Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label EROPA 4 MUSIM. Tampilkan semua postingan

MELIHAT MUSIM PANAS DARI PEGUNUNGAN DI ITALIA


Panorama pegunungan tidak selamanya identik dengan tebing tinggi, curam, dan menakutkan. Ada juga panorama indah yang membuat mata kita bersinar. Dari mata ke perasaan. Muncul rasa takjub.

Inilah yang saya alami dua hari lalu saat kami mampir di daerah pegunungan di kota Reggio Emilia dekat kota Parma. Letaknya di daerah pegunungan. Daerah yang bernama Borzano-Canossa ini tidak terlalu tinggi. Kira-kira 600-700 meter di atas permukaan laut.

Tempat ini menjadi tempat tinggi bagi kami yang tinggal di daerah dataran rendah seperti kota Parma dan Reggio sekitar 400-500 meter dpl. Maka, berada di daerah pegunungan 600-700 meter tadi bagi kami merupakan sesuatu yang baru dan menarik.

Menikmati panorama indah itu bukan sebuah kebetulan. Saya memang sudah bertanya pada sahabat saya jika saya boleh ikut mereka ke daerah pegunungan ini. Ada misa arwah dari keluarga sahabat kami. Setelah dia menjawab YA, saya pun senang. Saya sudah membayangkan betapa indahnya berada di daerah pegunungan ini di musim panas seperti ini.


Jalanannya menanjak dan bertikungan tajam. Tidak ada cara lain kecuali berhati-hati menyusurinya. Sopir kami memang hebat. Kebetulan dia dari daerah pegunungan juga. Maka, setelah ngebut di daerah perkotaan dari Parma ke Reggio, dia juga tetap ngebut ke daerah pegunungan ini.

Gereja tempat misa berlangsung tepat berada di puncak gunung ini. Dari sini pun pemandangan indah ada di mana-mana. Ke mana saja mata melihat di situlah ada pemandangan indah. Saya mencoba berputar ke 4 penjuru mata angin. Benar saja, pemandangan sama saja. Indah dipandang. Panorama seperti ini tidak saya dapat jika saya terus berada di Parma, di dataran yang luas itu.

Rupanya masih ada warga yang tinggal di daerah ini. Rumahnya sedikit dan berjauhan. Tetapi, tingkat solidaritasnya tinggi. Saat itu, banyak yang hadir dalam misa. Dari anak kecil sampai kakek-nenek.


Gerejanya kecil tetapi bangunannya kokoh. Satu dari beberapa penjaga atau pemelihara gereja ini mengatakan bahwa, gedung gereja ini dibangun beberapa abad yang lalu. Saat itu, seorang raja di daerah ini mempunyai kekuasaan yang besar. Dia pun membangun gereja ini sebagai tempat berdoa sekaligus juga sebagai bukti kekuasaannya. Selain gereja, ada juga beberapa kastil yang sampai sekarang masih eksis bangungannya.

Tinggal di daerah pegunungan ini memang asyik. Lebih-lebih saat musim panas seperti ini. Saat orang-orang kota lelah kepanasan dan lari ke laut, warga di pegunungan ini diam-diam saja bersantai di kedai kopi, pizzeria (tempat jual pizza), bar (tempat jual berbagai minuman termasuk kopi), atau piazza (halaman) di pusat kota. Merekalah yang asyik menikmati suasana musim panas ini.

Suhunya yang panas dipadu dengan angin sepoi khas pegunungan. Suhu panas ini bagi orang kota menjadi lebih panas. Bagi warga di pegunungan suhu ini pas karena dipadu dengan suhu di daerah pegunungan. Jadi, memang asyik untuk dinikmati.


Rasa-rasanya mau tinggal lama-lama di pegunungan ini. Saya hampir mengatakan pada teman saya, kita kontrak satu atau dua rumah di tempat ini untuk menikmati liburan musim panas. Saat musim dingin kita kembali ke kota.

Dari gunung ini bisa melihat panorama di sekitar. Di beberapa sisi, tampak daerah pegunungan di beberapa bagian lain di kawasan ini. Ada juga pemandangan indah ke kota yang letaknya di bawah kaki gunung. Hamparan luas juga tampak dari jauh.

Warna-warni alam musim panas makin tampak. Ada kuning dan hijau. Hijaunya rumput dan peohonan rindang. Kuningnya rumput yang kering dan juga cokelatnya tanah yang digembur. Di puncak beberapa gunung pun tampak pemandangan ini. Ada bagian hijau dan ada bagian yang kuning dan cokelat. Tampak bagian gunung yang tidak ditumbuhi pohon atau rumput. Ini adalah panorama khas pegunungan.


Warga di sini bermata pencaharian berladang dan beternak. Teman saya dari daerah ini mengatakan bahwa masing-masing keluarga di sini memiliki ternak kambing atau sapi. Ada beberapa yang jumlahnya besar sekali. Dari sinilah mereka memproduksi daging dan susu. Jadi, tinggal di gunung ini memang berarti siap-siap menjadi peternak dan pekerja di ladang.

Tanaman anggur juga menjadi favorit di daerah ini. Ada anggur untuk buah dan ada anggur untuk minuman. Anggur untuk buah tampak di mana-mana terutama di pinggir jalan. Pohonnya berjajar rapi. Sudah dipasangkan tongkat tegak tempat pohonnya menjalar. Pohon anggur ini memang butuh sandaran agar cabangnya bisa berkembang dan buahnya nanti bisa bersandar di sini. Jika tidak, pohonnya akan menjalar di tanah dan buahnya tidak banyak.


Buah anggur ini nantinya bisa dimakan sebagai buah atau juga diolah untuk minuman anggur. Kebanyakan memang langsung dimakan. Jadi, buahnya dipetik langsung dari pohon dan tidak perlu diolah lagi. Rupanya ada juga kebun anggur yang memang dikhususkan untuk memproduksi minuman anggur. Warga di pegunungan ini lebih suka memproduksi anggur buah ketimbang memproduksi minuan anggur. Meski demikian, daerah ini juga terkenal dengan minuman anggurnya.

Rumput di daerah ini masih ada yang hijau. Tak heran jika di pinggir jalan masih tampak pemandangan gulungan rumput untuk makanan sapi. Rupanya baru saja dipotong. Kira-kira baru 4 hari atau 1 minggu. Ini kiranya potongan yang ketiga. Rumput di daerah pegunungan memang lebih tahan lama ketimbang rumput di daerah kota yang suhunya agak panas.


Rumput hijau ini juga menjadi pertanda tanahnya subur. Di beberapa bagian memang ada traktor yang sedang membolak-balik tanah. Ini cara orang Italia mengawetkan tanah dan juga merayu tanah agar menghasilkan buah yang berlimpah.

Pemandangan seperti ini adalah khas daerah pegunungan. Betapa saya beruntung bisa menikmatinya. Apalagi di waktu yang tepat yakni musim panas. Mungkin ceritanya lain jika saya datang di musim dingin. Boleh jadi menggigilnya kuat dan pemandangannya bukan lagi hijau tetapu putih bersalju. Udaranya bukan lagi dari angin sepoi tetapi dari suhu rendah di musim dingin.


Terima kasih untuk ketujuh sahabatku yang bersama-sama dalam perjalanan ini. Kalian mungkin sudah biasa tetapi bagi saya ini tidak biasa. Maka, terima kasih juga sudah bersabar mendengar banyak pertanyaan saya dan menjawabnya satu per satu.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 19/8/2016


Gordi

Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana

Harapan Baru di Awal Musim Semi

harapan baru di awal musim semu

Pergantian musim kadang menjengkelkan. Dari musim gugur ke musim dingin. Dari suhu sedang ke dingin sekali. Tetapi, kadang juga mengasyikkan. Dari musim dingin ke musim semi. Atau dari musim semi ke musim panas.

Sore hari ini, mata saya berbunga-bunga melihat dedaunan mulai bertumbuh. Melekat di antara dahan pohon besar yang tampak dari jendela kamar saya. Jaraknya memang dekat sekali. Hanya 5-6 meter saja. Batang pohonnya berada di luar pagar rumah tetapi dahannya merambat hingga mendekati dinding rumah kami.

Saya menatapnya tajam. Indah sekali. Hari-hari kemarin, pemandangan ini tidak ada. Yang ada hanya dahan kering. Seperti tak ada kehidupan. Entah hidup atau mati. Tidak jelas. Hanya saja, dahan itu seperti hidup kala angin menggoyangkannya. Kini, dahan itu bergerak juga tetapi bukan dahan kering lagi. Dahan itu kini berdaun. Daun yang mulai tumbuh seperti biji kacang tanah yang melepaskan tunasnya dan muncullah daunnya. Batang itu juga tidak seperti batang kemarin yang tidak berwarna. Batang itu kini mampu memikat mata untuk memandang warna hijaunya.

dari balik jendela

Saya segera mengambil kamera saku, tak ingin perubahan ini berlalu. Maunya melihat setiap pagi dan sore. Biar mata tetap segar karena melihat hal yang baru. Memang, saya selalu melihat perubahan ini dari hari ke hari selama musim dingin ini. Penglihatan yang penuh kerinduan. Rindu musim semi di mana dedaunan masih segar. Saking segarnya, burung-burung pun mulai bertengger. Burung-burung juga ingin menampilkan dirinya. Dia menunjukkan pada manusia bahwa dia juga mau menikmati indahnya daun-daun itu. Sambil melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, dia bernyanyi seolah-olah sedang berpesta pora dan bergoyang di atas dedaunan.

Tiga empat foto didapat. Empat lima dahan dijangkaui. Semuanya menggambarkan pergantian musim. Ada yang sudah tampak kehijauannya. Ada yang masih membawa warna asli batang pohon. Ada yang mulai bertunas, ingin menunjukkan daunnya juga. Tak ada manusia yang mampu membuatnya sedemikian cepat hingga dalam sekejab daunnya keluar. Alamlah yang berproses memberi perubahan pada batang pohon itu.
 
harapan baru seperti dedaunan baru


Alam berubah, manusia juga berubah. Hari ini Eropa menandai pergantian musimnya. Dari musim dingin ke musim semi. Alam sudah mendahului perubahan ini sejak beberapa waktu lalu. Kala dingin hilang begitu saja dan matahari bersinar terang. Kadang-kadang alam dan manusia tidak bekerja sama. Yang satunya berjalan lebih cepat dari yang lain. Semuanya punya siklus hidup yang berbeda.

Kalender yang dibuat manusia menandakan perubahan itu hari ini. Sejak semalam, jarum jam dimajukan satu jam. Jam tangan harus diubah secara manual agar bisa menyesuaikan dengan perubahan ini. Maka, saya pun menyetel ulang jam tangan saya setelah selesai Misa Malam Paskah semalam. Saat waktu menunjukkan pukul 23.00, saya segera mengaturnya menjadi 24.00. Sedangkan penanda waktu lainnya tidak perlu diubah karena mampu menyesuaikan sendiri. Misalnya, penanda waktu yang disambungkan dengan radio, penanda waktu di komputer, dan jam satelit. Kata teman saya yang orang Italia, jam satelit biasanya menyesuaikan sendiri waktunya. Biasanya dia berubah pada pukul 02.00 atau 03.00 dini hari. Saat itu, waktunya berputar sendiri, maju satu jam. Jadi, kalau selama ini beda waktu antara Italia dengan WIB di Indonesia adalah 6 jam, mulai hari ini menjadi 5 jam. Perubahan ini berlaku di seluruh Eropa dan berlangsung sampai kira-kira minggu ke-3 di bulan Oktober nanti. Kira-kira berlangsung sampai 6-7 bulan.
 
baru mulai tumbuh daunnya
Ada baiknya pergantian ini. Selama beberapa hari belakangan, terang datang lebih cepat di pagi hari. Di musim dingin, bahkan jam 7.30 masih gelap. Pelan-pelan terang datang lebih awal, jam 6 sudah terang. Demikian juga pada sore hari. Hari-hari ini, jam 18.30 masih terang. Padahal, biasanya pukul 17.30 sudah mulai gelap. Perubahan ini mengharuskan warga Eropa untuk menggunakannya sebaik mungkin. Maka, jam kerja pun dinilai tambah 1 jam dan jam istirahat berkurang 1 jam. Menurut mereka, tidak apa-apa. Toh, terang juga makin panjang. Matahari bersinar makin lama ketimbang di musim dingin. Jadi, baik kalau waktu itu digunakan untuk bekerja.

Esok lusa, daun-daun itu akan bertambah. Dahan-dahan masih akan menampakkan warna barunya yakni hijau. Yang kini masih berdahan akan berdaun. Dan, daunnya akan bertumbuh cepat sehingga menjadi rimbun di musim panas. Batang pohon berdahan saat ini sedang berharap akan datangnya dedaunan yang menghias tubuh mereka. Dahan itu seperti manusia yang merindukan keadaan damai. Dahan tak berdaun memang bukan saja tidak indah tetapi seperti menderita. Bayangkan dingin pun menembus kulit dahan. Matahari juga mengenai kulitnya. Untung saja matahari tidak bersianar lama dan tidak mengeluarkan panas. Dengan daun, dahan itu akan terselimuti. Hujan pun tak masuk. Matahari juga tak masuk. Jadi, selama musim semi dan musim panas, dahan dan batang pohon sedang menikmati zaman emasnya. Zaman di mana, dia bersenang-senang. Boleh tidur atau mati sementara sebab dedaunanan menyelimutinya dari luar. Itulah sebabnya dia berharap agar dedaunan itu segera memenuhi dahannya.
 
Masih berharap untuk daun baru
Ah betapa indahnya pergantian musim ini. Semoga manusia juga seperti dahan dan batang pohon mampu berharap untuk yang lebih baik. Bukan kembali ke belakang, mengulang kisah buruk.

Salam cinta lingkungan, sekadar berbagi yang dilihat.

PRM, 27/3/2016
Gordi

*Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana



Menikmati Indahnya Bunga Musim Semi


Alam sudah menyediakan semuanya. Tak ada yang tahu, kapan musim akan berganti. Hanya alam yang tahu. Sehebat-hebatnya manusia, dia tak akan bisa memastikan kapan alam akan berubah.

Alam memang bekerja di luar prediksi manusia. Perubahan yang terjadi padanya cukup menunjukkan bahwa, alam juga mempunyai siklusnya sendiri. Manusia tentu dengan intelektualnya bisa memahami alam. Manusia tahu, paling tidak, siang dan malam akan berganti. Orang buta pun merasakan pergantian ini. Meski tidak melihatnya, dia bisa merasakan hangat dan dinginnya alam saat pergantian ini. Demikian juga dengan gerhana yang baru saja dinikmati oleh sebagian besar orang di Asia. Manusia dalam hal ini mempunyai kemampuan yang lebih untuk memahami alam.

Meski demikian, alam sebenarnya sulit dipahami. Alam tidak berintelek seperti manusia, tetapi dia juga tahu memberikan reaksi terhadap situasi sekitarnya. Kala alam terlalu panas, sebagian dari dirinya akan meleleh bahkan sampai mencair. Demikian sebaliknya, kala alam terlalu dingin, sebagian dari dirinya akan membeku bahkan keras sekali seperti es batu.


Perubahan berupa reaksi seperti inilah yang sebenarnya tidak bisa dipahami sepenuhnya oleh manusia. Manusia dengan teknologi canggih dan kemampuan inteleknya berusaha memahami perubahan ini. Kadang berhasil, kadang tidak. Pada akhirnya, manusia harus mengalah. Alam lebih besar dari kemampuan manusia. Manusia sebaiknya harus mengakui bahwa alam, kadang-kadang bekerja di luar kemampuan manusia. Maka, manusia meski kelihatan pintar dan mempunyai teknologi canggih, sebaiknya tidak sombong. Jangan menganggap semua perubahan pada alam mudah dipahami. Sebaiknya tetap waspada bahwa alam lebih besar dari kemampuan otak manusia. Teknologi canggih tidak akan bisa membawa manusia untuk memahami alam yang rumit. Berbagai perubahan pada alam memang, kadang-kadang merepotkan manusia untuk mencari solusinya.

Perubahan ini juga yang sedang dirasakan saat ini. Primavera, atau musim semi, belum tiba, tetapi tanda-tandanya sudah muncul. Yang tampak adalah bunga-bunga yang mekar dengan keindahannya. Ada yang merah muda dan ada yang putih. Banyak orang berkomentar, primavera ini datangnya terlalu cepat. Seharusnya paling cepat pada akhir bulan Maret dan awal bulan April. Bunga-bunga indah yang berusia singkat itu seharusnya datang pada saat-saat itu. Tetapi, kenyataannya tidak. Sejak Senin lalu, pemandangan putih dan merah muda, sudah merambah ke mana-mana. Alam sedang berubah. Sebentar lagi yang kelihatan tak berdaun itu, akan berbunga semua dan akan hijau kembali.



Sejak hari Senin lalu, saya sudah mengincar akan mengabadikan bunga-bunga ini dalam kamera saku saya. Sayang, selalu hujan dan saya tak punya kesempatan. Hari inilah kesempatan itu datang. Sore hari, cuaca cukup cerah, segera saya menggunakan kesempatan ini. Dari luar rumah, terus ke jalanan umum, dan dekat taman kota. Di sinilah pemandangan putih dan merah muda itu muncul.

Menjadi unik karena dua warna ini berada di antara ranting tak berdaun dan tak berwarna atau abu-abu. Dari jauh, yang merah muda sudah tampak. Mudah dikenali karena mencolok. Demikian yang putih akan menjadi bercahaya saat matahari menyinarinya. Harus dikatakan bahwa inilah keindahan alam. Mungkin di Indonesia, keindahan seperti ini biasa-biasa saja. Toh sering melihatnya sehingga jadi biasa. Di sini, kesempatan seperti ini hanya sekali setahun, di antara empat musim yang ada. Jadi, jika telat menikmatinya, hilanglah kesempatan itu. Saya jadi tahu ketika seorang sahabat saya kemarin segera mengajak saya untuk jalan-jalan sambil menikmati pemandangan alam nan indah ini. Meski tidak sempat menikmatinya kemarin, hari ini saya menikmatinya.


Puas. Melihat yang luar biasa indah. Bertambah indah karena pemandangan selama ini begitu berbeda. Dari tak berdaun ke berbunga. Dari tak berwarna sama sekali menjadi mencolok. Dari yang abu-abu menjadi putih berkilau. Alam memang seperti ini. Memberi ketakjuban pada manusia. Tak ada yang menyuruhnya untuk memberi dua warna indah ini. Hanya dia sendiri yang tahu. Pemberian yang luar biasa ini menjadi sesuatu yang berharga. Hanya dia yang bisa membuatnya. Dan manusia hanya mampu menikmati keindahannya. Tak ada manusia yang menciptakan pemandangan indah seperti yang diberikan alam.


Andai saya bisa, saya akan mengajak saudara-saudari saya yang buta untuk menikmati keindahan alam ini. Sayang, saya tidak bisa membuat mereka melihat pemandangan ini. Mungkin mereka punya cara lain untuk menikmati alam. yang kiranya berbeda dengan cara saya dan kita semua menikmatinya yakni dengan melihatnya dengan mata kita.

Keindahan alam ini bukan saja membuat saya takjub tetapi sungguh saya harus berterima kasih pada alam. Alam yang tahu apa yang manusia butuhkan. Manusia tentu membutuhkan keindahan ini. Kiranya tidak jujur jika mengatakan, manusia tidak membutuhkan keindahan alam. Bagi orang desa pun, keindahan seperti ini menjadi makin indah ketika berulang kali melihatnya. Apalagi bagi orang kota, yang mungkin karena area alamnya kurang jarang melihat keindahan seperti ini.


Kalau alam saja bisa memberikan yang indah seperti ini pada manusia, pasti Sang Pencipta alam punya kekuatan yang luar biasa lagi. Pencipta itulah sebenarnya yang memampukan alam untuk memberi keindahan pada manusia. Maka, manusia seharusnya sampai pada Sang Pencipta. Alam hanyalah media atau perantara antara Pencipta dan manusia. Sebagaimana keindahan alam bisa dinikmati oleh semua manusia, Pencipta kiranya tidak membatasi dirinya pada nama tertentu. 

Keindahan alam itu seolah-olah mencemooh manusia yang menganggap hanya Pencipta-nya (Tuhan-nya) saja yang benar. Pencipta tidak membatasi dirinya pada nama A atau B. Sebagaimana bunga Merah tidak membatasi dirinya pada kelompok merah saja dan bunga Putih pada kelompok putih saja, demikianlah Pencipta tidak membatasi dirinya pada kelompok tertentu. Sungguh sayang, jika manusia yang hanyalah ciptaan—seperti alam—menganggap dirinya penguasa yang berhak menentukan kekuasaan Sang Pencipta sehingga hanya pada kelompoknyalah Pencipta itu berkenan. Ini kiranya tidak benar. 


Bunga indah dan keindahan itu untuk semua manusia, maka Pencipta juga untuk semua manusia. Entah kamu menyebutnya Merah muda atau Putih, tidak jadi soal. Dia tetaplah Pencipta seperti bunga indah yang Merah muda tetap merah muda dan yang Putih tetap putih.

Salam cinta alam. Sekadar berbagi yang dilihat.

PRM, 17/3/2016

Gordi

*Dipublikasikan pertama kali di sini

Belajar Kehidupan dari Pohon tak Berdaun



Jika ditanya, apa ciri khas musim dingin di Eropa? Salah satu jawaban adalah pohon-pohon yang tak berdaun. Masih banyak jawaban lainnya tapi jawaban yang ini yang paling pasti. Sudah jadi bayangan setiap orang, jika musim dingin identik dengan pohon tak berdaun.

Sabtu pagi kemarin, saya menyaksikan pohon-pohon tak berdaun itu. Mulai dari melirik dari jauh sampai saya mendekatinya. Tidak lama. Hanya 45 menit. Boleh dibilang 45 menit yang berharga. Saya keluar dari rumah membawa serta jaket, topi untuk musim dingin, dan syal di leher. Tidak berkaus tangan. Tentu kaki bersepatu. Kaus tangan ditinggalkan sebab saya mau memotret pohon-pohon tak berdaun itu. Apalagi matahari menyinarkan sedikit cahayanya. Meski matahari amat pelit, cahaya yang ada membuat hati ini bergembira.



Sebenarnya bukan kali pertama, saya bertemu pohon-pohon ini. Sering kali saya lewat di sini. Dengan sepeda atau berjalan kaki. Rasa-rasanya memang saya sering berkontak dengan pepohonan ini. Tapi pertemuan hari ini cukup unik.

Saya memandang dari jauh, dari seberang jalan. Lalu, saya mendekat. Saya tidak mau berkata-kata, tidak juga berdecak kagum, tidak juga menghakimi, tidak juga merasa iri. Saya membiarkan pohon-pohon itu menampakkan keasliannya pada saya. Saya juga tidak mengeluarkan kamera saku yang sudah saya siapkan di saku jaket. Antara saya dan pohon-pohon itu memang hanya ada ruang. Saya tidak mau menyebut ruang itu sebagai keindahan. Saya hanya mau menikmati ruang antara saya dan pohon-pohon itu berlama-lama. Jadilah saya dan pohon-pohon tak berdaun itu saling tatap.

Dalam dialektika orang Eropa, saya sedang menatap pohon tak berdaun itu. Maka, saya yang aktif sedangkan pohon itu pasif. Sepintas memang pohon itu seperti mati. Tak bergerak, tak bersuara. Biasanya pohon bersuara kala daunnya bergerak disapu angin. Pohon juga bergerak kala dahannya bergoyang diterpa angin. Orang Eropa dengan rasionalismenya boleh mengatakan demikian. Orang Timur (Asia) sebaliknya menilai pohon-pohon itu sedang menampakkan diri pada saya. Jadi, bukan saya yang sedang memandang (yang aktif) tetapi pohon-pohon itulah yang menampakkan diri (yang aktif). Penilaian ini bisa tercapai hanya dalam pengalaman. Maka, orang Timur memang sarat dengan hal-hal yang berbau empiris.



Saya tidak mau berkutat dalam cara pandang yang berbeda ini. Saya hanya mau menatap pohon-pohon ini. Dalam tatapan ini, saya juga sebenarnya melihat penampakan pohon-pohon itu. Jadi, bukan saya saja yang sedang memandang tetapi pohon-pohon itu juga yangg sedang menampakkan diri. Dari pertemuan inilah saya dapatkan keindahan dan arti hidup yang tiada tara.

Betul-betul mengagumkan pemandangan pohon-pohon itu. Saya tak menemukan pemandangan ini di Indonesia. Biasanya pohon tak berdaun di Indonesia diibaratkan dengan kematian. Pohon tak berdaun berarti pohon mati. Di sini rupanya lain. Pohon tak berdaun itu rupanya hidup. Dan bukan saja sekadar hidup, tetapi juga masih bertenaga, masih mampu membuat kreasi baru, menciptakan keindahan. Memang, pohon tak berdaun itu menampakkan keindahannya.



Pohon itu ibarat manusia yang berkepala botak. Boleh jadi ada yang menilai aneh. Kepala kok tak ber-rambut. Demikian dengan pohon tak berdaun. Pohon kok tak berdaun. Tetapi, kalau kita membuang penilaian sepihak seperti ini, kita menemukan keindahan dan relasi yang tiada tara. Orang Eropa atau Italia pada umumnya tidak memandang aneh terhadap orang berkepala botak. Bagi mereka, berkepala botak atau tidak, orang itu tetaplah sama dengan yang lain. Ada kesamaan umum yakni makhluk hidup yang diciptakan. Maka, kebotakan bukanlah keanehan. Kepala botak dalam hal ini ya sama dengan kepala ber-rambut.

Orang Eropa memandang pohon tak berdaun seperti memandang laki-laki tak ber-rambut. Tidak ada bedanya. Itulah sebabnya, pohon tak berdaun pun bukan saja dihargai/dihormati tetapi juga dirawat. Ini kiranya menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia yang memiliki hutan luas dengan berbagai jenis pohon tetapi rakus membakar hutan. Di sini, pohon tak berdaun pun dipelihara karena memang pohon itu juga berhak untuk hidup. Kita seharusnya belajar dari mereka, menghargai pohon yang hidup. Jarang sekali pohon tak berdaun berkeliaran di hutan Indonesia. Kalau pun ada, pasti ada orang yang membuatnya demikian. Di sini, pohon itu tak berdaun karena alam membuatnya demikian. Maka, alam sebenarnya adalah yang berkuasa atas pohon-pohon itu. Kita sebagai sesama makhluk hidup harus menghormati alam yang mengatur semua ini.



Supaya tulisan ini tidak membosankan, saya berhenti di sini. Biarlah foto-foto yang berbicara selanjutnya. Sebab, sebagaimana pohon-pohon itu dekat dengan manusia, foto-foto ini kiranya mampu berbiacara dari dekat kepada kita. Selamat menikmati dan selamat berakhir pekan.

PRM, 6/2/2016
Gordi

*Dipublikasikan pertama kali di blog kompasiana



Bunga Cantik Penggoda Mata



Bunga cantik menjadi incaran banyak orang. Sayangnya tidak banyak orang yang merawat dan menanam bunga. Untuk menjadi pecinta bunga memang tidak mudah. Penjual bunga yang sukses bukan saja dia yang mampu menjual seluruh bunganya dalam sehari. Penjual bunga yang sukses mestilah dia yang punya hati untuk mencintai bunga. Cinta itulah yang membuat dia bukan saja sekadar menjual tetapi menanam, merawat, membuatnya cantiK hingga menjualnya kepada orang lain.

Bunga mungkin termasuk salah satu tumbuhan yang disepelekan. Maksudnya, tidak banyak yang menaruh perhatian pada bunga. Banyak yang mengabaikan bunga. Biarkan saja bunga itu tumbuh sendiri, menghasilkan wangi indah dan warna menarik, lalu bunga itu pun layu dan mati sendiri. Bunga seperti ini sering kita temui dan kita pun memberinya label seperti bunga tamu. Bunga yang seperti tamu yang datang tak diundang dan pergi tak pamit. Meski demikian, kita tidak dapat memungkiri jika banyak pecinta bunga. Entah pecinta sekadar cinta, sekadar rasa tertarik, sekadar mengagumi, dan pecinta ala kadar lainnya. Bunga—bagaimana pun—mendapat tempat di hati banyak orang.



Waktu liburan musim panas kemarin, saya sempat tinggal beberapa hari di daerah pegunungan. Banyak hal menarik yang kami lihat di sana. Saya sendiri mengagumi banyak hal ketika menyusuri berbagai tempat sekitar. Salah satu hal yang saya kagumi adalah banyaknya bunga yang indah. Tentu saya bukan pengagum balita (bawah 5 tahun) dalam hal ini. Saya memang mengagumi keindahan bunga yang saya lihat. Bukan kali ini saja. Kali sebelumnya juga demikian.

Kekaguman kali ini muncul karena bunga yang saya lihat justru bunga pot. Hanya berupa pot-pot yang ditaruh di luar jendela kamar rumah bertingkat atau juga di balkon kamar hotel. Rumah di sini maksudnya apartemen di gunung. Rumah ini biasanya banyak dihuni para wisatawan pada musim panas. Saya perhatikan begitu banyaknya pot yang ada. Diletakkan di luar jendela pas di bagian ambang jendela. Di Italia, di luar jendela yang paling luar biasanya ada bagian jendela tempat meletakkan daun jendela. Bagian ini biasanya dibuat dari sebilah tembok berbentuk papan dengan berbagai ukuran. Ukurannya bermacam-macam tetapi bentuknya pipih seperti papan. Bagian ini dipasang tepat di bagian bawah jendela. Fungsinya sederhana yakni menjadi batu pijakan untuk daun jendela. Maklum, rata-rata rumah di sini berjendela ganda. Ada kaca berlapis di bagian dalam dan ada daun jendela bagian luar.



Pot-pot bunga biasanya diletakkan di bagian ini tepat di luar daun jendela. Di tempat yang kami kunjungi, saya melihat semua pot berjenis sama, bahkan bunga juga berjenis sama. Warnanya pun seragam. Bayangkan 1 hotel berlantai 5. Masing-masing lantai memiliki 10 kamar. Total 50 kamar. Dari 50 kamar ini, katakanlah masing-masing punya jendela 3. Total jendela 150. Tentu hanya 1 yang akan ditempati pot bunga. Biasanya jendela kamar yang paling strategis. Biar penghuninya merasa nyaman, menikmati pemandangan sambil menghirup wangi bunga dan melihat keindahan warna bunga itu.

Kesan saya hanya satu, indah sekali. Kok bisa ya? Ya, seperti dikatakan tadi. Untuk menjadi penjual bunga tidak cukup menjual habis bunga dalam sehari tetapi mesti punya hati untuk mencintai bunga. Saya yakin pemilik apartemen ini bukan orang yang tidak cinta bunga. Atau memang mungkin sudah diatur sedemikian rupa untuk memasang jenis pot dan bunga yang sama pada musim panas sehingga hasilnya pun indah dan cantik. Apakah mereka pura-pura menampilkan keindahan di musim panas saja? Rasa-rasanya tidak. Mereka memang pecinta bunga. Saking cintanya, mereka menyalurkan cinta itu untuk merawat bunga yang ada di pot itu.



Pekerjaan ini mudah saja tetapi kalau tidak dikerjakan dengan cinta, hasilnya kurang bagus. Sebaliknya, dengan cinta, pot bunga sederhana itu justru menggoda hati pengunjung untuk menikmati keindahan bunga itu. Sekian saja dulu tentang bunga pot cantik penggoda mata.



Salam cinta lingkungan.

PRM, 1/2/2016
Gordi

Dipublikasikan pertama kali di sini BUNGA CANTIK PENGGODA MATA



Berburu Dedaunan Kuning di Musim Gugur



Untuk kita yang tinggal di daerah tropis, pergantian musim tidaklah begitu terasa. Hampir semua tahu, kapan musim hujan dan kapan musim kemarau. Semua juga tahu, kalau hujan, apa yang harus dibuat. Demikian saat kemarau, apa yang harus dibuat. Petani di ladang sudah siap dengan bibit padi sesaat sebelum musim hujan datang. Demikian dengan petani kopi, siap ke ladang untuk memetik kopi, saat musim kemarau akan tiba. Kalau pun ada pergantian sedikit, tidak jadi soal. Sebab, paling-paling akan kembali seperti semula, berkutat antara 2 musim yang sudah jadi familiar.



Pergantian musim seperti ini tidak terasa di bagian dunia berempat musim. Rasa-rasanya dunia berempat musim lebih tertarik dengan proses pergantian musim seperti ini. Sebagai pendatang baru di belahan bumi berempat musim, saya sungguh kaget dengan perubahan yang ada. Pergantian antara musim sangat terasa. Mulai dari panas sekali k emulai dingin, lalu dingin sekali, kemudian mulai hangat, lalu panas lagi. Tubuh saya harus beradaptasi ekstra dengan perubahan yang ada. Kadang-kadang rasanya lucu. Kok kepala ditutup topi segala, kok berjaket tebal lebih dari 1 dan 2 segala, kok bibir dioles lipstik segala, lalu kok di musim panas semua seperti terbuka semua alias ditutup sebagian saja. Semua ini memang indah pada waktunya.



Beberapa waktu lalu, saya diajak oleh seorang sahabat untuk menikmati masa-masa menjelang akhir musim gugur. Saat musim gugur, dedaunan pohon berjatuhan dan mati. Tak jarang, pohon tak berdaun pun menghiasi mata kita saat memandang sekitar. Tampak seperti pohon beranggas. Pohon beranggas di daerah tropis menjadi tanda bahwa pohon itu mati, atau sudah mati, atau menuju kematian. Pohon beranggas di daerah berempat musim seperti Eropa rupanya bukan pohon menjelang mati, tetapi pohon yang sedang beradaptasi. Dengan menjatuhkan daunnya, pohon itu sedang beradaptasi menghadapi musim dingin yang menderanya.



Tetapi, di sinilah hal menariknya. Boleh dibilang antara kematian dan keindahan. Sebelum mati, dedaunan itu menciptakan sebuah keindahan alami. Ya, dedaunan kuning itu membuat alam jadi indah. Dipadu dengan langit biru, tanah kering, angin sepoi, matahari bercahaya, dedaunan kuning itu menjadi tiada duanya. Indahnya bukan main.

Saya mula-mula bertanya pada sahabat ini, apa sih indahnya alam saat ini? Hanya guguran dedaunan yang ada. Bukankah itu paling-paling hanya daun yang tak berguna selain untuk dijadikan pupuk saja? Kata teman saya, come and see, vieni e seguimi.

Dengan mobil FIAT-nya, kami berputar di pusat kota Parma. Rencana semula ke gunug dibatalkan karena kami melihat dedaunan kuning di pusat kota. Kota Parma memang memiliki banyak pohon di sekitar jalanan di pusat kota. Dedaunan inilah yang jadi objek penglihatan kami. Sungguh sebuah keindahan yang tiada duanya. Kata sahabat saya, pemandangan ini hanya berlangsung sekali setiap tahun. Hanya pada musim gugur. Setelah itu, kita harus menunggu tahun depan lagi untuk bisa melihat keindahan alam yang ada. Rupanya musim gugur itu seperti hidup antara dua dunia, antara kematian dan keindahan. Daun yang gugur rupanya harus melewati tahap keindahan dengan warna-warninya yang kuning.

PRM, 22/1/2015

Gordi

*Diposting pertama kali di sini

Indahnya Matahari di Musim Dingin



Matahari bukan hal luar biasa bagi kita yang hidup di daerah tropis. Sudah jadi sesuatu yang tentu bahwa matahari bersinar setiap hari. Kecuali saat musim hujan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sepanjang tahun, matahari bersinar bagi kita.

Hal ini beda dengan mereka yang hidup di daerah 4 musim. Matahari bagi mereka boleh jadi sesuatu yang luar biasa. Sebab, pada musim tertentu matahari sama sekali tidak tampak. Ada kalanya, sepanjang 2 minggu atau bahkan berbulan-bulan sama sekali mereka tidak terkena sinar matahari.



Hari-hari ini, di Eropa umumnya dan di Italia khususnya, pemandangan ini muncul. Ini menjadi biasa bagi mereka tentunya di musim dingin seperti saat ini. Matahari dalam 2 minggu belakang sama sekali tidak muncul. Hanya sekali di bulan Januari ini, tanggal 6 yang lalu, ada matahari dari siang sampai sore hari. Setelahnya tidak ada lagi. Kemarin, mulai muncul lagi. Inilah yang menjadi satu hal luar biasa bagi penduduk Eropa.

Melihat matahari di musim dingin bagi mereka adalah hal luar biasa. Karena luar biasa, mestinya digunakan dengan baik. Kesempatan langka. Itulah sebabnya, anak-anak sekolah di beberapa tempat sengaja menggunakan kesempatan ini untuk bermain sepuasnya di luar kelas. Demikian juga pedagang kaki lima, bergegas menjual dagangan mereka. Mumpung ada pengunjung.



Saya kebetulan ada kesempatan untuk mengabdikan beberapa foto pada pagi dan siang ini di beberapa tempat. Seperti di piazza museo di kota Reggio Emilia dan dalam perjalanan pulang ke Parma. Dalam dingin namun diterangi mentari pagi, saya keluar dari kampus dan jalan-jalan ke pusat kota. Matahari memang seperti tampak pada pagi hari. Padahal waktu menunjukkan pukul 10 sampai 12 siang. Itulah bedanya dengan daerah tropis. Meski tampak seperti pagi, bagi penduduk Eropa, asal ada matahari saja, itu sudah cukup. Tidak panas seperti matahri tropis tidak masalah. Yang penting ada matahari dan bumi disinari terangnya.



Untuk tidak memperpanjang kata, saya tampilkan di sini beberapa foto pilihan yang saya buat. Bukan fotografer tetapi saya senang memotret.



Selamat sore menjelang malam untuk Indonesia yang mungkin masih diselimuti duka khususnya di Jakarta.

PRM, 15/1/2016

Gordi

*Dipublikasikan pertama kali di sini 
Diberdayakan oleh Blogger.