mereka melayani di paroki dan membantu beberapa kegiatan di keuskupan tetapi bukan tenaga tetap. Mereka hanya membantu. Mereka tidak memegang atau tinggal di paroki. Mereka membantu para pastor paroki merayakan misa. Atau juga, mengorganisir kegiatan animasi di paroki atau tingkat Keuskupan. (bersambung)

Ravenna, 5 November 2014

Ravenna, Kota Seni di Italia

Ravenna adalah kota seni di Italia. Italia memang kaya dengan seni. Seni lukis misalnya. Hampir di semua kota, besar dan kecil, ada peninggalan benda seni. Seni lukis dan seni pahat misalnya. Ravenna adalah salah satu kota yang koleksi benda seninya terrena. Di Italia, Ravenna menjadi kota seni yang disegani.

Ravenna yang ini belum saya jamah. Ya, kali ini adalah kali keempat saya datang ke Ravenna. Namun, kota Ravenna sendiri belum saya jelajah. Hanya lewat sambil lalu. Belum berkunjung ke gereja katedralnya, atau berbagai museumnya, atau taman kotanya, dan sebagainya. Hanya lewat dan berlalu begitu saja.

Saya dan teman-teman memang datang ke sini tetapi hanya di pinggiran kotanya. Di Sa
n Pietro in Vincoli. San Pietro hanya salah satu bagian dari kota Ravenna. Seperti Blok M atau Tanah Abangnya kota Jakarta. Demikianlah perbandingannya.

Saya datang ke San Pietro ini sejak tahun lalu. Pertama, bulan September. Saat itu, kami membuat rapat awal tahun untuk membahas program hidup bersama sepanjang tahun ajaran 2013-14. Kali kedua, saat kami membuat retret tahunan (November 2013)—seperti yang sedang kami tahun ini. Ketiga, bulan Juni tahun lalu, saat kami membuat evaluasi akhir tahun. Keempa, kali ini. (bersambung)

Ravenna, 5 November 2014

Perjalanan Menyenangkan meski tidak Menikmatinya

Ya, dari Parma ke Ravenna hanya 2 jam saja. Tentu lewat jalan tol. Dari Parma ke Bologna, lalu ke Ancona, kemudian ambil jalur Ravenna. Kelihatannya memang mudah. Hanya saja bagi sopir baru, mungkin agak sulit. Sebenarnya sampang dihafal. Ingat saja, Parma-Bologna-Ancona-Ravenna.

Dua jam tidak terasa. Apalagi kalau hujan. Jadi, enak tidur. Hari ini, 5 November 2014, kami pergi ke Ravenna. Kami akan mengadakan retret tahunan sampai tanggal 10, hari Senin yang akan datang. Hanya 5 hari. Efektifnya 4 hari. Malam ini, kami bertemu untuk membuat jadwal. Besok pagi, retret dimulai. Dua kali pertemuan sehari. Pagi dan sore.

Hari efektifnya dari Kamis sampai Minggu. Hari Senin, hanya akan ada sekali pertemuan. Lalu, kami akan tutup dengan misa, makan siang, setelahnya kembali ke Parma.

Perjalanan sore ini menyenangkan. Ya, saya tidak menikmatinya, tetapi menyenangkan. Kami mula-mula bercerita sampai sekitar 30 menit. Selanjutnya, saya tidur. Saya kira, beberapa teman juga tidur. Tiba-tiba saya sadar, kami sudah tiba. Kami berdelapan segera turun. Hujan gerimis masih terasa. Rupanya sejak dari perjalanan tadi, hujan turun. Saya tidak sadar karena saya lelap tidur. Puassss. (bersambung)

Ravenna, 5 November 2014
Diberdayakan oleh Blogger.