Halloween party ideas 2015


Cerita Sampai Larut Malam

gambar, wallpaperswide.com
Cerita lama terkuak ketika ada yang mengisahkannya. Cerita itu pun akan menjadi bahan menarik. Ambil contoh kisah lama yang diceritakan seorang keluarga kami di Makasar. Konon, dia merantau ke Makasar ketika mama saya masih di sekolah menengah. Dia tahu betul kisah hidup mama saya. Nah, ketika saya bertemu dengannya, dia menguak kembali kisah hidup mama saya. Dia bangga melihat saya sebagai anak mama, anak dari saudari sepupunya.

Saya hanya mendengar paparannya. Saya memang pernah mendengar tentang keluarga kami ini. Tetapi amat terbatas. Kami tahu ada keluarga yang sudah lama merantau ke Makasar. Kami hanya bisa membayangkan. Belum pernah melihat orangnya. Bahkan fotonya pun tidak. Itulah sebabnya saat dia bertemu saya dia menyuruh saya menebak siapa dia. Saya betul-betul tidak mau menebak. Dia ngotot tetapi saya tidak mau. Bukan karena sekadar tidak mau. Saya mau supaya dia sendiri yang memberitahukan pada saya sebagai anaknya.

Dia pun akhirnya menjawab. Dia adalah saudari dari mama saya. Bukan saja memberitahu sebagai saudari tetapi cerita lain mengalir juga. Dulu dia merantau ketika mama saya masih sekolah menengah. Tetapi mereka sudah saling berkenalan. Mama saya kiranya tahu bahwa saudarinya ini suatu saat akan bertemu saya. Dan, memang saya bertemu dengannya dalam kunjungan ke Makasar ini.

Cerita lain tentang seputar keluarga kami dan keluarga dia juga ikut terkuak. Sejarah, asal-usul, kisah hidup, situasi keluarga, situasi di kampung, tentang kehidupan keluarganya sekarang, dan beberapa topik lainnya menjadi bahan pembicaraan. Saya mendengar saja. Memang tugas saya hanya mendengar. Saya sama sekali tidak punya bahan cerita. Saya hanya ambil bagian ketika sesekali meminta penjelasan ulang. Atau juga membuat perbandingan dengan keadaan dan situasi sekarang.

Saya betul-betul merasa puas mendengar cerita saudari sepupu dari mama ini. Saya dapat pengetahuan baru dari cerita ini. Saya tidak berada pada posisi untuk menilai. Bukan itu tujuan saya mendengar cerita ini. Saya mencoba mengambil hikmah dari pengalaman yang dituturkan. Terutama kisah petualangan hidupnya. Salah satu yang berkesan adalah bagaimana dia menumbuh-kembangkan iman anak-anak.

Dia dikenal sebagai guru bina iman. Sehari-hari memang, saudari dari mama saya ini, mengajar di sekolah. Sebagai guru tentu dia punya jiwa mendidik. Dan dia tidak saja mendidik di sekolah. Dia juga menjadi pendidik iman anak-anak di Gereja. Maka dia menjadi guru di dua tempat, di sekolah dan di institusi keagamaan. Di sekolah sebagai pengajar ilmu empiris. Di institusi keagamaan dia dikenal sebagai pengajar iman Katolik. Dia disukai anak-anak kecil justru karena dia berpengalaman menjadi pengajar iman anak. Anak yang nakal, menurutnya, mesti dibina sejak kecil. Dan ada hasilnya. Anak-anak didikannya patuth padanya ketika melihat dia ikut bersama mereka dalam pesta besar keagamaan.

Selain sebagai pendidik, dia juga ikut dalam organisasi sebuah koperasi yang cukup berkembang saat ini yakni, Credit Union. Di sini dia dipandang sebagai orang senior untuk cabang wilayahnya. Dengan ikut sertanya di beberapa lembaga ini, dia hanya punya sebagian waktu untuk keluarga. Itulah sebabnya dia menggunakan waktu yang ada untuk kembali ke keluarga. Bertemu suami dan anak-anaknya. Memang mereka sudah besar (anak-anak)  dan hampir semuanya berkeluarga. Tinggal satu orang yang tinggal bersama dia dan suaminya di rumah.

Setiap hari dia mengajar. Maka, cerita malam ini pun harus berakhir sebelum tengah malam. Kami berhenti bercerita pada jam 11.50 malam waktu Makasar. Dia senang bertemu saya. Dia kini tidak saja kenal mama saya tetapi juga saya sebagai anaknya. Saya juga senang bukan main karena bisa bertemu dan berkenalan dengannya. Terima kasih Ibu Maria, kita sudah berkenalan dan berbagi cerita. Salam dan doaku untukmu.


PA, 2/5/13
Gordi

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.