Halloween party ideas 2015

Sawah di Karawang
Nama “Paris van Java” begitu akrab di telinga. Tiap kali mendengar nama Paris, akan terbayang “Paris van Java” di Indonesia.  Ada apa kok nama yang jauh di Perancis sana bisa dekat di telinga orang Indonesia?

Jumat, 25 Maret 2011. Saya dan kedua konfrater menghadiri sebuah acara di Bandung. Perjalanan sore hari nan sepi mengasyikkan. Bagi saya, ini kali kedua melihat Bandung. Sebelumnya, bulan Mei 2010. Namun, itu hanya perjalanan singkat sebab hanya singgah sebentar. Perjalanan itu bermula dari kunjungan ke tempat doa di Subang, Banten lalu menuju Lembang. Lembang dekat dengan Bandung.  Di sinilah tempat pembuatan tahu paling terkenal. Dari situ, mampir di Bandung sebeblum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Perjalanan kedua ini memberi harapan baru. Melihat kota berjulukan “Paris van Java” ini dari dekat. Harapan baru mulai terasa sejak keluar dari kota Jakarta. Ya…Jakarta sebagai kota macet. Kami pun sempat menikmati antrian panjang di tol dalam kota dan lingkar luar. Kami sudah memperkirakan dari awal. Perjalanan akan menghabiskan sekian waktu dari waktu normal. Maka, berangkat lebih awal, pukul 2 siang. Padahal acaranya pukul 5. 30. Ini bagian dari persiapan perjalanan.

Harapan baru juga terlihat melalui pemandangan di kiri-kanan jalan tol Cikampek dan tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang-Bandung). Agak beda dengan tol dalam kota Jakarta yang dikelilingi gedung-gedung. Beda pula dengan tol Jakarta-Puncak yang dikelilingi berbagai pohon rindang dan diselingi kompleks perumahan serta kompleks rumah penduduk.

Tol Cikampek menampilkan wajah pedesaan. Beberapa daerah persawahan masih terlihat. Sawah sebagai tempat produksi padi masih bertahan di tengah gempuran bangunan megah. Di beberapa daerah, sawah bahkan disulap menjadi area perbelanjaan atau kompleks perumahan elit.

Gerbang salah satu kawasan industri 
Area persawahan ini juga masih bertahan di tengah ekspansi kawasan industri di daerah Karawang. Kawasan dikenal dengan kawasan industri. Tak heran jika di papan penunjuk tol, ada tulisan “Anda memasuki kawasan industri”. Beri acungan jempol buat petani, pejuang pangan di negeri ini. Meski pekerjaan mereka sekarang tidak mendapat banyak simpati kaum elit, mereka yang di sekitar daerah Karawang masih setia dengan lapangan pekerjaan yang diwariskan leluhur bangsa ini.

Lain lagi dengan tol Cipularang(Cikampek-Bandung). Pemandangan unik. Kiri-kanan jalan dihiasi kawasan perkebunan. Di beberapa tempat memang tampak masih gersang. Tanahnya merah dan hanya ditumbuhi ilalang. Bukit-bukit terjal masih terlihat dari jalan. Aura pertanian khas pedesaan tampak di jalan tol ini.

Salah satu pemandangan 
di tol Cipularang

Seorang teman berkomentar bahwa jalan tol ini membelah gunung. Mungkin benar. Saya kurang begitu teliti melihatnya. Di beberapa tempat memang jalan ini melewati daerah yang agak tinggi. Lalu, ada turunan yang agak miring. Makanya, perjalanan melalu jalan tol ini membawa harapan baru, harapan akan hal baru.*Semua gambar dari googleimages

Misteri di balik nama “Paris van Java” belum terpecahkan. Ada apa sampai kota Bandung dijuluki demikian? Pertanyaan ini serasa hilang sesaat karena keasyikkan melihat pemandangan di sekitar jalan tol. Di beberapa tempat, kami melihat jalur rel kereta api Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung. Di balik punggung bukit terlihat tiang penyangga jembatan rel. Lintasan kereta api memang seperti efek tak langsung dari Sabda “Ratakanlah jalan yang bergelombang”. Di beberapa lintasan dia (kereta) membutuhkan jembatan, permukaan yang rata antar-lintasan.

Agaknya perkataan teman di atas tadi benar. Kawasan jalan tol ini mendapat banyak sinar matahari. Di beberapa tempat dipasang lampu bertenaga surya. malam hari lampu-lampu ini menyala, menerangi jalan. Untuk diketahui bahwa sebagain besar kawasan tol ini tidak mendapat aliran listrik. Ini disebabkan karena tol ini memang menembus beberapa kawasan bukit dan sama sekali belum ada rumah penduduk.

Mata saya semula enggan terpejam melihat pemandangan ini. Bayangan akan pemandangan di desa dan kampung saya segera muncul. Bukit-bukit gersang, daerah pertanian yang ditumbuhi beberapa jenis tananaman pertanian, kawasan tanpa aliran listrik.

Lama-lama hujan deras membuyarkan semua lamunan itu. Pendingin mobil serasa tidak sebanding dengan dinginnya suhu di kawasan bukit. Jarak pandang hanya 5 meter. Kabut tebal mulai bergerak. Laju mobil dikurangi meski jalanan masih sepi. Mata saya tak tahan lagi, mulai terpejam, dan akhirnya tak sadarkan diri. (bersambung….)



Cempaka Putih, 14 April 2011

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.