Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label JAWA BARAT. Tampilkan semua postingan


foto, dok. pribadi
Kami sudah tiba di jantung kota Sukabumi. Yang kami butuhkan sekarang adalah menuju ke rumah teman Kornel. Kornel sudah membuat peta perjalanannya. Dalam bayangan kami, rumah itu adadi sekitar daerah  yang kami lalui. Bayangan itu jadi nyata. Kami tiba di depan rumah teman itu. 


Seorang ibu membukakan pintu. Ibu yang ramah ini adalah ibu dari teman kami itu. Teman Kornel ya teman kami. Dia mempersilakan kami masuk dan duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu. Dia sendirian di rumah saat kami tiba. Anak-anaknya ke luar kota. Satu di Jakarta yang sedang bekerja dan dua di Muntilan, Jawa Tengah yang sedang sekolah. Bapak, suaminya, bekerja di Bogor.

Ibu yang asli Sunda ini memberi kami makanan dan minuman ringan. Ada 3 gelas dan 1 botol cocacola, kemudian ada roti dan semangka putih. Woao…enaknya kalau dimakan. Kami memang sedang lapar dan haus. Makanan siang hanya berupa roti saja dan airnya berupa jus saja. Sekarang makanan dan minuman ada di hadapan kami. Pelan-pelan kami mencicipi hidangan itu.

Sambil bercerita sambil makan sambil minum. Banyak cerita yang dikisahkan. Saya dan teman Yudi tidak banyak bicara tetapi banyak mengangguk. Kornel dan ibu yang banyak bicara. Mereka kan sudah pernah bertemu sebelumnya. Juga karena anaknya dan Kornel satu sekolah. Jadi, ada cerita tentang pengalaman anaknya bersama Kornel di sekolah.

foto, dok. pribadi
Perut mulai terisi dan dahaga yang tadi mendera kami kini terpuaskan. Waktu semakin senja dan hampir malam. Bapak tiba di rumah. Dia baru saja pulang dari kantor. Dia sudah tahu kalau kami akan berkunjung. Kami bercerita sebentar dengan bapak lalu kami pergi ke warung makan. Kami ditawari untuk nginap tetapi kami tolak. Agenda untuk nginap tidak ada dan juga kami bawa mobil sehingga sayang kalau nginap padahal ada anggota komunitas yang mau menggunakan mobil.

Kami tiba di warung Sunda Rasa, sebuah warung elit di Sukabumi. Eits…ini kesan saya setelah melihat pengunjung di sini. Sebagian besar bermobil..hanya beberapa sepeda motor yang tampak di tempat parkir warung. Boleh jadi sepeda motor itu milik regu pengaman alias satpam. Jika demikian lengkaplah kesan warung ini warung elit.

Di dalam warung sudah duduk pengunjung berkelompok. Ada anak muda ada orang tua beserta keluarga dan sebagainya. Kami mengambil posisi di salah satu sudut. Di situ kami melanjutkan cerita sambil memilih menu makanan dan minuman. Ibu yang mencatat semuanya lalu menyerahkan ke pelayan warung.

Woao….makanan dan minumannya enak banget. Porsi yang dipesan cukup banyak. Kami kenyang dengan menu ini. Namun di akhir cerita masih ada makanan yang belum dihabiskan. Sayang kalau ini tidak dihabiskan padahal sudah dibayar. Kami pun melahap semuanya dengan senang hati. Perut boleh kencang. Kami tahu tidak semua orang masuk di warung ini, tidak semua orang mendapat nasi pada malam ini. Jadi kalau ada nasi hargailah itu sebagai pemberian Tuhan. Oleh karena itu kami menghabiskannya. Kami tidak ingin membuang nasi, di luar sana masih banyak saudari/a yang tidak mendapat nasi.

Kami mengucap terima kasih untuk keluarga ini terutama bapak dan ibu. Kami keluar dari warung dan masing-masing menuju mobil. Kami ke mobil kami dan bapak-ibu ke mobil mereka. Berjalan beriringan lalu berpisah di salah satu perempatan jalan. Mereka ke rumah dan kami ke Jakarta. Terima kasih bapak dan ibu atas rejeki yang boleh kami nikmati pada malam hari ini.

Dalam mobil saya langsung tertidur karena kekenyangan. Kornel menyetir mobil dan hanya dia yang bangun. Beruntung dia menyetir dengan nyaman di tengah kemacetan jalan raya Sukabumi. Saya merentangkan kursi lalu tertidur. Demikian juga dengan teman saya. Tau-tau….sudah di rumah lagi.

Wah petualangan ke Sukabumi memang asyik. Orang Sukabumi manis-manis dan cantik-cantik ceweknya, itu kesan orang. Saya mengamini. Alamnya juga indah terutama di daerah pondok Halimun. Keindahan alam dipadukan dengan keindahan sikap manusia. Tuhan terima kasih atas anugerahmu hari ini. (Habis..)

CPR, Juli 2012
Gordi Afri


foto, dok. pribadi
Kami memutuskan untuk mengikuti jalur ke tempat camping. Kami mengikuti arah angkutan kota ke Utara. Arah ini dalam peta dinamakan Salabintana. Kami mengikuti rute menanjak dan jalanan kecil. Sebelum melaju lebih jauh, kami singgah di salah satu minimarket (indomaret) untuk membeli makanan. Masing-masing 2 potong roti dan sebotol sirup lemon. Inilah pengganti makan siang. Perut yang mulai keroncong ini sudah terisi kembali. Sambil jalan kami makan. Kornel mengendalikan setir mobil, saya mengoperasikan kamera saku merek Cannon, dan Yudi membuka pembungkus makanan. Asyik juga ya…..

Kami tiba di sebuah hotel mewah. Di depan gerbangnya ditulis Hotel Pariwisata Selabintana. Inilah tujuan kami. Syukurlah perjalanan ini berhenti di sini. Rupanya dugaan kami salah. Saya berbincang dengan petugas keamanan (satpam) dan ternyata ini hanya sebuah hotel, bukan kemah camping. Di sini tidak ada kawasan untuk camping. Dia memberi informasi kalau tempat camping itu di daerah lain. Dia memberi petunjuk, kami turun lagi dansampai di pertigaan ambil arah kanan lalu ikuti terus jalan itu.

Kami menyusuri rute baru ini. Wah….lebih gawat dari rute sebelumnya. Jalanan kecil dan berlubang. Saya merekam perjalanan ini. Tempat-tempat yang berlubang kami jadikan bahan video perjalanan. Rutenya menanjak lalu datar. Kami melewati gerbang masuk dan membayar Rp. 30.000 untuk karcis masuk, mobil dan 3 orang pengunjung. Wah mahal juga. Lalu kami tiba di kawasan camping.

Ada 3 tempat yang kami survei. Pertama camping area Cipelang. Dari tempat parkir ke arah kanan. Tempatnya agak rendah. Ada sungai yang segar, pondok, kamar mandi, dan lapangan. Tempat ini langsung berhadapan dengan alam. Tempat yang dikelola oleh pemda Sukabumi ini tampak tidak terawat. Kamar mandi dan pondoknya kurang bersih.

Kedua camping area Halimun. Ini tempat yang bersih. Tempat yang dikelola perhutani (Perusahaan Hutan Negara Indonesia) ini berada di daerah bukit. Dari tempat parkir ke kiri (ke atas). Tempatnya luas, ada aula besar, koneksi internet wifi, kamar mandi dan toilet bersih. Harganya terjangkau. Sayangnya di sini tidak boleh membunyikan musik. Takutnya hewan yang berkeliaran di sekitar kawasan ini terganggu dan enggan untuk mendiami kawasan ini. Begitu penjelasan singkat dari petugas yang menerima kami.

Ketiga camping area Elang Jawa. Tempat ini dikelola oleh seorang masyarakat di sekitar itu. Letaknya berdekatan dengan Halimun. Kawasannya tidak terlalu luas tetapi bersih.

Setelah semua informasi ketiga tempat ini kami peroleh, kami kembali ke kota Sukabumi. Kami sempat berhenti di kawasan perkebunan Teh, berfoto-foto sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Di kota Sukabumi ini kami singgah di rumah salah satu temannya Kornel. Bagaimana kisah selanjutnya? Nanti saya ceritakan. (bersambung)

CPR, 6/7/2012
Gordi Afri

Gambar: dokumen pribadi
Menjelang liburan biasanya banyak orang mencari tempat camping. Camping menjadi salah satu alternatif kegiatan untuk mengisi liburan. Lazimnya rekreasi. Lebih asyik kalau rekreasi itu tidak sekadar bersenang-senang tetapi juga diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Bukan berarti rekreasi tidak bermanfaat. Bukan. Rekreasi yang disertai dengan jadwal yang teratur dan terarah akan lebih banyak gunanya ketimbang bebas begitu saja.

Kami sekomunitas pun mau mengisi liburan bulan Juni dengan kegiatan camping. Lumayan ada 3 hari yang kami sediakan untuk kegiatan itu. Acara lain pada liburan adalah membersihkan rumah, retret ke Yogyakarta, persiapan pulang liburan, dan sebagainya. Tidak semua kami libur tetapi sebagian kecil libur. Untuk kegiatan camping, kami menyurvei beberapa tempat antara lain di Pondok Halimun, Sukabumi.

Kami berangkat ke sana pada 26 April 2012. Saya bersama dua orang teman, Kornel dan Yudi. Kornel pernah melewati rute ke sana meski tidak sampai di tempat yang kami tuju. Dia pernah sampai di dekat kota Sukabumi. Dia memang hobi berpetualang. Waktu itu, dia mengantar kelompok yang mengadakan camping di daerah sekitar Sukabumi. Kebetulan dia juga seorang sopir sehingga genaplah hobinya ini.

Berbekalkan pengetahuan tentang rute ini, kami berangkat. Kornel juga menambah informasi dengan membawa peta Jakarta dan Sekitarnya terbitan tahun 2005. Dari peta ini, kami belajar banyak tentang rute daerah Sukabumi. Informasi lain dia peroleh dari internet. Jadi, boleh dibilang kami mempunyai pengetahuan yang cukup untuk sampai di sana.

Meski demikian, semuanya itu hanyalah pengetahuan indrawi yang abstrak. Kadang-kadang pengetahuan itu tidak sesuai dengan pengalaman konkret. Di kepala kita mengetahui jalur A akan berakhir di titik Z. Dalam kenyataannya kita sulit menemukan titik yang ditunjukkan dalam pengetahuan kita. Dalam peta kita melihat jarak antara dua tempat dekat sekali, dalam kenyataannya jaraknya jauh.

Kami mengambil rute dari Jakarta lewat tol jagorawi lalu keluar di Ciawi, mengikuti jalur angkutan ke Sukabumi. Jalur ini amat ramai. Daerah Sukabumi dan sekitarnya merupakan kawasan industri/pabrik. Jangan heran kalau pabrik besar seperti Aqua, Kratingdaeng, Pocari Sweat, mempunyai kantornya di sini. Truk-truk besar pun keluar masuk di jalur ini. Belum lagi dengan kendaraan roda dua yang lalu lalang. Angkutan kecil seperti minibus dan L-300 berkeliaran. Kendaraan L-300 ini dikenal sebagai raja jalan. Dialah metromininya jalur Bogor-Sukabumi.

Kami yang menggunakan kijang LGX pun ikut dalam rombongan padat-merayap. Kami tiba di Ciawi pukul 9. Selanjutnya menyusuri jalan ke kota Sukabumi dan tiba di kotanya menjelang pukul 12 siang. Di sinilah kami mulai kebingungan. Dalam rencana kami mengambil rute ke arah Cipelang. Kami mengambil arah Utara sesuai yang tertulis di peta. Namun begitu kami tanya di beberapa penjual bakso, arah Cipelang itu ternyata ke Selatan. Wah…..kok terbalik ya. Apa kami salah membaca peta?

Gambar:dokumen rpibadi
Kami berhenti di dekat Gereja Katolik. Inilah satu-satunya tempat ibadat bagi umat Katolik di kota kecil ini. Saya masuk ke halaman gereja dan bertanya kepada beberapa orang yang duduk di situ. Kebetulan mereka sedang duduk di teras gedung sekretariat gereja. Suasananya sejuk, terik mentari ditutupi dedaunan rindang yang ada di halaman gereja. Menurut mereka, Cipelang juga ke arah Selatan. Tetapi kalau tempat camping ke arah Utara yakni di Pondok Halimun. Bimbang….mau ke manakah kami??? Bagaimana kisah selanjutnya??? (bersambung)

CPR, 6/7/2012
Gordi Afri


Sebagian dari kami pernah mendengar nama ‘kawah ratu’. Nama yang diceritakan oleh teman-teman yang pernah ke sana. Nama ini sekaligus mengundang rasa penasaran. Ada apa di sana? Kata orang, ada kawah yang indah. Layaknya sang ratu—di mana-mana mesti cantik—kawah ini mengundang orang untuk melihatnya.

Kesempatan ke sana ditunggu-tunggu. Kemarin, ke Air Terjun, hari ini mesti ke Kawah Ratu. Kawah yang terletak di ketinggian 1.338 meter dpl, dan memiliki suhu sekitar 10-24 derajat Celcius ini menjadi tempat kedua yang kami kunjungi saat camping kali ini. Rombongan pun dipecah menjadi beberapa kelompok. Kami melewati pos jaga pintu masuk Cidahu. Tidak jauh dari tempat kami berkemah.

Menurut catatan seorang blogger yang dimuat di tenjolaya.wordpress.com, terdapat tiga jalur menuju Kawah Ratu. Salah satunya adalah yang kami lewati, yang berada di Selatan Gunung Salak. Dua lainnya adalah melalui jalur Pasir Reungit dan Perkemahan Gunung Bunder. Keduanya berada di Utara Gunung Salak dan berada di wilayah Kabupaten Bogor.

Perjalanan cukup melelahkan. Mulai dengan mendaki sepanjang hutan. Dari pos jaga menuju pintu gerbang saja sudah menanjak. Di sini ada jalur yang diaspal. Sesekali ada mobil wisata lewat. Kami memilih berjalan kaki dan melalui jalur tikus sehingga cepat sampai di pintu gerbang.*Semua gambar dari google images

Dari pintu gerbang menuju daerah Kawah Ratu, terdapat medan yang menantang. Ada tanjakan, turunan, jalan tanah yang licin, diselingi bebatuan. Siap-siap saja memasang kuda-kuda sehingga tidak terpeleset. Bagi yang tidak biasa melewati jalan tanah nan licin, rute ini menjadi latihan. Sesekali ada yang terjungkal. Belum lagi, ada cabang pohon yang menutup badan jalan. Rute ini juga yang dilalui oleh pendaki Gunung Salak sehingga jangan heran kalau lebar jalan seukuran dua bahu manusia.

Selain itu, di jalan ini terdapat banyak lintah darat. Hewan yang mengisap darah kotor manusia. Beruntunglah mereka yang memiliki banyak darah kotor dalam tubuhnya. Namun, jangan terlena. Sebab, kadang-kadang lintah menempel di tempat yang tidak diinginkan. Bahkan ada yang menempel di paha, tidak sadar kalau dia sudah di dalam celana panjang yang kita pakai. Anggota rombongan kali ini rupanya cekatan sehingga tidak ada yang kecolongan lintah. Hanya menempel di betis saja. Beberapa orang bahkan membiarkannya berlama-lama. Ketika di kemah baru dilepas.

Ketika tiba di daerah Kawah Ratu, bau belerang sudah tercium. Segera kami membaca petunjuk di papan tua, dilarang menunduk terlalu lama. Menghirup gas beracun seperti belerang dapat mengganggu pernapasan bahkan ada yang tidak bertahan sehingga mati. Konon, sekitar tahun 2010, seperti dikutip dalam ruudtje.blogspot.com, ada 6 orang pelajar yang meninggal karena menghirup gas beracun ini.
Pemandangan indah pun terpampang di depan mata. Beberapa teman sudah tidak sabar menyentuh air hangat di beberapa tempat. Di sini mengalir air hangat yang bisa menyembuhkan penyakit kulit. Selain itu, pemandangan lain adalah bagian tengah kawah yang ditumbuhi beberapa pohon saja. Pohon ini rupanya bisa bertahan di tengah daerah yang mengeluarkan air hangat serta bau belerang. Sebagian besar memang tampak tanah kosong tanpa tumbuh-tumbuhan. Sedangkan di luar kawasan kawah, ada tetumbuhan seperti pohon di hutan.

Kawah yang berdekatan dengan dua kawah lain ini bisa menjadi potensi wisata yang menjanjikan. Asal saja dikelola dengan baik. Rute perjalanan misalnya mesti dibersihkan sehingga pengunjung tidak kesulitan. Selain itu, pengunjung diharapkan untuk menertibkan sampah bawaannya khususnya yang berbahan plastik. Kalau dibebankan kepada pengelola atau penjaga kawasan, tugas ini tidak berhasil. Dua kawah lainnya adalah Kawah Mati I (1.330 meter) di Sebelah Utara Kawah Ratu dan Kawah Melati II (1.335 meter) di Sebelah Selatan.

Setelah berfoto bersama, rombongan kembali ke kemah. Perjalanan pulang cukup lancar sebab, semuanya sudah hafal dengan rute perjalanan. Hanya saja beberapa orang tetap merasa capek. Bahkan ada yang berkomentar kalau tahu begini rutenya, saya tidak datang. Meski demikian sebagian besar anggota rombongan puas. Tenaga yang dikeluarkan dibayar dengan pemandangan indah di Kawah Ratu. Pemadangan alam yang mengagumkan, yang tak sebanding dengan nominal uang dan harta manusia. Maka, hormatilah alam ciptaan Tuhan. Di situ tersimpan sejuta keindahan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Hanya pengalaman yang membuat manusia kagum pada ciptaan Tuhan. (Habis)
Cempaka Putih, 21 Juli 2011

 Gordi Afri

foto dari google
Malam kedua camping di Batu Tapak. Tidak ada lagi kehangatan saat tidur. Padahal selimut tebal bahkan springbad sudah melilit di seluruh badan. Apa sebabnya? 

Belum lagi terpal yang menjadi alas tidur basah. Duduk di atas alas yang hampir basah hingga permukaan. Di bawah terpal itu merembes air. Air dari mana di daerah gunung seperti ini?

Beginilah situasi malam kedua di tempat camping. Malam yang tidak bersahabat. Kami tidak bisa istirahat dengan nyenyak di tengah kedinginan itu. Bukan hanya dingin karena angin. Malam ini dingin itu muncul dari air hujan. Alas tidur pun basah.

Air itu turun melalui dinding kemah yang menyatu dengan atapnya. Pelan-pelan dia merembes ke seluruh daerah yang ditutup terpal. Tanah datar membuat air itu tergenang. Masih ada beberapa bagian kecil di tenda besar yang belum tersentuh air. Di situlah berdempetan beberapa teman. Mencari tempat yang nyaman untuk istirahat.

Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Hujan belum reda. Beberapa teman menengok kondisi tenda. Merekalah yang menghuni empat tenda kecil. Di situ, air merembes juga. Tenda yang langit-langitnya berbentuk lancip. Dindingnya menyatu dengan atap. Jangan heran kalau air dari atas turun melalui dinding itu.

Meski demikian, kondisinya tidak separah di tenda besar. Di sini, alas tenda terbuat dari bahan seperti terpal. Alas ini merupakan bagian dari tenda. Jadi, tenda ini mempunyai ruang yang ditutupi bagian-bagian tenda yang menyatu.

Dari langit-langit, dinding, hingga alas. Di langit-langit pun ada dua bagian. Bagian dalam menyatu dengan bagian yang berhubungan langsung dengan dinding. Sedangkan, bagian luarnya terpisah. Biasanya, bagian luar ini digelar di atas langit-langit dalam. Dia dipasang setelah bagian lain terpasang semua.

Penghuni tenda rupanya pintar. Mereka hampir mengalahkan kekuatan air yang merembes di bawah alas tenda. Mereka menggelar satu terpal lagi di dalam tenda. Jadi, ada dua alas. Alas pertama adalah terpal yang terpisah dari bagian tenda. Dan alas kedua yang menyatu dengan tenda.

Itulah sebabnya, saya dan beberapa teman penghuni tenda bisa tidur nyenyak malam ini. Namun, tidak semua bagian alas tenda kering. Sebagian kecil masih bisa dirembesi genangan. Air ini memang kuat pengaruhnya. Menembusi dua terpal. Bagian besar yang kering itu menjadi penyelamat bagi kami. Air ini menjadi penghambat istirahat bagi sebagian peserta camping.

Kondisi ini tak menyurut kebahagiaan kami di tempat ini. Masih ada canda dan tawa ria setelah kesokan paginya bangun kesiangan. Ini memang bagian dari warna-warni kegiatan camping. Ini hanya satu malam saja. Belum tersaingi dengan pemulung yang tidur di emperen toko pada musim dingin di Eropa. Tuhan punya cara tersendiri untuk melindungi semua anaknya di dunia ini. (Bersambung...)

Cempaka Putih, 11 Juli 2011
Gordi Afri


Diberdayakan oleh Blogger.