Halloween party ideas 2015

Kapal Kecil yang Berjasa Besar

gambar dari google
Perjalanan selanjutnya ke Siberut. Di tengah hujan deras, kami berangkat ke sana. Diantar Pak Man. Turun di sana dalam rintik hujan. Kami harus berlari menuju kapal Sumber Rejeki Baru, yang membawa kami ke Muara Siberut-Mentawai. Di pelabuhan sederhana ini, banyak buruh, yang mengangkat barang penumpang ke kapal.

Menurut konfrater saya, mereka itu preman. Mengangkat barang dengan kasar kemudian meminta bayaran seenaknya saja. Kami memang tidak membawa barang. Kami bisa menenteng sendiri tas ke kapal. Jalan menuju ke kapal hanya berupa papan yang dipasang dari pembatas pelabuhan ke pintu kapal. Wah papan ini sederhana tetapi cukup ampuh mengantar penumpang ke kapal. Pelabuhan ini memang bukan pelabuhan layak dan resmi. Ini hanya pelabuhan sederhana jauh dari layak.

Kami mencari kamar di kapal. Di tiket kami dapat kamar nomor J3 dan 4. Kami dapat kamar itu kemudian menaruh tas di situ. Setelahnya, kami bincang-bincang dengan penumpang lainnya di beranda dalam kapal. Ada beberapa yang kenal dengan konfrater saya yang selama 6 tahun bekerja di Siberut Selatan-Sikabaluan. Mereka bicang-bincang kadang-kadang pakai bahasa Mentawai. Saya hanya mendengar sambil menyerap banyak informasi.

Pukul 16.00, kapal bergerak. Petugas kapal seperti ABK dalam kapal besar mengecek tiket. Kapal ini hanya kapal kecil, dari kayu. Lebih kecil dari kapal feri yang dikenal sebagai kapal antar-pulau. Kapal ini milik swasta.

Kapal ini kecil tetapi cukup berjasa bagi orang-orang Siberut. Ini satu-satunya kapal yang berlayar teratur ke Pulau di Sebelah Barat kota Padang ini. Jangan heran jika penumpangnya banyak. Ada yang membawa barang belanjaan, ada pula bule yang berkunjung ke Mentawai, ada yang penumpang biasa seperti kami.

Sore hari, saya naik ke tempat tidur yang ada di kamar karena kantuk. Jangan bayangkan kasur empuk dan tempat tidur lebar. Ukurannya hanya selebar bahu orang dewasa. Mungkin kurang dari 1 meter dan panjang 2,5 meter. Kasurnya juga tua dan kumal. Tidak pernah dijemur. Kata teman saya, kadang-kadang ada kutu busuk di kasur ini. Inilah kamar sitimewa dalam kapal ini. Sederhana dan jauh dari standar kapal besar tetapi paling diminati. Bayarannya pun mahal. Kami membayar masing-masing Rp. 125.000.

Karena kapalnya oleng kecil-kecilan, saya pusing. Saya tidak bisa makan malam itu. Konfrater saya bisa makan sedangkan saya tidur saja di tempat tidur. Sempat duduk tapi tidak tahan pusing. Tidur sampai tiba di pelabuhan Siberut esok paginya, pukul 3 pagi. Dalam perjalanan sampai tiba di Siberut hujan deras terus mengguyur. (bersambung)

Siberut-Mentawai-Sumbar, 10/5/2013
Gordi

Sebelumnya:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.