Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label INDO-ITALIA. Tampilkan semua postingan

Jalan-jalan di Roma

saat mengikuti doa Angelus di halaman St Petrus, foto dok prbadi
Tinggal di Roma selama 7 hari. Tiba hari Rabu siang dan berangkat lagi hari Selasa pagi minggu berikutnya. Ada jeda di hari Minggu. Kesempatan ini kami gunakan untuk ikut doa Angelus bersama Paus Fransiskus dan ribuan pengunjung dari penjuru dunia di lapangan St Petrus, Vatikan. Kali pertama dan mungkin hanya ini saja, saya melihat pemimpin Gereja Katolik itu dari dekat. Saya juga mengabdikan beberapa foto yang saya ambil di sela-sela doa ini. Saya ingat saat itu paus dalam kata-katanya menyerukan seruan perdamaian untuk Siria.
Paus Fransiskus, foto dok pribadi

Vatikan, foto, dok pribadi
Kami juga masuk di lingkungan Vatikan. Mulai dari ruangan utama, museum Vatikan, juga kubah Vatikan. Tempat ini sudah saya lihat sebelumnya melalui TV dan internet. Kali ini rasanya lain, melihat langsung.
di puncak kubah Vatikan, foto dok pribadi
di dalam museum Vatikan, foto, dok pribadi

saat antri di pintu masuk Musem Vatikan
koloseo, Il Colloseo, foto dok priibadi
kota tua Roma, foto, dok rpibadi
Di Roma, kami mengunjungi beberapa tempat seperti 4 basilika besar, dan beberapa tempat terkenal lainnya, termasuk Koloseu, gereja di Iesu, Fontanelatto, Kota Tua Roma, dan sebagainya. Untuk tidak memperpanjang kata, saya mengakhiri tulisan ini dengan menyuguhkan beberapa foto. Terima kasih sudah membaca tulisan ini dari awal. Salam

Gordi

Sebelumnya,







Selamat Karena Baju Batik

pemandangan di jalan, foto, dok pribadi
Kami keluar dari pesawat. Masuk jalur keluar, melewati pintu pemeriksaan. Menunjukkan dokumen pasport. Petugas memeriksanya dengan teliti sambil melihat wajah kami. Lolos. Kami tidak mendapat hambatan seperti yang kami dengar sebelumnya. Tidak juga diinterogasi. Memang kami datang dengan maksud yang jelas, bukan membawa sial. Tas jinjing tidak dibuka.

Lalu kami menuju pos lainnya untuk mengambil koper. Kami menunggu dengan sabar di sini. Banyak penumpang yang menunggu. Banyak koper yang lalu lalang. Dan setelah sekian menit, kami mendapatkan koper kami. Lalu kami keluar menuju ruang tunggu di bagian luar bandara. Di pintu, kami sempat dicegat oleh orang yang tak kami kenal. Dia tanya pakai bahasa Italia tetapi kami tidak meresponsya. Lalu, dalam bahasa Inggris, dan kami merespons. Rupanya dia mencari tenaga kerja. Maaf, kami datang untuk belajar dan bukan untuk bekerja.

pemandangan di jalan, foto, dok pribadi
Kami menunggu di luar. Ada banyak orang di sini. Menjemput, dan sedang menunggu. Kami mencoba mencari orang yang kami kira akan menjemput kami, Pastor Stradiotto, SX. Rupanya tidak ada. Kami mencari ke sana kemari tidak juga. Memang kami tidak pernah bertemu. Saya pun tidak tahu seperti apa mukanya. Hanya satu modal saya, saya diberitahukan bahwa dia tinggi dan besar.

Karena tidak menemukan, kami mencari cara lain. Kami meminta bantuan seorang suster Italia yang bisa berbahasa Inggris untuk menelepon ke rumah kami di Roma. Kebetulan suster ini sedang menjemput temannya. Dia tahu rumah yang kami cari. Kami berhasil berbicara dengan pastor ini. Kata pastori itu, dia akan datang beberapa saat lagi. Terima kasih suster atas bantuannya.

Tiga puluh menit kemudian, pastor datang dengan seorang pastor lainnya, Pastor Marco, SX. Fonsi yang lebih dulu menemukan mereka kala saya sedang mencari ke sana kemari. Fonsi langsung tahu karena pastor yang pernah bekerja di Padang ini mengenakan batik Indonesia. Wahhh untunglah ada baju batik.

masuk kota Roma, foto dok pribadi
Saya sudah merasakan bagaimana pusingnya mengalami kegagalan di bandara besar ini. Roma adalah kota besar berlevel internasional. Di Jakarta saja kala sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang, pusingnya minta ampun. Apalagi di Roma.

Setelah bertemu, kami menuju mobil, lalu berangkat ke rumah. Kami menikmati perjalanan ini. Rasanya lega. Pastor Stradiotto berbincang-bincang dengan kami dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, Pastor Marco bertanya dalam bahasa Inggris. Sekitar 1 jam kemudian, kami tiba di rumah kami di luar tembok Vatikan, negara terkecil di dunia itu.

Roma sedang musim panas. Kami merasakan panasnya ini. Saat tiba, kami disambut dengan hangat oleh para pastor dan suster Xaverian di rumah jenderalat ini. Kami senang sudah tiba di Roma. Pastor Marco sebagai kepala rumah mengantar kami ke kamar masing-masing. Kamar di lantai paling atas di rumah ini. Lantai ke-5 kalau dihitung dari dasar rumah ini. Setelah masuk kamar, kami istirahat sejenak, kemudian turun untuk makan siang. Makan siang jam 12. Di sinilah untuk pertama kalinya saya makan makanan Italia, langsung dari sumbernya hahaha. Pastor Stradiotto makan satu meja dengan kami biar bisa komunikasi dalam bahasa Indonesia. Para pastor lainnya di meja yang lain.

pemandangan dari jendela kamar,
tembok Vatikan, foto, dok pribadi

Sore hari, Pastor Stradiotto memanggil kami ke ruang kerjanya untuk berbicang-bincang dengan keluarga di Indonesia melalui skype. Senang rasanya bicara dengan mereka. Setelahnya kami istirahat sebentar sebelum mulai kunjungan ke sana ke mari di kota Roma dan Vatikan. Akan saya ceritakan kemudian. (bersambung)

Parma, 30/1/2014
Gordi


Dari Ataturk-Istanbul ke Leonardo Da Vinci-Fiumicino-Roma

bandara di Roma, gambar dari google
Beda dengan penerbangan Jakarta-Istanbul yang menggunakan Airbus A330, perjalanan ke Roma dari Istanbul menggunakan pesawat berukuran lebih kecil, A321. Bagian dalamnya jelas lebih kecil pula. Di pesawat A330, ada 2 lorong dan 3 bagian kursi penumpang. Kiri ada 1 bagian dengan 2 kursi, tengah 1 bagian dengan 4 kursi penumpang, dan kanan ada 1 bagian dengan 2 kursi. Total ada 8 kursi. Di pesawat yang kami tumpangi ke Roma hanya ada 2 bagian penumpang masing-masing terdiri dari 3 kursi. Total ada 6 kursi. Jadi, bisa dibayangkan lebarnya badan pesawat.

maskapi Italia, Alitalia di bandara Roma, gambar dari google
Tetapi, badannya boleh kecil, pelayanannya tetap besar (sepenuh hati) seperti di pesawat sebelumnya. Maskapinya memang sama hanya pesawatnya saja yang beda. Kami dapat jatah makan sekali dalam perjalanan ini. Kami disuguhi makanan hamburger, makanan dari Jerman yang kemudian menjadi terkenal di Amerika dan seluruh dunia termasuk Indonesia. Saya juga memilih minum jus daripada aqua atau coca-cola. Bule Afro-Amerika ini makannya cepat. Mungkin karena biasa makan hamburger di negerinya. Dia lebih cepat dari kami.

Setelah makan, saya tidak tidur. Saya menikmati penerbangan yang singkat ini. Hanya 2 jam dan 40 menit. Beda waktu Italia dan Turki sekitar 2 jam tetapi mungkin menjadi 1 jam di musim panas. Kami tiba di Roma sekitar jam 10 waktu Roma. Jam saya masih menunjukkan jam Indonesia waktu kami tiba sehingga tidak bisa menjadi ukuran yang tepat. Saya mengecek jam di bandara.
model bandara di Roma, gambar dari google

Sayang sekali dalam perjalanan ini saya tidak sempat mengambil foto. Padahal pemandangan bagus dari Turki ke Roma. Lewat laut yang biru pemandangannya. Juga kala tiba di daratan Italia. Tampak hijau. Padahal saya bayangkan tidak ada atau sedikit saja pohon atau tumbuhan. Nyatanya tidak. Di sekitar bandara Roma saja banyak pohon hijaunya, saat itu. Tetapi ada juga bagian rumput yang tampak seperti terbakar musim panas. Maklum saat itu, Eropa sedang dalam musim panas.

Bandar Udara Fiumicino, gambar dari google
Di bandara Roma, ada pemandangan bagus. Saya mau berfoto di depan tulisan welcome  dan dalam bahasa Italianya Benvenuto dengan latar artis Italia, saya lupa namanya. Tetapi, tidak sempat. Sebab kami buru-buru. Turun dari pesawat, naik trem, ke ruang tunggu berikutnya, setelah melewati ruang imigrasi.

Perjalanan ini indah sekali. Namun melelahkan juga. Tetapi terima kasih Tuhan, kami sudah sampai di Roma setelah 15 atau 16 jam di udara dan 5 atau 6 jam di ruang tunggu. Kami belum sampai tujuan tetapi sudah mendarat. Kami mau menjumpai orang yang menjemput kami. Akan saya ceritakan di kisah selanjutnya. Kisah yang membuat kami hampir nyasar di bandara Leonardo Da Vinci-Fiumicino-Roma ini. (bersambung)

Parma, 8 Januari 2014




Pengalaman Menarik di Ataturck Airport, Istanbul

Bandara Ataturck, gambar dari google
Kami tiba di Bandara Internasional Istanbul-Turki pagi hari jam 6.10 waktu setempat. Nama bandaranya adalah Ataturck Airport. Kami tiba di terminal 1. Bandara besar berlevel internasional. Tempat bertemunya para penumpang dari beberapa benua. Asia, Eropa, Afrika, juga Australia. Saya tidak tahu apakah Amerika juga. Saya yakin YA. Sebab di sini, sebelum kami menemukan pos tunggu terakhir, Fonsi dan saya berbincang-bincang dengan seorang pemuda Afro-Amerika. Dia orang Chichago—kalau tidak salah ingat—dan mau ke Roma untuk jalan-jalan.

Kami keluar dari pesawat menuju pos-pos berikutnya. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari toilet. Saya yang duluan dan Fonsi menjaga tas dan koper saya di luar toliet. Gila, bagian bandara ini banyak. Tiap pos ada toilet, dan ruang informasi. Toiletnya juga bersih. Ya namanya bandara internasional. Seperti toilet di bandara Soe-Hat Cengkareng, atau bandara Adisucipto-Yogyakarta. Tidak saja bersih tapi juga wangi.

suasana dalam pesawat,
gambar dari google
Setelah membuang segala kepenatan, kami menuju ruangan pemeriksaan. Semua penumpang melewati bagian ini. Baik penumpang yang turun maupun yang transit seperti kami. Di sinilah indra harus peka. Ke pos mana saya akan pergi. Ada banyak pos, lengkap dengan keterangan. Cek petunjuk di tiket atau tanya ke ruang informasi, tunjukkan tiket asli jika masih bingung. Kami beruntung tidak terlalu rumit karena mudah menemukan petunjuk. Kami masuk ruangan ini dengan sedikit gemetar di jantung. Jangan-jangan kami ditahan—khususnya Fonsi—seperti yang kami alami di Cengkareng. Rupanya tidak. Kami lewat tanpa dicegat setelah ikat pinggang, jaket, tas saku, dilepas. Untunglah sepatu tidak dilepas seperti di Singapura dan Cengkareng.
pesawat turkish airlines,
gambar dari google

Dari pos ini kami melewati beberapa pos lainnya dengan lancar. Jalan lurus, belok kanan lalu kiri, lurus lagi, dan sebagainya. Juga naik tangga dan kemudian turun di ruangan pertama. Itu saja gambaran petunjuknya. Hanya untuk menemukan ini kadang-kadang sulit. Fonsi sekali bertanya ke tukang jualan dalam bandara tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lalu saya minta dia mengikuti petunjuk yang tertulis dalam layar monitor. Dari situ, Fonsi tanya lagi ke petugas informasi dan mendapatkan informasi akurat. Kami harus turun menuju bagian yang tertera dalam layar petunjuk. Dan kami menemukan pos ini.

Di sinilah, kami berjumpa orang Amerika tadi. Kami berbincang-bincang dengannya. Fonsi yang memulai pembicaraan dengannya dalam bahasa Inggris. Dia juga menuju Roma. Dan kami sama-sama cek tiket. Rupanya satu pesawat dan satu grup tempat duduk. Saya dan Fonsi kemudian menyerahkan tiket dan pasport-visa untuk dicek di bagian imigrasi bandara. Ada pengalaman yang menurut saya lucu di bagian ini.
masuk di ruang pemeriksaan,
gambar dari google

Saya meledek petugas yang memeriksa tiket saya. Dia memang tampak serem, meledek semua penumpang. Lama dia meledek saya. Beda dengan penumpang lainnya yang diledek sebentar saja. Saya boleh emnduga penyebabnya. Dia mungkin merasa aneh karena antara foto saya di pasport dan di visa ada perbedaan. Apalagi melihat muka saya yang baru bangun dari tidur dan kusut kedinginan dalam pesawat. Tetapi akhirnya tiket saya juga dicap.

Kemudian kami duduk selama hampir 2 jam di pos ini. Saya melihat banyak orang yang menuju Roma dengan maskapi Turkish Airlines. Maskapi ini rupanya maskapi besar dan berlevel internasional. Saya menengok keluar dari ruang tunggu. Mayoritas pesawat yang transist di sini berlogo Turkish Airlines. Makin lama kami duduk, makin banyak barisan antrian ke bagian pengecekan tiket. Ini berarti makin banyak penumpang yang datang dan akan pergi ke Roma. Di pos lain juga banyak antrian. Tiap pos punya tempat pengecekan tiket.
monitor infromasi, gambar dari google

Kami berangkat dari Istanbul dengan pesawat bertipe Airbus A321. Sebelum naik pesawat, petugas membukakan pintu dan mengecek tiket para penumpang di pintu keluar, kemudian kami naik bis. Bis besar seperti yang dimiliki maskapi nasional di Indonesia, Garuda, Lion Air, dan sebagainya. Bagaimana perjalanan ke Roma? (bersambung)

Parma, 8 Januari 2014
Gordi


11 Jam dalam Pesawat

model kursi dalam pesawat. Foto, Gordi
Sebelas jam? Woao lama sekali. Di atas bis saja bisa capek duduk selama itu. Tetapi memang beda, duduk di atas bis dan pesawat. Getarannya beda banget. Kalau dalam bis terasa getarannya. Sedangkan di pesawat, hampir tidak terasa. Inilah yang kami rasakan dalam perjalanan dari Singapura ke Turki, Istanbul.

Sebelas jam. Hampir tidak terasa. Fonsi berujar, “Wah gelap terus. Kapan paginya?” Penerbangan ini memang penerbangan malam hari. Dari Singapura saja, kami berangkat malam, sekitar jam 9 atau 10 WIB. Dan sepanjang sebelas jam itu, terasa malam terus sampai di Turki. Beda waktu Singapura dan Turki 5 jam. Jadi, wajar jika rasanya seperti malam terus. Dari malam ke malam.

Fonsi tersenyum melihat film,
foto Gordi
Kami makan 2 kali dalam perjalanan antara Jakarta-Istanbul. Makanannya enak sekali. Tetapi yang lebih diingat adalah kami tidak makan nasi lagi. Saya mulai mencicipi daging, roti, dan kue yang enak tentunya. Saya juga memilih jus lemon sebagai minumannya. Saya minum sedikit air. Biar tidak sering ke toilet. Dan memang saya tidak pernah ke toilet. Air yang saya minum rupanya cukup untuk pembakaran dalam tubuh. Tidak ada sisanya. Di Istanbul baru buang air kecil.

Di Istanbul juga kami mulai berbahasa Inggris. Dalam pesawat tadi sudah mulai. Hanya saja belum selancar waktu di Turki. Di pesawat hanya ngomong satu dua kalimat saja. Yang lainnya pakai tangan saja. Tunjuk. Di Turki juga hanya Fonsi yang sering tanya ke sana kemari pakai bahasa Inggris. Saya sendiri tidak banyak bicara. Saya mengikuti petunjuk dalam tiket. Dan tidak perlu banyak tanya ke sana kemari. Saya tahu malu bertanya sesat di jalan. Tetapi, saya sudah tahu jalannya, rutenya, sehingga tidak perlu bertanya.

Penulis serius melihat rute pesawat, foto Gordi
Tetapi saya salut dengan Fonsi. Dia memang orangnya dikuasai rasa khawatir. Dia tidak yakin dengan penjelasan saya sehingga harus ke sana kemari. Saat itulah dia rupanya bisa mempraktikkan bahasa Inggris dengan leluasa. Dalam hal ini saya rugi.

Ngomong-ngomong dalam pesawat selama 11 jam ini, saya banyak tidurnya. Bangun, makan, lalu tidur lagi. Tidak suka tonton film. Fonsi kadang-kadang menonton. Saya buka layar hanya untuk cek berapa jam lagi tiba, suhu, dan waktu saja. Juga rute pesawat. Itu saja.

Enak juga yah duduk dalam kursi pesawat ini. Dua kali dibagikan kain yang direndam air hangat. Rasanya pas banget. Sebab, suhu dalam pesawat dingin sekali. Dan kain itu bisa ditempelkan di tangan atau hidung atau muka biar hangat. Setelahnya petugas yang membagi kain itu datang lagi dan mengumpulkan kain itu. Tetapi ngomong-ngomong, bagaimana suasana di bandara Turki? Apa nama bandaranya ? (bersambung)

Parma, 26 Oktober 2013
Gordi

Sebelumnya Dari Indonesia ke Italia 7


Ada Orang Indonesia di Singapura

Kami keluar dari pesawat. Saya mendengar suara orang berbahasa Indonesia. Kalau penumpang tentu saya tidak kaget. Suara ini berasal dari petugas di bandara. Bahasa Indonesia, bisik saya ke Fonsi. Dia juga dengar itu. Wah…di sini ada orang berbahasa Indonesia. Kalau begitu, semoga kami tidak tersendat nanti. Demikain harapan kami.

Memang petugas itu menggunakan bahasa Indonesia untuk memberi informasi. Beberapa di antara mereka memang orang Indonesia. Saya melihat mereka berwajah Indonesia. Juga bahasanya bagus. Yang lainnya, sebagian besar, orang keturunan India di Singapura. Mereka juga berbahasa Indonesia dengan dialek yang tidak lazim. Mungkin karena pesawat ini dating dari Jakarta sehingga mereka menggunakan bahasa Indonesia. Mereka mengira penumpangnya banyak dari Indoensia. Padahal lebih banyak orang Barat-nya dalam pesawat ini.

Kami masuk jalur yang ditunjukkan. Pesawat sedang parkir. Saya melihat dari ruang tunggu. Pesawat itu dicek kelayakannya. Mungkin ada pengisian bahan bakarnya juga. Ada juga petugas yang mengecek ban, badan, dan di bagian tempat penyimpanan bagasi. Wah mungkin benar komentar bahwa di Singapura ada pembersihan pesawat.

Kami antri di ruang pemeriksaan. Pemeriksaan ini seperti pemeriksaan terakhir di Soe-Hat. Selain tas, jaket, dan topi, sepatu juga dilepas. Sebelum itu, ada pemeriksaan dokumen. Tiket dan passport/visa. Untuk dokumen, kami lolos. Memang dokumen kami lengkap. Di bagian detektor, juga kami lolos. Kami memang tidak membawa barang berbahaya.

Pemeriksaan di sini ketat. Ada penumpang yang tasnya dibuka. Isinya dikeluarkan satu per satu. Entah apa yang mencurigakan dari tasnya. Saya tidak memerhatikan bagaimana selanjutnya. Dia ini persis di depan saya. Untung bukan saya. Saya cepat-cepat mengambil tas dan jaket saya menuju ruang tunggu. Saya lihat Fonsi di belakang saya. Dia juga tidak terjadi apa-apa. Wah lega rasanya hati ini. Kami lolos.

Bayangan untuk jalan sendiri langsung buyar. Demikian juga dengan bayangan kalau-kalau Fonsi kembali ke Indonesia. Atau tertahan di sini untuk beberapa lama. Rupanya pemeriksaan yang ketat ini telah kami lewati.

Setelahnya, kami menuju pesawat lagi. Tidak lama di sini. Hanya 45 menit. Ngomong-ngomong apa yahhh nama bandara ini. Saya juga tidak menemukan tulisan nama bandaranya. Atau ada tetapi tidak saya perhatikan. Kalau pun ada, biasanya sulit dihafalkan namanya. Namanya dekat ke nama-nama tempat di Cina atau Korea. Dan memang bandara ini adalah Bandara Internasional Changi atau Changi International Airport. Nama ini saya dapatkan dari tiket. Bukan dihafal. Makanya saya juga tahu kalau kami akan turun di terminal 1.

Selanjutnya kami kembali ke pesawat lagi. Di dalam sudah ada penumpang lainnya. Jumlahnya lumayan banyak. Hampir saingan dengan kami yang datang dari Jakarta. Entah siapa yang terbanyak. Yang jelas di bagian Group A, ¾ kursi penumpang sudah terisi dari Jakarta. Itu berarti hanya ¼ dari kursi yang ada diisi oleh penumpang Singapura. Kalau saya lihat sepintas dari wajah penumpang ini, sebagainnya dari India, Singapura, juga lainnya orang Barat. Ada yang pakai jaket bertuliskan Italia. Juga saya dengan ada yang berbahasa Italia. Memang pesawat ini menuju Roma tetapi transist di Turki-Istanbul.

Hal baru lainnya adalah perlengkapan di kursi pesawat. Kami melihat ada selimut, satu bundel kecil berisi, sikat gigi, pasta gigi, kaus kaki, juga headset. Wah….perjalanan ini menjadi menarik. Tetapi entahkah lebih menarik dari penerbangan dari Jakarta ke Singapura???? Mungkin Ya atau juga Tidak. (bersambung)

Parma, 26 September 2013

Gordi

Menuju Singapura yang Sulit Dilewati

Katanya di Singapura nanti ada pemeriksaan secara ketat. Istilahnya pembersihan pesawat. Entah apa yang dimaksud. Yang jelas, pesawat harus bersih dari benda berbahaya. Apakah mereka tidak yakin dengan pemeriksaan ketat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta? Boleh jadi demikian. Ataukah mau lebih bersih lagi? Saya tak peduli dengan itu. Asal saya sudah lewat pemeriksaan di Soe-Hatt, itu sudah cukup.

Pesawat besar ini pelan-pelan bergerak. Belum naik ke udara. Masih di darat. Dan saya dan Fonsi pun ikut menyaksikan gelapnya bandara dan gemerlapnya lampu dari pesawat lainnya, lampu mobil bandara, juga lampu dari ruang bandara yang masih bisa kami lihat. Rupanya, kami harus menunggu dengan sabar. Harus antri untuk lepas landas. Banyak pesawat lain di depan kami. Juga ada pesawat yang hendak mendarat. Saya sempat melihat ada Lion Air, Garuda Indonesia, dan maskapi lokal lainnya.

Setelah menunggu dengan sabar, tiba giliran kami naik. Saya merasakan saat-saat kami duduk miring karena badan pesawat juga miring. Mula-mula mulutnya menanjak, ekornya merendah. Kemudian badan pesawat rata tetapi miring sedikit, entah mencari arah yang tepat. Selanjutnya saya tidak merasakan pergerakan pesawat lagi. Seolah-olah kami diam padahal pesawat tetap bergerak. Dan saat kami diam itu tiba-tiba pramugari pesawat datang, membagikan makanan. Segelas air dan sepotong roti.

Begitu dapat makanan itu, saya langsung melahapnya. Ngomong-ngomong perutku lapar. Tadi siang makan terakhir di Indonesia. Dan rupanya itu makan nasi terakhir untuk saya. Setelahnya tidak bertemu nasi lagi. Jam menunjukkan pukul 8 malam lewat sekian. Di tiket memang tertulis berangkat jam 7.50 malam. Tetapi kan ada tetek-bengek yang lainnya sehingga perutku dapat suplay makanan baru pada jam sekian.

Hati saya senang karena sudah kenyang. Selanjutnya saya membuka monitor di depan saya. Rupanya alat ini hanya disentuh saja. Dan tangan saya sudah biasa menyentuh teknologi seperti ini. Tidak elit tetapi saya pernah mengoperasikan teknologi layar-sentuh seperti ini. setelah mendapat yang saya cari, saya duduk tenang, tutup mata dan hanya mendengar saja. Saya memang sedang memutar musik, lagu instrumental. Entah siapa yang memainkan musik dalam lagu ini. Saya belum begitu akrab dengan pengarang lagu seperti ini.

Fonsi di samping saya asyik menonon film. Dia memang suka film. Saya tidak memerahtikan film apa yang sedang ia tonton. Saya dengar music saja sambil tutup mata. Dan mata tertutup ini rupanya berhasil membius kesadaran saya. Saya tidur pulas. Perjalanan dua jam dari Indonesia ke Singapura tak terasa. Tahu-tahu, pesawat miring, dan akhirnya mendarat. Ada pengumuman, penumpang harus turun, membawa serta dengan barang bawaan di kabin.

Kami juga bergegas. Tak lupa tas di kabin. Saya dan Fonsi berbisik, kalau-kalau nanti ada pemeriksaan lagi. Kami memang sudah mendengar informasi di Indonesia bahwa, di sini aka nada pemeriksaan lagi. Fonsi memikirkan pemeriksaan itu. Jangan-jangan dia tidak diizinkan lagi untuk terbang. Sebab, di Jakarta saja kami tersendat. Saya tidak peduli dengan pemeriksaan ini. Saya berprinsip, jika Jakarta lolos, yang lainnya akan lolos sampai tujuan. Tetapi saya juga merasa sedih jika saya sendiri yang akan melanjutkan perjalanan. Sayang jika Fonsi harus berhenti di Singapura. Apakah dia akan dia akan menunggu di sini saja? Ataukah dia harus kembali ke Indonesia dulu? (bersambung)

Parma, 26 September 2013
Gordi

Berjuang Mencari Lubang Kecil dalam Kursi Pesawat

seperti inilah model kursinya, tapi ini bukan
kursi pesawat Turki Airlines, foto dari internet
Memang benar, pesawat ini besarnya luar dalam. Di dalamnya ada 2 lorong. Kiri dan kanan. Kami masuk dari pintu depan. Menghadap ke belakang, ekor pesawat. Dan kami masuk lorong bagian kanan. Kemudian duduk di 2 kursi sebelah kanan lorong. Fonsi di dekat jendela (35A) dan saya di dekat lorong (35B). Di tengah, antara lorong kiri dan kanan, terdapat banyak tempat duduk. Di situ ada 4 kursi untuk setiap barisnya. Dua dekat dengan lorong bagian kiri dan dua dekat dengan lorong bagian kanan. Jadi, satu baris terdapat 8 kursi. Saya lupa jumlah barisnya. Jika 12 berarti, di sini terdapat 96 kursi. Dan ini baru satu bagian yang dinamakan group. Kami duduk di group A. Pesawat ini dibagi lagi dalam beberapa bagian group di dalamnya. Saya juga tidak tahu persisnya. Setiap bagian di batasi oleh satu tempat yang menyimpan layar TV untuk informasi perjalanan dan informasi lainnya. Di bawahnya ada ruang untuk WC dan penyimpanan perlengkapan pesawat atau perlengkapan kru pesawat. 

Di kursi penumpang ada meja lipat. Meja dibuka saat ada makanan atau minuman. Pada waktu tertentu, awak pesawat, kru paramugari akan membagikan makanan. Dan saat itulah meja ini dibuka. Setelahnya segera dilipat kembali. Lipatannya menempel di sandaran kursi. Misalnya, meja yang saya gunakan tertempel di sandaran kursi penumpang di depan saya. Sedangkan lipatan meja yang ada di sandaran kursi saya akan digunakan oleh penumpang di belakang saya.

Selain meja di sandaran kursi itu juga ada layar/monitor komputer. Letaknya di atas lipatan meja. Setara dengan letak mata jika penumpang duduk tegak. Layar ini akan menyala, memancarkan tayangan film, atau daftar lagu, dan juga informasi dari kru pesawat. Kalau dalam Lion Air ada kru pragumari yang mengumumkan dan memraktikkan cara pemakaian alat keselamatan dalam pesawat, di dalam pesawat ini, tidak ada. Pengumuman itu akan disalurkan melalui layar TV itu. Juga melalui TV besar yang terdapat di bagian depan setiap lorong. Dari situ ada suara. Jika mau mendengarkan lewat layar kecil itu juga bisa. Dan layar itu akan menayangkan informasi dari kru pesawat setiap kali ada informasi. Saat itu, film atau lagu dengan sendirinya akan berhenti sebentar saat pengumuman itu ditayangkan.

Nah, saya dan Fonsi pada awalnya sulit menemukan posisi lubang jack untuk headset, alat pendengar di telinga. Kami sudah melihat headset itu di kursi. Disimpan bersama perlengkapan lainnya seperti kaus kaki, sikat gigi, penutup mata, dan sebagainya. Selimut disimpan di atas kursi, bersama bantal kecil, saat kami masuk. Saya meraba-raba lubang di tempat sandaran tangan di sebelah kanan dan kiri kursi. Dan Fonsi juga demikian. Rupanya Fonsi menemukan lubang itu. Dan dia masukan ujung headsetnya. Berhasil. Dia dengar bunyi dari layar TV. Hanya saja bunyi itu tidak sesuai dengan tayangan yang ada di monitornya. Dia mendengar lagu. Padahal dia sedang menonton film.

Rupanya lubang itu untuk layar TV saya. Lubang headset rupanya terdapat di sandaran tangan bagian kiri kursi. Saya masukkan lubang headset saya. Berhasil. Saya dengar bunyi. Fonsi juga demikian. Kami senang bias memecahkan masalah ini.

Selanjutnya, tangan kami bergerak, mencari pilihan menu dalam monitor itu. Ada menu untuk lagu. Di dalamnya ada file lagu-lagu dari berbagai Negara beserta nama penyanyinya. Tidak semua negara tetapi paling tidak ada nama-nama penyanyi populer seperti Michael Jackson, Bryan Adams, dan sebagainya. Ada juga menu untuk games. Menu film. Menu informasi penerbangan. Dan beberapa menu lainnya.

Saya memilih menu musik. Saya denganr beberapa lagu berbahasa Inggris dan juga lagu-lagu Jepang. Sambil dengar itu, saya tidak lupa mengecek informasi posisi pesawat. Di situ ditampilkan posisi pesawat, waktu di tempat tujuan dan waktu di tempat keberangkatan. Juga, durasi waktu perjalanan sampai di tempat tujuan.

Ngomong-ngomong tas kami di mana ya? Bagasi ada di atas tempat duduk. Sama seperti di pesawat pada umumnya. Bagasi kami ada di atas kami. Bagasi untuk penumpang yang duduk di tengah juga ada di atas tempat duduk mereka. Untuk mereka, bagasinya di bagi dua. Sebagiannya dekat lorong kanan dan lainnya dekat lorong kiri. (bersambung)

Parma, 26 September 2013

Gordi

Hati Berdebar di Ruang Tunggu

Setelah pemeriksaan yang menyebalkan itu (ikat pinggang, sepatu, jacket dilepas), kami masuk ruang tunggu. Di sinilah hati kami berdebar. Saya memandang Fonsi dan Fonsi memandang saya. Saling pandang. Kami sedang membayangkan dan memikirkan perjalanan panjang ini.

Belum pernah kami berjalan sejauh ini. Belum pernah kami keluar dari negeri sendiri. Bagaimana jika kami tersesat. Apa yang kami buat jika tersesat. Apa yang kami lakukan jika kami tidak diizinkan ke tujuan berikutnya. Bagaimana kami harus keluar-masuk pintu dan pos yang banyak di tempat transist berikutnya. Apa yang kami lakukan jika kami tidak dijemput. Kami ingin cepat sampai tempat tujuan. Kami ingin terbang dengan selamat. Kami ingin pergi dan tiba di tujuan dengan selamat. Dan sebagainya. Inilah berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam diri kami. Otak kami sedang memikirkan itu.

Ruang tunggu menjadi saksi pergumulan pikiran kami. Memang antara kami mungkin punya pertanyaan yang sama. Tetapi kami juga tidak tahu. Toh, kami hanya menduga. Sebab, tidak banyak kata dan kalimat yang keluar. Saat itulah saya mendaraskan doa dalam hati agar perjalanan ini selamat. Kami tidak tersesat di jalan. Atau kalau tersesat kami lekas kembali ke jalan yang benar.

Sambil bergumul, saya memerhatikan banyak orang yang duduk dan berdiri sembari berlalu lalang di samping saya. Ada yang duduk sendiri, berkelompok. Ada yang diam, entah dia juga sedang bergumul seperti kami. Ada yang tampaknya sedang senang. Ada juga yang tampak sedang sedih hati. Entah dia memikirkan mereka yang dia tinggalkan. Ada juga yang sedang tersenyum dan tertawa sambil bercerita melalui hp-nya. Ya, dengan teknologi, dia bisa melihat orang di seberangnya, mendengar suaranya. Itulah majunya teknologi yang bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dia merasa dekat dengan orang yang menjadi teman teleponannya tetapi menjadi jauh dengan orang di sampingnya.

Memang tidak jarang dalam situasi seperti ini segalanya boleh jadi menjadi tidak normal. Yang sebelumnya suka curhat jadi diam, suka berkelakar jadi diam. Ini gara-gara perjalanan yang sedang dihadapi.

Dalam debaran hati ini, kami berharap akan tiba dengan selamat sampai tujuan. Dan kami mendengar pengumuman dari pengeras suara. Pesawat Turki Airlines akan segera berangkat. Penumpang dan seluruh kru pesawat dipersilakan masuk pesawat. Kami pun masuk pesawat dan mengambil tempat duduk yang tertera di dalam tiket.

Ngomong-ngomong pesawatnya besar. Typenya Airbus dengan seri A330. Saya lihat dari ruang tunggu. Mengagumkan. Pesawat besar begini yang membawa kami ke luar negeri. penumpang satu per satu masuk. Dan, bagaimana perjalanan selanjutnya? (bersambung)

Parma, 26 September 2013
Gordi


Nyaris Terhambat di Bandara Soekarno-Hatta

foto ilustrasi oleh Hielsa
Waktu yang ditunggu itu kini tiba. Sudah lama menunggu. Ditunggu dengan rasa senang dan mendebarkan. Senangnya karena impian terwujud. Mendebarkan karena prosesnya tidak gampang. Maunya, sudah sampai tujuan. Nyatanya, harus melewati jalan berliku.

Selasa, 27 Agustus 2013, hari bersejarah. Kali ini, saya keluar dari negeri saya, Indonesia, dan melewati beberapa negara, hingga sampai tujuan. Bahkan dari benua sendiri ke benua orang. Dari Asia ke Eropa. Ini mimpi banyak orang. Sayang mimpi ini tidak semuanya terwujud. Banyak yang mau pergi tetapi sedikit yang BISA pergi. Dan, saya beserta teman saya, Fonsi, adalah salah satu kelompok dari sekian orang yang berhasil mewujudkan impiannya.

Kami berangkat dari rumah di Cempaka Putih pukul 16.30 melewati daerah Kemayoran. Bersama kami, ada 3 saudara kami, Matteo, Heri, dan Rian. Jalannya lancar, hanya macet di gerbang tol. Sejam kemudian kami tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Kami menunggu sebentar di luar bandara sambil menunggu Heri yang memarkir mobil.

Selanjutnya, saya dan Fonsi masuk. Proses pemeriksaan dari pintu masuk sampai pintu pendeteksi lancar. Tas dan koper kami tidak bermasalah. Di tempat check-ini, kami mendapat masalah. Saya tidak bermasalah. Visa saya bertipe D. sedangkan Fonsi yang visanya bertipe C, harus ada tiket pulang. Visa D untuk visa tinggal. Sedangkan visa C untuk visa singgah atau turisme, membutuhkan tiket pulang atau visa selanjutnya ke negara tujuan berikutnya. Demikian yang saya tangkap dari penjelasan petugas maskapi Turki Airlines yang kami gunakan.

Kami keluar sebentar. Kebetulan saudara-saudara kami yang baik ini belum pulang. Kami menghubungi Padre Fernando Abis, SX yang mengurus tiket kami. Dari dia kami tahu jika saat urus visa tidak diminta tiket pulang untuk Fonsi. Dan kami mempersilakan petugas ini untuk berbicara dengan padre. Lalu, kami juga mengeluarkan dokumen surat panggilan dari Kamerun, negara tujuan Fonsi. Setelah itu baru lolos.

Entahkah petugas ini mau menguji kami? Boleh jadi demikian. Selain itu ada penjelasan yang janggal. Katanya, penjelasannya adalah bagian dari peraturan imigrasi Indonesia. Aturannya, untuk orang yang berangkat dengan visa C harus ada tiket pergi-pulang, ATAU visa ke negara tujuan berikutnya. Saya jelaskan padanya, kami tidak bisa mengurus visa Kamerun karena kami baru mengurusnya di Roma. Mustahil kami urus visa itu sebab di Indonesia tidak ada kedutaan Kamerun. Tetapi dia tetap ngotot.

Setelah dokumen itu dia cek, kami diperbolehkan untuk check-in. Kemudian kami masuk bagian imigrasi lalu ke ruang tunggu. Di sini kami menunggu sekitar 45 menit karena ada kesalahan teknis dari maskapi. Jadwal keberangkatan diundur 30 menit.

Ada pengalaman menarik saat masuk pintu pemeriksaan ke ruang tunggu. Di sini bukan saja tas-bagasi dan tas saku lainnya yang dimasukan ke detektor tetapi ikat pinggang, dompet, jeket, dan sepatu juga dilepas. Wah ini baru bagi saya. Tetapi saya sudah mendengar sebelumnya. Repot yahhhh harus melepaskan ikat pinggang dan sepatu. Sampai di sini saja dulu yah…..  (bersambung)

Parma, 26 September 2013

Gordi

Urus Visa Lancar-Lancar Saja

foto ilustrasi oleh Brit Bloke
Urus Visa beda dengan urus pasport. Kalau urus pasport antrinya lama, urus Visa tidak. Hasilnya juga tidak lama seperti pasport. Visa keluar dalam 3 hari. Ini pengalaman saya dan teman saya yang mengurus visa pada 20-24 Agustus 2013. Tidak tahu kalau ada yang merasa lebih lama dari ini.

Visa dan pasport rupanya saling kait. Selain itu, tiket perjalanan dan surat keterangan tujuan perjalanan. Pasport dierlukan sebagai salah satu syarat dalam pengurusan visa. Jadi, dokumen yang harus ada dalam pengurusan visa adalah pasport, fotokopi tiket perjalanan, pasfoto dengan ukuran tertentu, dan surat keterangan dari tempat tujuan. Tiket keberangkatan sudah diurus sebelumnya. Saya tidak mengurus sendiri tiket ini. Tiba-tiba tiket sudah ada. Demikian juga dengan surat keterangan dari tempat tujuan. Jika saya yang mengurus kedua hal ini mungkin repotnya mnta ampun. Syukurlah ada yang mengurus sehingga saya merasa tidak terlalu pusing-repot.

Saya mengurus visa bersama teman saya. Kami lengkapi dokumen terlebih dahulu. Kemudian mengisi formulir yang berisi puluhan pertanyaan. Pertanyaan itu terkait dengan identitas kami dan tujuan keberangkatan. Kertas yang berisi daftar pertanyaan ini bisa didapat di website kedutaan Negara tujuan. Kami dapat ini juga seperti ini. Memang bukan kami yang mengambil dari web. Sebab, sebelumnya ada teman yang mengurus. Jadi, kami tinggal memfotokopi kertas itu. Tetapi, bisa juga diisi langsung di internet.

Setelah data diisi, kami menuju kantor kedutaan di daerah Menteng. Di Jl Diponegoro no. 45, Menteng, Jakarta 10310 (Indonesia). Dari pintu gerbang sudah diperiksa. Petugas keamanan menanyakan tujuan kedatangan kami. Lalu, kami disinarlaserkan, diperiksa dengan tongkat pendek yang bersinar laser. Lolos. Sebab, kami tidak membawa barang berbahaya. Dan, alati tu tidak mendeteksi satu benda berbahaya pun di dalam tubuh dan tas kami.

Kami masuk melalui pintu yang juga dilengkapi alat pendeteksi. Di sini lancar juga. Kami diperbolehkan masuk. Lalu, menunggu sebentar, sebelum gerbang berikutnya dibuka. Kami harus meninggalkan kartu identitas, KTP, dan handphone. Petugas keamanan di ruang ini menelepon ke bagian dalam, ke atasan mungkin, apakah benar kami mau bertemu dengannya. Boleh jadi jawabannya, YA. Sebab, setelahnya kami dipersilakan masuk bersama petugas itu. Dia membukakan gerbang besi yang berat. Seolah-olah pencuri tidak lolos lewat gerbang ini. Saya merasa seperti “tuan” saja karena gerbang dibukakan. Kalau saya buka pasti terasa berat.

Di dalam, kami bertemu kepala kantornya. Mungkin dia pak dubes-nya. Woao…bisa langsung bertemu atasan ya. Ya, sebab kami datang dengan orang yang kenal dengannya. Kebetulan kami juga membawa oleh-oleh untuknya. Bukan dari kami. Tetapi, kami kebetulan bisa membawanya. Dia senang melihat itu dan menerima kami dengan senang hati.

Dia memeriksa dokumen kami. Lengkap. Hanya, warna foto bermasalah. Rupanya yang diminta adalah yang berwarna hitam-putih. Kami membawa yang berwarna. Lalu, kami keluar lagi untuk membuat ulang fotonya.

Nah, di sinilah kami membodohi diri kami. Saya katakan demikian karena kami lama gara-gara urusan ini. Cari tempat foto di sekitar daerah Menteng. Rupanya tidak bertemu. Padahal hampir 2 jam kami mencari. Kami memutuskan kembali ke Cempaka Putih, mencetak ulang file foto pas sebelumnya. Tinggal diganti warna latar belakang.

Setelah selesai, kami kembali ke Menteng. Beruntung, kantornya masih buka. Sebenarnya kantor sudah tutup untuk pelayanan administrasi. Tetapi, karena kami sudah ada janji sebelumnya, kami dipersilakan masuk. Kami tidak perlu sampai di dalam. Kami sampai di ruang pertama. Di situ sudah ada petugas yang menunggu. Kami bertemu dengannya dan menyerahkan foto serta dokumen yang ada. Juga pembayarannya. Dia juga memberitahukan kapan pengambilannya.

Tidak lama. Hanya 3 hari. Tiga hari kemudian, kami mengambil. Kami menunjukkan kartu pengambilan di petugas satpam. Dia memperbolehkan kami masuk. Dan, selesailah urusan visa. Tidak lama seperti pasport. Tetapi mahalnya luar biasa. Berapa kali biaya pengurusan pasport. Jika pasport hanya ratusan, visa berkisar jutaan. Demikian. (bersambung)

Parma, 26 September 2013
Gordi







Diberdayakan oleh Blogger.