Halloween party ideas 2015

HIDUP INI MESTI SEDERHANA
 
ILUSTRASI: pixabayfree
Ada ayat klasik yang berbunyi, Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (Matius 16, 26). Kiranya relevan untuk segala zaman.

Zaman ini penuh kontradiksi. Ada yang bersih luarnya padahal kotor dalamnya. Ada yang tampil suci padahal dalamnya penuh munafik. Ayat di atas kiranya bisa menjadi sentilan untuk zaman ini. Untuk apa memperoleh banyak harta tetapi pemilik hartanya tak bernyawa?

Nyawa dan harta memang kadang penuh kontradiksi. Ada yang menampung harta sampai berlimpah. Dalam kelimpahannya, ia menafikan nyawa banyak orang. Tak peduli, nyawa mereka dibayar dengan harga murah, asal hartaku bertambah.

Harta—dengan demikian—seolah-olah lebih berharga dari nyawa. Padahal, yang benar adalah sebaliknya. Nyawalah yang bernilai. Maka, kalau nyawanya hilang, harta itu akan jadi sia-sia.

Saat ini, harta itu makin dikejar. Belum srek kalau belum punya harta melimpah. Dari harta melimpah, naik lagi dengan membuktikan kelimpahannya. Mobil mahal, hp mahal, tas bermerek, dan sebagainya. Padahal, sarana itu akan lebih berguna jika dipakai sesuai fungsinya.

Harta itu bisa diibaratkan dengan beberapa kalimat sederhana yang saya temukan dalam pesan di whatsapp beberapa waktu lalu. Jika diringkas, akan jadi demikian.

Untuk apa beli ipad yang mahal jika ada tablet yang murah.
Untuk apa beli Fortuner jika Avanza saja sudah cukup.
Masih banyak lainnya.

Tampak sederhana namun mendalam. Tablet dan ipad memiliki fungsi yang sama. Memang, bisa saja diberikan argumen yang lebih. Ipad kiranya lebih mahal dari tablet, dan oleh karena itu fungsinya jauh berbeda. Tentu saja bisa. Tetapi, kalau digunakan sesuai fungsinya toh keduanya berjalan beriringan. Soal ada yang kekuatannya lebih, itu urusan kemudian.

Perbandingan ini pas dengan persiapan perjalanan saya ke luar negeri. Dalam masa penantian—selama beberapa hari—di Jakarta, saya mencari koper yang berukuran sedang. Jika tengok di toko dan mol, koper seperti itu diperkirakan berharga 2 juta rupiah ke atas. Tentu saya juga bisa membelinya. Tetapi persoalannya, ada juga koper yang sama dengan harga yang jauh lebih murah.

Saat sedang mencari, sahabat saya memberi kabar gembira. Jika Anda mau—katanya—kita ke daerah Ancol. Di sana ada tempat jual koper yang murah meriah. Saya tentu tergiur dengan harga murah. Namun, saya juga balik bertanya, bagaimana dengan kualitasnya?

Dia dengan yakin menjawab, jangan khawatir. Masih dijelaskan lebih lanjut argumennya, koper dan tas di sana adalah barang-barang baru. Biasanya yang kelewat batas penjualan di toko dan juga tempat penampungan koper tak bertuan di bandara Soekarno-Hatta.

Informasi ini cukup bagi saya. Dan, suatu siang, kami ke sana. Di sanalah terjadi sesuai yang ia kabarkan. Betul-betul menggembirakan. Dengan melewati jalur yang khusus di daerah Mangga Dua kemudian belok ke arah Ancol, tempat ini akan ditemukan.

Di dalam ruang besar itu, ada banyak tas dan koper. Semuanya baru. Rupanya barang-barang ini akan habis dalam 2 hari. Datang setiap Rabu dan Jumat dan akan habis pada saat itu juga.

Setelaj memilah dan memilih, saya akhirnya membeli koper sedang senilai Rp. 550.000. Untuk meyakinkan diri, kami mencek harganya di situs online. Tepat seperti dikatakan Mas penjual, harganya berkisaran 2,5 sampai 3 juta rupiah. Selisihnya besar. Padahal, barangnya sama.

Saya pun yakin, hidup ini mesti sederhana. Kemewahan tidak akan bertahan lama. Makin Anda suka yang mewah, makin Anda ketagihan untuk meraih kemewahan yang lebih. Akhirnya, Anda tidak akan puas dan tidak akan sampai pada kemewahan yang Anda cari.

Saya sendiri puas dengan koper saya yang murah tetapi berkualitas ini. Kami sudah cek luar dalamnya. Kondisinya bagus. Pas untuk membawa pakaian saya dalam perjalanan ke luar negeri.

Quezon City, 13/12/17
Gordi SX


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.