Halloween party ideas 2015

 

FOTO saat jamuan makan 
bersama teman di Umphang

Seorang keluarga mengundang kami untuk makan malam di kota kecil, Umphang. Makan malamnya bukan di rumah tinggal. Tapi di rumah yang berada di tengah kebun Durian. 

 

Undangan itu syarat dengan persahabatan. Memang keluarga itu adalah sahabat dari teman saya Romo Rey SX. Romo pernah bercerita kalau mereka bersahabat sejak sama-sama menjadi guru di sebuah sekolah negeri. Keluarga ini sejak pertama sudah akrab dan suka dengan gaya Romo Rey yang mudah diajak ngobrol.

 

Malam itu, sambil barbeque, kami bercerita banyak hal. Mulai dengan pengalaman harian mereka di sana. Misalnya tentang bagaimana dahsyatnya banjir setahun lalu di kota kecil itu. Saat itu, beberapa jembatan di jalan utama terputus oleh aliran sungai. Bala bantuan pun harus menunggu beberapa hari. Banjir itu selalu membuat mereka berjaga. Apalagi saat musim hujan begini.

 

Banjir ini memang menjadi pengalaman baru. Selama 30 tahun terakhir, baru kali ini terjadi banjir besar. Keluarga pensiunan guru ini memang sudah malang melintang di kota ini. Mereka berasal dari kota lain tapi sudah lama mengajar di sini. Dalam rentang waktu ini, mereka berusaha membangun ekonomi keluarga. Mereka pun sampai punya banyak tanah dan bangunan. Sayangnya semua ini hanya dinikmati berdua. Anak-anak mereka memilih tinggal dan buka usaha di kota lain.

 

Meski jauh dari anak-anak, kedua pasangan ini tetap merasa bahagia. Penghibur mereka kini hanyalah seorang cucu. Sang cucu tambah bahagia karena dia jadi satu-satunya anak kesayangan di rumah. 

 

Selain momong cucu, memasuki masa tua ini, pasangan guru ini hanya menikmati hidup. Mereka bahagia menjadi pengajar. Memang selain ini, mereka juga bekerja sambilan untuk menghidupi keluarga. Kini, mereka menikmati kebersamaan di kebun Durian ini. Selain merawat tanaman tiap hari, mereka juga memelihara Ikan dan Babi. Tambak ikan dan kandang Babi adalah sumber kebahagiaan mereka. Saat lelah datang, mereka bisa beristirahat di rumah kebun ini. 

 

Sebagai guru, sang istri tentu suka bercerita. Malam in, cerita-ceritanya seru. Sambil mendengar kami becerita, dia juga memerhatikan makanan yang sedang dipanggang. Sang suami sesekali menanggapi. Kalau sang istri bidang makanan, sang suami bidang minuman. Dia memerhatikan gelas kami. Menambah untuk yang sudah kosong.

 

Sungguh masa tua seperti ini penuh makna. Kebahagiaan rupanya bisa ditemukan di tengah kebun. Memang di sini masih berbau alam. Beda misalnya saat kebahagiaan itu ditemukan di mol super mewah. Yang menawarkan pakaian dan perhiasan mahal. Pameran iklan yang menggoda pun terpampang di tiap sudut mol, dan di pinggir jalan besar. Di sini, iklan itu hanya satu: menikmati indahnya alam, menghirup udara kebun yang segar, dan menikmati teriknya matahari pegunungan. Sungguh dedaunan pohon itu meneduhkan jiwa, menentramkan rasa.

 

Terima kasih ya Khru Phani dan Kru Wiracay.

 

UPHG 25/9/22

GA-BK

 

FOTO: Di sebuah desa di Kabupaten Umphang,
tempat jamur itu akan ditanam

Lawan sikap putus asa itu tidak mudah. Godaannya kuat. Apalagi hidup sudah diiramai kecenderungan putus asa. Mudah menyerah itulah melodi di hadapan sebuah masalah.

 

Putus asa itu bisa datang kapan saja. Bahkan untuk sesuatu yang sudah pasti. Saya sudah pastikan tempat tujuan saya. Yakni sebuah toko jamur. Di google map terlihat jelas. Berada di sebelah kiri jalan. Penanda sebelah kanan juga jelas. Pintu masuk sebuah Air Terjun. Dalam pikiran saya tidak ada yang lain selain petunjuk ini. Rupanya, pikiran dan kenyataan bisa berbeda juga.

 

Alih-alih sudah jelas, kebimbangan muncul. Antara kenyataan yang kanan, dan situasi yang kiri. Meski saya sudah berhenti di sisi kiri jalan, petunjuk itu tidak terlihat jelas. Sebelah kanan terus memberikan petunjuk yang pasti. Kalau mengacu pada sebelah kanan, posisi sebelah kiri ini tepat sekali. Tapi, tempat yang dituju tidak saya temukan.

 

Pepatah malu bertanya sesat di jalan pun dipakai sebagai senjata. Berharap senjata ini ampuh mengatasi kebimbangan. Dan jawaban penjaga toko itu memperjelas arahnya. Rupanya sudah benar hanya belum sampai persis dekat tujuan. Untuk mundur tidak bisa lagi. Kami pun memutar arah. Jalan sampai tujuan itu panjang rupanya. Harus melintasi arah sebelahnya. Mirip seperti berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. 

 

Kami berakit melintasi jalur sebelah yang panjang, dan akhirnya berenang sampai tujuannya. Dan, kami bertemu pemilik toko Jamur itu. Ia mengarahkan kami ke tempat penyimpanan jamur yang berada di belakang. Ia baik sekali. Petunjuknya lebih baik dari peta google. Ia juga menjawab pertanyaan kami dengan ramah. Bahasanya yang sopan ini membuat kami ingin bertanya-tanya. Dan, betapa ramahnya ia menjawab. Ia juga mengundang kami ke tempat proses pembuatan jamur. 

 

Keramahan ini kiranya mesti jadi milik pedagang di mana saja. Kesopanan dan keramahan adalah nilai-nilai yang mesti dirawat. Untuk menumbuhkan keakraban hidup bersama yang subur.

 

Km 48, 16/9/22

GA-BK

Diberdayakan oleh Blogger.