Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label TANGERANG. Tampilkan semua postingan

Google images
Sabtu, 26 April 2011. Rombongan yang terdiri atas 3 mobil berjalan beriringan menuju kota Tangerang. Mobil hitam di ujung depan menjadi pemandu jalan. Mobil kedua berwarna metal dan mobil ketiga berwarna abu-abu mengikuti dari belakang.



Perjalanan ini berujung di Jalan Veteran Raya, Tangerang. Di situ ada Lembaga Permasyarakatan Kelas I (LP) Tangerang. Salah satu LP di daerah Tangerang. Di sini “dibina” sekitar ribuan orang. Menurut seorang penghuni, kebanyakan adalah “tahanan” narkotika (60-an%), menyusul kriminal. Ada beberapa yang digolongkan kasus korupsi namun jumlahnya kecil.

Lima teman saya kaget ketika masuk dan harus menyerahkan KTP. Maklum mereka baru pertama kali datang. Saya dan beberapa teman dari Kemakmuran, Jakarta Barat tiap bulan datang ke sini. Perjalanan selama lebih kurang 1 jam dari Jakarta tidak menyurutkan semangat teman-teman untuk melihat dari dekat LP Provinsi Banten ini.

Begitu juga dengan sebuah keluarga dokter (istri-suami, penyebutan menurut alfabetis) yang baru pertama kali juga. Mereka kaget ketika sampai di dalam ruang masuk. “Wah kalian dicap ya, untuk memnedakan dari para tahanan di sini,” komentar seorang teman kepada teman-teman yang baru.

Sedikit tentang LP Tangerang. Menurut Kepala KPLP Lapas Kelas 1 Tangerang, Muhammad Sanni seperti diberitakan tribunnews.com 4/1/2011, Secara keseluruhan saat ini Lapas Kelas 1 Tangerang menampung 1053 penghuni yang terdiri dari tahanan dan warga binaan. Kapasitas Lapas ini sebenarnya adalah 700 orang.


Gereja Anugerah
foto / V Ladjar

Kami berjalan melalui jalan kecil menuju gedung Gereja Anugerah. Jalan yang cukup bagus dan sempit, lebarnya setengah meter. Terbuat dari konblok yang disusun rapi sepanjang 300 meter. Gereja Anugerah merupakan sarana peribadatan bagi orang Kristen dari berbagai denominasi dan bagi orang Katolik. Di sini mereka dibina secara rohani. Makanya tiap Minggu ada ibadat.

Kami yang terdiri atas rombongan campuran (pastor, calon pastor, dan awam) ingin memberi mereka makanan rohani dan jasmani. Ada ibadat, pelayanan kesehatan dengan membagikan obat gratis, dan juga memberi bingkisan berupa nasi bungkus.

Sementara kami menyapa dan bercakap-cakap dengan sekian tahanan, pastor melayani pengakuan dosa. Setelahnya, kami mempersiapkan lagu untuk misa (perayaan ekaristi). Hari ini Hari Raya Minggu Palma, mengenang perayaan Yesus disambut di kota Yerusalem. Mirip dengan Yesus, para tahanan disambut dalam perayaan Ekaristi.

Perayaan dimulai. Lagu Dikala Yesus Disambut di Yerusalem digemakan. Kami beserta para tahanan yang Katolik mengangkat daun Palma, bersorak gembira, dan menyanyikan lagu itu. teman-teman Kristen lainnya ikut bernyanyi ala kadarnya. Mereka senang mengikuti perayaan ibadat seperti ini. Cara atau ritusnya berbeda namun imannya hampir sama yakni iman kepada Yesus Kristus. Ritus inilah yang membedakan Kristen Protestan dan Katolik.

Para tahanan ternyata memiliki pengalaman unik. Setelah pastor berkhotbah, mereka diberi kesempatan untuk membagikan pengalaman. Ada yang mengalami pergulatan ketika dijebloskan di penjara. Kadang-kadang, akar permasalahan kasus tidak jelas namun mereka tetap dijerat begitu saja. Mau bilang apa. Mungkin memang mereka belum bisa memahami proses hukum negeri ini. Atau bisa juga mereka memang jadi korban. Tak jarang pelaku utama tidak dijebloskan.


Ada pula yang baru sadar setelah mengalami pembinaan dalam penjara. Dari sini, mereka berniat mengubah kebiasaan setelah keluar. Ini cita-cita yang mencerahkan masa depan mereka. Di sini akan kelihatan kerja keras dan perjuangan mereka. Keinginan baik ini kadang dikubur begitu saja ketika berhadapan dengan situasi di luar penjara. Godaan untuk jatuh pada masalah yang sama tetap diwaspadai.

Ada juga kisah menarik lain. Perbincangan setelah perayaan ekaristi mengungkap kisah ini. Ada yang mengeluhkan susahnya hidup di Jakarta sekarang. Beban ekonomi tinggi. Belum lagi kondisi sosial yang tidak bersahabat. Ancaman akan nyawa terjadi di mana-mana. “Lebih baik tinggal di dalam saja,” kata seorang tahanan sambil tertawa.

Di dalam penjara semua kebutuhan hidup terpenuhi. Makanan tersedia, fasilitas olahraga, fasilitas hidup lain terjamin. Lantas mereka ingin dipenjara selamanya. Bahkan ada beberapa yang secara terang-terangan mengatakan, kalau keluar akan membuat kasus lagi. Ditangkap lalu dimasukkan penjara lagi. Kalau yang masih bujang tentu gampang. Menjadi masalah bagi mereka yang sudah berkeluarga. Keluarga, istri, dan anak menderita. Keluarga menanggung beban ekonomi. Anak-anak tidak merasakan kasih sayang dari sang ayah.

Perbincangan ini menyiratkan kesan persahabatan yang mendalam. Persahabatan ini menghilangkan prasangka buruk terhadap tahanan di penjara. Mereka juga manusia. Manusia yang baik seperti kami, dan kita manusia pada umumnya. Hanya saja mereka di dalam dan kita di luar penjara. Lewat perbincangan itulah kami bisa bersahabat.

Ketika kami membagi makanan, mereka mengucapkan terima kasih. Ini kegiatan terakhir sebelum kami meninggalkan rumah tahan ini.  Ucapan terima kasih mereka keluar dari hati terdalam. Mereka merindukan makanan enak, dan sebagai manusia-sosial, mereka merindukan kunjungan dari orang dari luar.

Mereka menyadari arti pentingnya hidup sehat. Sehat itu mahal apalagi bagi mereka. Kalau sakit merekalah yang membiayai pengobatan. Mereka sangat senang ketika keluarga dokter membagikan obat sesuai keluhan masing-masing. Ada pula yang hanya meminta vitamin. Asupan gizi kadang tidak memadai. Sementara tubuh mereka membutuhkan gizi. Pembagian obat ini semata-mata untuk menghormati mereka sebagai manusia terutama juga tubuh mereka yang membutuhkan perawatan. Rawatlah diri kalian dan semoga lekas menikmati hidup di luar penjara. Semoga kelak akan menjadi orang yang berguna ketika kembali ke masyarakat. Terima kasih sahabat atas pengalaman kalian. 

Cempaka Putih, 14 Mei 2011
Gordi Afri

Foto: dokumen pribadi
*Bagian ketiga (terakhir)

Dari Tanjung Kait menuju Jakarta melalui Cengkareng. Tiga topografi yang berbeda. Tanjung Kait dengan pantainya yang luas dan air lautnya yang kotor. Jalanan kecil di pinggir pantai beserta rumah penduduk yang padat dan kumuh menuju bandara Soekarno-Hatta. Jalanan bebas hambatan (tol) dari bandara (Cengkareng) menuju Jakarta.

Setelah makan siang pada hari kedua, kami siap-siap menuju Jakarta. Beberapa orang di antara kami bernego dengan pengelola kawasan Tanjung Kait. Kami memberi sejumlah uang sebagai imbalan atas bantuan Bang Boy (penjaga kawasan itu) dan kawan-kawan. Mereka yang membantu kami memasak, menyediakan makanan dan minuman serta menjamin keamanan selama berada di sana. Ada tiga orang ibu dan dua bapak yang membantu kami. Setelah negosiasi, kami berjabatan tangan satu per satu kepada Bang Boy dkk sebagai tanda terima kasih. Keakraban yang terjalin selama di sana kini berakhir namun ada harapan untuk melanjutkan kembali. “Kapan-kapan datang lagi ya bang,” tutur seorang ibu dengan senyum ramahnya.

Kami membutuhkan mereka dan mereka membutuhkan kami. Mereka menyumbangkan tenaganya dengan memasak, menyediakan makanan dan minuman, menyediakan tempat bagi kami, membeli makanan dan air minum di pasar, dan sebagainya. Kami menyediakan uang untuk membeli makanan, menyediakan gas untuk tungku api beserta perlengkapan lain misalnya piring, sendok, gelas, dan tempat nasi. Di sini terjadi relasi yang saling melengkapi. Makanya sebelum pulang, kami memberi penghargaan kepada mereka. Relasi yang dibangun ini merupakan relasi mutualisme. Landasan dasarnya adalah saling membutuhkan sehingga saling melengkapi. Dalam hal ini, manusia sebagai makhluk sosial mencapai relevansinya.

Bukan menjemput dan mengantar
Jalanan kecil menghubungkan Tanjung Kait dengan Cengkareng, tepatnya bandara internasional Soekarno-Hatta. Jalanan dengan panjang kurang lebih 5 kilo meter  terbuat dari coran (campuran) semen yang tebalnya kurang lebih 30 cm. Lalu lintasnya lancar. Mobil yang lewat di tengah daerah persawahan itu dapat melintas dengan kecepatan 60-80 km/jam. Keluar dari daerah ini, mobil melaju dengan lambat karena jalanan kecil dan mobil yang lewat semakin banyak. Di kiri-kanan jalan terdapat rumah penduduk yang kumuh dan padat. Warga di beberapa tempat bahkan mandi dan mencuci pakain mereka di selokan besar. Airnya agak keruh.

Satu kawasan dengan pemandangan cukup bagus adalah kompleks sekolah tinggi kelautan. Kompleks ini terletak di pinggir pantai dan terdiri atas beberapa unit gedung. Berbanding terbalik dengan sebagian besar rumah warga yang berupa kelompok rumah yang padat. Di pinggir jalan terdapat banyak usaha kecil menengah seperti pembuatan bata merah, dan pabrik-pabrik kecil yang letaknya pas di bibir jalan. Dengan laju mobil yang diperlambat, kami menikmati pemandangan yang kurang bersahabat di pinggir jalan. Ada pekerja bangunan, pekerja selokan jalan, angkutan kota yang ngetem di sembarang tempat, dll. Setelah melaju selama satu jam, kami tiba di kawasan bandara Soekarno-Hatta.

Foto: dokumen pribadi
Mobil kami masuk bandara berdampingan dengan mobil lain yang mengantar dan menjemput penumpang. Perbedaan yang mencolok adalah mobil kami berlumuran lumpur sedangkan mobil lain masih mengkilat. Selain itu, kami adalah penumpang yang numpang lewat di kawasan bandara sedangkan penumpang di mobil lain adalah penumpang yang menjemput dan mengantar keluarga atau juga penumpang yang mau berangkat ke luar negeri. Keluar dari bandara melalui tol. Jalan bebas hambatan yang menghubungkan bandara dengan Jakarta ini agak ironis dengan jalan yang menghubungkan Tanjung Kait dengan Cengkareng. Dalam tempo 45 menit, kami sudah sampai di rumah.

Bukan akhir dari petualangan
Kegiatan selama dua hari satu malam ini betul-betul sebuah petualangan. Lebih dari petualangan, kegiatan ini merupakan sebuah peziarahan. Kehidupan manusia merupakan sebuah peziarahan. Peziarahan dari kecil hingga tua. Kegiatan ini merupakan petualangan karena berangkat dari realitas Jakarta yang hiruk-pikuk dengan kesibukannya menuju tempat yang nyaman untuk beristirahat dan berekreasi. Petualangan ini bukanlah akhir. Petualangan ini menjadi start point bagi kami untuk berkativitas dengan semangat baru. Petualangan ini menjadi “kolam semangat” yang nantinya bisa  dialirkan dalam aktivitas di Jakarta. Pada akhirnya petualangan ini mesti berujung pada Sang Pencipta sebagai sumber semangat.

Dia-lah yang menjadikan segala yang ada. Kami dan kita manusia seluruhnya hanya bisa melihat semua ciptaan-Nya yang begitu indah. Tak berlebihan jika saya mengatakan antara Jakarta-Tangerang-Cengkareng-Jakarta ada Tuhan, Sang Pencipta. Dia tampak dalam alam dan laut yang kelihatan dan dalam suasana segar dan suasana akrab yang tidak kelihatan namun dirasakan. Di sini kita ditantang untuk melihat Dia dalam segala sesuatu yang kita lihat. Dia mengajak kita untuk membuka mata, mencari, dan menemukan Dia dalam pengalaman hidup. Bagi mereka yang bekerja di pabrik, petugas bandara, pegawai dan petugas yang bekerja di jalan tol, sopir angkutan, dan profesi lainnya ditantang untuk menemukan Tuhan dalam aktivitas. Tuhan ada di mana-mana namun Tuhan bukan segala yang kita lihat. Tuhan tidak melebur dalam benda yang kita lihat (Panteisme). Tuhan ada di balik segala yang kita lihat dan yang kita kerjakan.
Cempaka Putih, 22  Februari  2011

Gordy Afri

gambar: google
*Bagian kedua dari Petualangan di Tanjung Kait



Seorang pendidik di daerah pedalaman Papua pernah berujar, “Tak ada rotan, akar pun bisa.” Artinya? Rotan di sana dipakai untuk “mendidik” (bahasa kasarnya memukul) siswi/a. Ketika rotan tidak ada, akar kayu pun bisa dijadikan sarana untuk “mendidik” siswi/a. Sarana apa pun bisa digunakan untuk berbagai hal asal saja kita kreatif merangkainya.

Sebelum masuk di tempat yang dituju, kami harus melalui jalan berlumpur. Daerah bertopografi datar ini baru saja diguyur hujan sehingga mau tak mau tergenang air. Tidak ada lagi aspal. Hanya bekas pasir yang disiram seadanya agar ban mobil tidak tertanan dalam lumpur. Kami melewati dua tiang tembok di kiri-kanan jalan sebagai gerbang. Gerbang bertujuan untuk menjaga agar mobil besar tidak masuk. Entah mengapa demikian, pokoknya yang bisa (dan boleh) masuk hanya kendaraan berukuran kecil. Kondisi jalan memang sangat cocok untuk kendaraan kecil. Kalau dipaksa, jalanan itu rusak karena bahan dasarnya tidak terlalu keras menampung beban kendaraan berukuran besar.

Sekitar markas
Tempat yang kami gunakan hanyalah sebagian dari kawasan yang dinamakan Tanjung Kait. Menurut cerita dari warga setempat, tanah itu milik AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Dulunya, di tempat ini, dibangun sebuah Radar kuno milik AURI. Sampai sekarang, masih terlihat bekas patahan tembok besar di sekitar pantai dan ada satu bongkahan tembok berbentuk persegi dengan empat fondasi tiang di sisinya. Yang tersisa dengan jelas adalah sebuah gedung berukuran besar. Gedung ini diperkirakan sebagai tempat pengendali radar itu dan tempat tinggal petugas radar. Di dalamnya ada kamar mandi dan WC. Daerah ini sekarang diserahkan ke aparat desa dan masyarakat boleh mengelolanya.

Di sekitar markas (meminjam istilah dalam dunia militer), ada pemandangan yang membuat mata kami enggan terpejam dan seakan-akan mampu membersihkan lekatan-lekatan polusi di mata kami. Di bagian belakang (posisi menghadap ke laut), ada hamparan sawah yang luas yang berbatasan dengan rumah warga. Sebagian dari sawah itu masuk dalam lahan milik AURI dan sebagian besarnya milik warga di kampung sekitar. Lagi-lagi rakyat sekitar mengelola  sebagian lahan ini untuk bertanam. Padinya berumur sekitar 1,5 bulan setelah ditanam. Kehijauan pun langsung memikat mata kami. Seluruh hamparan berwarna hijau. Beda banget sama Jakarta yang penuh dengan bangunan tinggi.

Selain itu di samping kiri, ada usaha tambak garam. Hamparan yang begitu luas dipetak-kan dalam ukuran besar. Di situlah para pengusaha garam laut mengharapkan rezeki untuk menyambung hidup. Bagian sebelah kanan, masih berupa lahan kosong yang ditumbuhii rumput liar. Dan, yang terakhir adalah pemandangan laut yang indah kalau menatap jauh ke depan dan kurang begitu indah kalau menatap dengan jarak dekat. Airnya bukan bening kehijauan lagi tetapi agak kuning dan kotor. Meski demikian, di tempat ini kami tetap menghirup udara segar dan bersih serta menikmati desiran ombak di siang dan malam hari. Ada satu pondok-panggung yang terletak di “tengah laut” sekitar 100m dari bibir pantai. Pondok ini beratap daun seperti alang-alang dan berdindingkan anyaman. Ada jembatan bambu sebagai penghubung ke sana. Terdiri atas bambu yang disambung dengan bambu palang di sisi kanan sebagai alat bantu menjaga keseimbangan.

Di atas pasir
Tempat kami berteduh berupa kemah-kemah, yang dilengkapi dengan bale-bale atau tenda di dalamnya. Kami menggunakan satu dari beberapa kemah yang ada. Kemah-kemah ini juga dipakai oleh beberapa penjual minuman dan makanan ringan sebagai tempat menyimpan jualan. Kadang-kadang bale-balenya digunakan oleh tamu untuk duduk-duduk. Tempat yang cocok untuk menikmati pemandangan laut dan melepas lelah. Tak heran ketika beberapa pasangan mudi/a pun sering datang ke tempat ini di siang dan malam hari. Ada juga pasangan siswi/a yang bolos dari sekolah dan ngobrol di bale-bale ini. Kalau siang kita melihat laut sedangkan malam kita melihat ratusan cahaya dari para nelayan kecil yang mencari ikan.

Kemah ini didirikan di atas dasar pasir. Padahal “rumah yang dibangun di atas pasir gampang diterpa angin ketimbang yang dibangun di atas batu.” Di atas pasir ini kami mengadakan perayaan ekaristi pada sore hari. Di atas pasir ini juga kami menari. Kebetulan ada yang membawa perlengkapan musik sehingga di waktu senggang kami--atas inisiatif kelompok tertentu—menari-nari dengan iringan musik yang ada. Selain itu, kami juga bermain futsal di atas pasir ini. Bola futsal bergelinding, dari kaki ke kaki membentur tiang kemah dan sesekali mengapung  ke permukaan laut ketika ada pemain yang salah mengoper bola. Wah….kumpulan orang kreatif, lahan pasir dijadikan bar (tempat menari) dan lapangan (tempat bermain futsal). Kita kembali ke Papua ala Tangerang, “Tak ada lapangan, permukaan pasir pantai pun jadi, tak ada bar permukaan pantai pasir pun jadi.”

Malam persaudaraan
Datang tadi pagi dan kembali besok siang. Malam ini harus menjadi waktu yang berkesan selama berada Tanjung Kait. Malam ini disebut “Malam Persaudaraan”. Setelah makan malam, kami membentuk kelompok permainan. Ada yang bermain ular tangga, kartu foker, monopoli, catur, dan jenis permainan lainnya. Inilah kesempatan untuk mempererat persaudaraan antara kami. Semua kami bergembira dan larut dalam permainan yang menyita perhatiannya. Untuk menghangatkan perut yang dihembus angin dari laut dan untuk maramaikan suasana malam, kami minum kopi. Wah…kopi penghangat perut, awas…mete sampai pagi.

Malam semakin larut, dan satu per satu kami menuju peraduan. Ada kelompok yang berbaring di atas bale-bale kemah tak berdinding dan hanya beratap. Dinginnnnnn… deru ombak dan hembusan angin malam masih terasa. Perut kedinginannnn…cepat-cepat dipoles minyak angin dan dibalut selimut tebal. Setebal apa pun pasti kedinginan karena langsung berhadapan dengan angin laut yang tak ada penghalangnya. Belum lagi, tengah malam hujan gerimis turun. Sebagian yang ditenda/bale-bale menghilang mencari penyelamatan di gedung. Yang di dalam kemah sibuk memperbaiki atap agar tidak bocor. Ada pula yang terlelap di pondok panggung di “tengah laut”. Mula-mula hanya memancing, lama-lama tertidur. Lanjutkan tidur….sampai besok pagi….. (bersambung….)


Cempaka Putih, 6 Februari  2011

Gordy Afri

*Bagian pertama dari tiga tulisan

Pengalaman bertemu tempat baru selalu menyimpan kenangan indah. Hampir pasti itulah yang menjadi abadi dari setiap petualangan. Oleh sebab itu, berpetualang menjadi kegiatan yang selalu dicari dan dirindukan oleh sebagian besar manusia. Berpetualang seperti apakah yang ditampilkan dalam kisah petualang ini?

Tanggal 10 dan 11 Januari yang lalu, saya dan konfrater sekomunitas berpetualang ke salah satu pantai di Tangerang. Kami mau merasakan suasana baru di saat liburan. Dari Jakarta ke Tangerang. Ada banyak hal yang berbeda. Kualitas udara, pemandangan, kondisi geografis, dan sebagainya. Tentu perbandingan ini tidak dibuat untuk mengukur kota mana yang terbaik. Ini hanya penggambaran bagaimana kondisi Jakarta, tempat kami tinggal, dan pantai Tanjung Kait, Mauk, tempat kami berpetualang.

Jarak yang ditempuh cukup dekat ketimbang ke daerah puncak. Namun, perbedaan jarak sama sekali tidak menentukan lamanya perjalanan. Kondisi jalan yang dilalui merupakan salah satu penentu. Kalau ke puncak, kami biasanya melalui jalan tol sehingga waktu tempuh lebih singkat. Kami melalui jalan raya biasa alias bukan tol ke Tanjung Kait. Jalan ke puncak sebagian besarnya bebas hambatan. Sementara, jalan ke Tanjung Kait banyak hambatannya. Ini yang menyebabkan serunya berpetualang ke daerah puncak dan Tanjung Kait berbeda. Kami menghabiskan waktu 3 jam dengan panjang jalan sekitar 57 km (Jakarta-Tangerang 30 km dan Tangerang-Mauk 20 km).

Liku-liku perjalanan

Kami berangkat pagi-pagi dari Jakarta, Cempaka Putih. Sebelum, kendaraan yang mengantar anak sekolah melaju di jalan, kendaraan kami sudah berada di jalan. Boleh dibilang, kami-lah yang termasuk kelompok awal yang menggunakan jalan raya Jakarta pada hari pertama minggu ini. Kami bergerak dari wilayah Jakarta Pusat menuju Jakarta Barat, dan selanjutnya masuk provinsi Banten khususnya daerah Tangerang. Laju kendaraan yang idealnya cepat kini menjadi lambat akibat hujan gerimis. Ya..gerimis mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak semalam.

Keluar dari daerah Jakarta, laju kendaraan tetap saja tidak menentu. Selain gerimis, ada juga kendaraan angkutan dari beberapa pabrik di daerah Tangerang. Kendaraan besar ini kadang-kadang menaikkan penumpang yang adalah pekerja  (buruh) pabrik di sembarang tempat. Bayangkan ribuan lebih pekerja yang beroperasi di daerah yang kami lalu seperti daerah Balaraja, Cikupa, Pasar Kemis, dan Rajeg. Secara keseluruhan jumlah tenaga kerja di kabupaten Tangerang adalah 187.767 orang. Di sini, kami melaju dengan lambat. Selain itu, pekerja yang menggunakan sepeda motor sangat banyak. Pemandangan di jalan sama dengan jejeran lalat yang mengerumuni kecapung yang mati.

Warna-warni pemandangan di sekitar

Setelah melewati daerah basis pabrik, kami boleh menikmati indahnya alam. Ada ratusan pohon kelapa, pisang, dan tumbuhan hijau lain yang berjejer di antara rumah penduduk. Pemandangan hijau berbelang berbagai macam warna. Rumah penduduk desa di kiri-kanan jalan sebagian besar rumah sederhana. Beratapkan genteng natural atau genteng konvensional dan seng, berdindingkan papan, tembok, dan anyaman gedeg. Di beberapa derah terdapat kantor pemerintahan camat, perumahan TNI AU, gedung sekolah (SD dan SMP), Klenteng (tempat ibadat untuk penganut kepercayaan tradisional orang Tionghoa) pasar, dan mini market. Namun, pemandangan berbagai warna ini hanyalah sebagian kecil dari pemandangan utama yakni hijau.

Akhirnya, perjalanan ini merupakan sebuah perjuangan. Perjuangan seperti juga pekerjaan kita lainnya yang mengandung nilai perjuangan. Kami berjuang melintasi liku-liku perjalanan, jalanan macet dan becek, para buruh berjuang di pabrik, para penjual di pasar, para guru dan pegawai di kantor, para petani garam di sekitar pantai, dan berbagai profesi lain. Melalui pemandangan alam yang hijau, kita merasakan indahnya ciptaan Tuhan dan melalui perjuangan dalam profesi, kita mewujudkan aktualisasi diri kita seperti kata Karl Marx. Dalam semuanya itu (alam dan tempat kerja) Tuhan hadir menemani kita manusia.(Bersambung....)

Cempaka Putih, 31 Januari 2011
Gordy Afri
Diberdayakan oleh Blogger.