Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label SUMATERA BARAT. Tampilkan semua postingan



Bersama Ramayana ke Yogyakarta

foto oleh ANGEL Proteus
Saya memang memilih kelas supereksekutif semata-mata demi kenyamanan. Dan memang, malam ini betul-betul nyaman. 

Saya bisa istirahat tenang. Apalagi sebelumnya saya minum obat untuk tidur. Obat ini saya bawa dari Siberut. Di sana saya minum sebelum naik kapal ke Padang. Betapa obat ini mijarab untuk menghilangkan mabuk kapal kecil itu. Obat mujarab itu kini saya gunakan selama naik bis ini.

Saya juga bisa istirahat karena pada awal perjalanan, kru bis membagikan snack, makanan ringan berupa roti, kacang, dan minuman. Saya segera menghabiskan semuanya sebelum tidur. Makanan ini mengisi lambung dan membuat lambung saja aman, tidak mengganggu perjalanan ini.

Saya bangun menjelang perhentian untuk makan malam. Saat makan malam, saya mengambil porsi yang pas-pasan saja. Kebetulan menunya kurang enak. Tidak ada daging. Hanya ada ikan. Kalau Safari Dharma Raya ada dagingnya. Mungkin kami dapat porsi ikan untuk kali ini. Atau juga untuk bis Ramayana memang hanya tersedia porsi ikan.

Tentu kami hanya menunjukkan tiket yang ada kupon makan kepada petugas rumah makan. Dengan itu, kami mengambil makanan. Tak perlu membayar. Tetapi ya menunya tidak bisa dipilih-pilih karena semuanya sudah tersedia. Yang disediakan itulah yang kami nikmati.

Setelah makan, kami jalan lagi. Dari sini saya tidur hingga turun di Yogyakarta esok paginya. Pagi-pagi sekali kami tiba di terminal Jombor. Pukul 4.30 pagi. Saya berhenti sebentar di terminal kemudian mengambil ojek ke rumah. Saya tiba kembali di rumah kami di Yogyakarta pukul 5 pagi. Woao....perjalanan ini sudah selesai. Saya telah kembali dari Siberut.

Terima kasih Tuhan untuk perlindungan-Mu selama perjalanan ini. Dua minggu saya keluar dari rumah ini. Saya tiba kembali karena berkat-Mu. Sekali lagi terima kasih Tuhan. (habis)

Yogyakarta, 21 Mei 2013
Gordi


Sebelumnya:



















Hirup Udara Jakarta selama Lima Hari

Foto ilustrasi oleh Antonius Anton
Saya tinggal di Jakarta selama 5 hari. Bukan saja tinggal sementara tetapi punya urusan penting. Saya harus membereskan surat-surat kewargaan. Kartu keluarga sebagai warga Cempaka Putih dan juga KTP elektronik. 

Meski sudah 5 hari, KTP elektronik belum bisa diproses. Hanya Kartu Keluarga yang ada. Saya tidak mungkin tinggal lama-lama di sini. Jakarta bukan tempat tugasku meski saya juga pernah hidup di sini selama 6 tahun.

Daripada sekadar tinggal, saya juga membuat beberapa kegiatan. Membantu teman-teman, membaca buku kesukaan saya, berkunjung ke toko buku, menulis di blog, dan berjumpa teman. Semua ini saya lakukan semata-mata karena sudah direncanakan. Saya membuat janji bertemu. Saya merencanakan untuk mengunjungi toko buku. Saya juga merencanakan untuk menulis dan membaca.

Karena rencana, saya bertemu teman saya di Monas. Rencana kami terwujud kala sore hari duduk di Monas sambil menikmati musik Kithana. Kithana tampil untuk menghibur penonton di Monas. Band ini hadir karena ada acara ulang tahun salah satu BUMN di negeri ini. Suasana ramai dirasakan oleh semua pengunjung Monas sore ini.

Kami bukan saja menikmati tontonan dan hiburan gratis ini. Kami juga sempat berbincang-bincang. Membicarakan soal pendidikan. Dia mengambil program master dan sekarang tinggal menyusun tesis.

Teman saya ini memang punya minat besar dalam pendidikan. Selain kuliah ia juga mengajar di salah satu sekolah elit di kawasan Selatan Jakarta. Dua kali seminggu dia ke sana. selain itu, di rumahnya, ada pendidikan anak usia dini, PAUD. Dia juga terlibat di sini. Baginya, PAUD ini punya peranan penting. “Aku ingin agar anak-anak mendapat pendidikan yang layak sejak mereka kecil,” katanya di sela-sela perbincangan sore itu.

Jumlah muridnya bertambah dari tahun ke tahun. Awalnya kurang dari 10 orang. Sekarang bertambah sampai 20-an orang untuk tahun ini. Rencananya tahun depan akan bertambah. Maju terus teman. Wujudkan cita-citamu.

Setelah menikmati udara Jakarta ini, saya kembali ke Yogyakarta. Senin, 20 Mei, saya diantar oleh teman saya ke terminal Rawamangun. Dari sana saya akan ke Yogyakarta bersama bis Ramayana. Bis yang bermarkas di Muntilan, Jawa Tengah. Bis ini masih baru. Pelayanannya oke. Hampir sama dengan pelayanan bis Safari Dharma Raya. Pukul 4.30, kami keluar dari terminal. Seperti apakah perjalanan dengan bis Ramayana ini? (bersambung)

Jakarta, 20/5/13
Gordi


Sebelumnya:


















Ke Jakarta dengan Lion Air

bandar udara Minangkabau, foto oleh awesome sumbar
Kamis, 15 Mei 2013. Sekali lagi dengan Lion Air. Maskapai ini rupanya jadi favorit. Banyak pesawat barunya. Dia juga melayani banyak rute. Dan, saya untuk ketiga kalinya naik maskapai Lion Air. Dari Makasar ke Yogyakarta, dari Yogyakarta ke Jakarta, dan ini dari Padang ke Jakarta.

Dalam Lion Air ini, saya bersama sahabat saya, Rm Tri Mulyono SX. Kami sama-sama ke Jakarta. Dia akan ke Bintaro dan saya akan ke Cempaka Putih. Dia dijemput oleh sabahat dari Bintaro sedangkan saya naik DAMRI. Di sinilah bedanya. Tetapi kami berangkat bersama dari Padang hingga turun dari pesawat Lion Air di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Dari rumah di Padang, kami diantar oleh sahabat kami, Br Manuci SX ke bandara Minangkabau. Naik mobil Kijang Inova baru. Mobil baru ini gesit dan cepat. Badannya agak lebar. Raungan mesinnya tampak jantan. Mobil ini memang masih baru. Wajar kalau tenaganya masih segar. Apalagi Br mengendalikannya dengan kencang.

Kami turun di bandara. Saya mengambil tas-tas kami dalam mobil. Kemudian, masuk ruang check in. Lancar. Hanya berhenti sebentar di antrian check in pertama. Di ruang tunggu berhenti hanya 30 menit saja. Setelahnya, kami masuk pesawat.

Penerbangan Padang-Jakarta ini memakan waktu 1,5 jam. Mengasyikkan. Ada perbedaan dengan menumpang Sriwijaya Air waktu datang dari Jakarta. Di situ penumpang diberi snack. Di sini tidak. Saya ingat waktu terbang bersama Lion Air dari Makasar, selama 2 jam, penumpang diberi snack. Mungkin karena penerbangannya kurang dari 2 jam. Atau mungkin karena penerbangannya masih pagi, sebelum jam 12. Segala kemungkinan bisa dibuat.

Meski tanpa snack, saya bisa tidur sebentar dalam perjalanan. Suhu dalam pesawat yang amat dingin membuat saya tertidur. Untung ada jaket. Menghangatkan badan, menahan dinginnya suhu. Meski masih terasa dingin.

Sampailah kami di bandara Cengkareng. Kami keluar cepat karena tidak ada bagasi. Kami membawa masing-masing 2 tas kecil. Tidak perlu masuk bagasi. Sahabat saya menunggu jemputan sedangkan saya menuju loket DAMRI.

Saya membeli tiket tujuan Rawamangun dengan harga Rp 25.000. Menunggu selama 15 menit, lalu jalan. Kali ini saya beruntung. Satu kali saya menunggu hingga 30 menit. Naik mobil DAMRI terasa nyaman. AC-nya dingin. Jalannya nyaman juga. Kali ini tidak macet.


Saya turun di perempatan Rawamangun. Ambil bajaj dari Rawasari ke Cempaka Putih Raya. Bayar Rp 7.000. terima kasih tukang bajaj, engkau mau mengantarku. Tiba kembali di rumah impian. Saya makan siang lalu istirahat. Berapa lama dan apa saja yang saya lakukan di Jakarta? (bersambung)

Jakarta, 15/5/13
Gordi


Sebelumnya:


Diberdayakan oleh Blogger.