Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label PHILIPPINES. Tampilkan semua postingan

BERDOALAH UNTUK KAMI
 
Berfoto sejenak sebelum berangkat
Di hari-hari akhir liburan ini, saya justru menemukan pengalaman berdoa. Hari ini 1 Desember 2017, saya berdoa bersama di Wisma Conforti sebelum meninggalkan tanah air. Doa rupanya menjadi bekal berharga dalam perjalanan saya selama beberapa tahun ke depan.

Pastor Suhud SX dan Pastor Sandro SX meminta saya untuk memimpin Misa Kudus pagi ini. Saya pun menerimanya dengan senang hati. Inilah kesempatan Misa terakhir dalam bahasa Indonesia di tahun ini. Apalagi, dalam beberapa jam lagi, saya akan ke bandara. Dalam doa itu pun, saya pamit kepada mereka dan kepada teman saya Br Kornel SX serta bapak dan ibu di dapur dan Mas Didin, sopir yang sederhana dan setia.

Doa ini rupanya benar-benar menjadi bekal untuk saya dan untuk mereka yang saya tinggalkan. Dalam Misa, saya mohon doa dari para konfrater agar Tuhan Yesus menguatkan saya. Ia memang berjanji akan menyertai para pewarta-Nya sampai akhir zaman. Saya percaya pada janji itu sehingga saya merasa dikuatkan. Saya juga yakin akan doa dan dukungan dari konfrater yang lain.

Dukungan dan pesan doa ini rupanya datang dari mana-mana. Pesan masuk di hp saya hari ini berisi permintaan doa, mohon doanya dan selamat jalan, selamat jalan dan jangan lupa berdoa untuk kami. Demikian bunyi beberapa pesan. Ini berarti kita memang mesti saling doa. Saya pun membalas pesan-pesan itu dengan kalimat yang kiranya cukup berarti, Terima Kasih dan saling mendoakan ya.

Pesan doa ini memang amat familiar baik untuk sahabat yang jauh maupun yang dekat. Juga untuk keluarga yang kenal baik maupun yang tidak. Pagi ini, keluarga saya juga datang ke wisma untuk mengucapkan selamat jalan dan sampai jumpa. Mama Oni dan suaminya sengaja datang beberapa jam sebelum keberangkatan saya ke bandara.

Kedatangan ini kiranya menjadi bentuk dukungan mereka. Saya sudah berjumpa suaminya serta keluarga lain beberapa hari lalu. Sedangkan Oni belum. Dan pagi ini, kami akhirnya bertemu. Sebelumnya, kami sudah berkomunikasi di hp. Dan meski hanya suara yang bergema, gemaan itu cukup membuat kami merasa dekat.

Kedekatan inilah yang membuat kami akhirnya bertemu. Oni kiranya rindu untuk bertemu. Maka, begitu dia kembali dari liburannya, dia datang. Bukan hanya dia, Mamanya juga rindu bertemu saya. Apa daya, kami tak sempat bertemu. Akhirnya kami berbincang lewat hp saya.

Nenek yang satu ini tidak kenal kami cucu-cucunya. Secara fisik, kami tidak pernah bersua. Tetapi, dalam hati kami saling mendoakan. Lewat hp, kami berbincang panjang lebar. Ada canda dan tawa berbalut kerinduan yang berat untuk bertemu. Maka, di akhir perbincangan, saya berpesan untuk berjumpa di liburan mendatang. Katanya, kalau saya masih ada. Saya memberinya harapan, tunggu saya pulang ya Nek.

Semoga akan jadi nyata. Saya sendiri yakin pada Penyelenggaraan Ilahi. Ada pengalaman berharga seperti ini sebelumnya yang mana Tuhan mengabulkan permohonan kami. Maka, perjanjian kami ini kiranya bukan rencana kami tetapi rencana Dia yang menginginkan kami untuk berjumpa lagi.

Quezon City, 15/12/17
Gordi SX


JANGAN MEMBAWA EMAS
 
Ilustrasi: pixabayfree
Hari keberangkatan makin mendekat. Persiapan mesti akan rampung. Koper dan tas akan dipenuhi. Saat-saat itulah saya menemukan Sabda Yesus.

Sabda ini cukup familiar namun kadang diabaikan. Boleh jadi bagi para pelancong akan sangat bermanfaat. Entah mereka sadar atau tidak. Boleh jadi juga mereka sadar tetapi tidak mau menengok pada sumber kata-kata itu.

Perlengkapan saya tidak banyak. Hanya ada 2 koper dan 1 tas pinggang. Koper 1 berukuran sedang dan 1 kecil. Yang sedang dimasukkan ke bagasi dan yang sedang di kabin pesawat. Semua yang berharga seperti komputer dan kamera saku, dimasukkan ke koper kecil. Yang lainnya seperti pakaian, di dalam koper besar.

Persiapan perjalanan rupanya membawa saya pada Yesus. Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk hidup sederhana. Kesederhanaan ini juga mesti nyata dalam perjalanan kerasulan mereka. Saat berjumpa orang-orang, sapalah mereka. Itu perintah Yesus.

Begitu sederhananya sampai-sampai pakaian dan perlengkapan perjalanan pun sederhana. Kata Yesus, “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (Mat 10:10).

Maksud Sabda ini tentu saja adalah hidup sederhana. Lebih dari sederhana, Yesus ingin agar para murid hanya menggantungkan hidupnya pada Allah, pada Penyelenggaraan Ilahi. Toh, Allah sendiri yang menyediakan makanan bagi mereka, yang menyediakan pakaian bagi mereka. Maka, tugas mereka hanya satu, laksanakan yang Ia perintahkan, dan bukan yang mereka mau.

Dengan semangat kesederhanaan, saya juga menyiapkan koper saya. Saya sudah berjanji pada diri saya agar 2 koper ini cukup. Satu sebagai ganti tas kabin. Dan, alhamdulilah perlengkapan saya pas di 2 koper ini. Tidak perlu tambahan tas kecil lagi.

Saya memang hanya membawa yang perlu saja. Pakaian tentu saja cukup. Perlengkapan lain tidak perlu. Toh, saya bisa beli di tempat tinggal saya yang baru. Pakaian pun demikian. Di mana-mana ada.

Buku bacaan dan buku doa juga tidak saya bawa. Saya bisa membelinya nanti di tempat yang baru. Juga karena saya akan berkomunikasi dengan bahasa yang baru sehingga lebih baik beli buku dalam bahasa setempat. Apalagi buku-buku sekarang ada yang dalam bentuk elektronik. Kitab Suci dan Buku Doa dalam bahasa Italia pun sudah saya masukkan di hp saya. Maka, tidak perlu lagi membawa buku manual.

Inilah pengalaman kesederhanaan dalam persiapan perjalanan. Terima kasih Yesus atas pelajaran kesederhanaan yang kamu berikan untuk kami.

Quezon City, 15/12/17

Gordi SX

HIDUP INI MESTI SEDERHANA
 
ILUSTRASI: pixabayfree
Ada ayat klasik yang berbunyi, Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (Matius 16, 26). Kiranya relevan untuk segala zaman.

Zaman ini penuh kontradiksi. Ada yang bersih luarnya padahal kotor dalamnya. Ada yang tampil suci padahal dalamnya penuh munafik. Ayat di atas kiranya bisa menjadi sentilan untuk zaman ini. Untuk apa memperoleh banyak harta tetapi pemilik hartanya tak bernyawa?

Nyawa dan harta memang kadang penuh kontradiksi. Ada yang menampung harta sampai berlimpah. Dalam kelimpahannya, ia menafikan nyawa banyak orang. Tak peduli, nyawa mereka dibayar dengan harga murah, asal hartaku bertambah.

Harta—dengan demikian—seolah-olah lebih berharga dari nyawa. Padahal, yang benar adalah sebaliknya. Nyawalah yang bernilai. Maka, kalau nyawanya hilang, harta itu akan jadi sia-sia.

Saat ini, harta itu makin dikejar. Belum srek kalau belum punya harta melimpah. Dari harta melimpah, naik lagi dengan membuktikan kelimpahannya. Mobil mahal, hp mahal, tas bermerek, dan sebagainya. Padahal, sarana itu akan lebih berguna jika dipakai sesuai fungsinya.

Harta itu bisa diibaratkan dengan beberapa kalimat sederhana yang saya temukan dalam pesan di whatsapp beberapa waktu lalu. Jika diringkas, akan jadi demikian.

Untuk apa beli ipad yang mahal jika ada tablet yang murah.
Untuk apa beli Fortuner jika Avanza saja sudah cukup.
Masih banyak lainnya.

Tampak sederhana namun mendalam. Tablet dan ipad memiliki fungsi yang sama. Memang, bisa saja diberikan argumen yang lebih. Ipad kiranya lebih mahal dari tablet, dan oleh karena itu fungsinya jauh berbeda. Tentu saja bisa. Tetapi, kalau digunakan sesuai fungsinya toh keduanya berjalan beriringan. Soal ada yang kekuatannya lebih, itu urusan kemudian.

Perbandingan ini pas dengan persiapan perjalanan saya ke luar negeri. Dalam masa penantian—selama beberapa hari—di Jakarta, saya mencari koper yang berukuran sedang. Jika tengok di toko dan mol, koper seperti itu diperkirakan berharga 2 juta rupiah ke atas. Tentu saya juga bisa membelinya. Tetapi persoalannya, ada juga koper yang sama dengan harga yang jauh lebih murah.

Saat sedang mencari, sahabat saya memberi kabar gembira. Jika Anda mau—katanya—kita ke daerah Ancol. Di sana ada tempat jual koper yang murah meriah. Saya tentu tergiur dengan harga murah. Namun, saya juga balik bertanya, bagaimana dengan kualitasnya?

Dia dengan yakin menjawab, jangan khawatir. Masih dijelaskan lebih lanjut argumennya, koper dan tas di sana adalah barang-barang baru. Biasanya yang kelewat batas penjualan di toko dan juga tempat penampungan koper tak bertuan di bandara Soekarno-Hatta.

Informasi ini cukup bagi saya. Dan, suatu siang, kami ke sana. Di sanalah terjadi sesuai yang ia kabarkan. Betul-betul menggembirakan. Dengan melewati jalur yang khusus di daerah Mangga Dua kemudian belok ke arah Ancol, tempat ini akan ditemukan.

Di dalam ruang besar itu, ada banyak tas dan koper. Semuanya baru. Rupanya barang-barang ini akan habis dalam 2 hari. Datang setiap Rabu dan Jumat dan akan habis pada saat itu juga.

Setelaj memilah dan memilih, saya akhirnya membeli koper sedang senilai Rp. 550.000. Untuk meyakinkan diri, kami mencek harganya di situs online. Tepat seperti dikatakan Mas penjual, harganya berkisaran 2,5 sampai 3 juta rupiah. Selisihnya besar. Padahal, barangnya sama.

Saya pun yakin, hidup ini mesti sederhana. Kemewahan tidak akan bertahan lama. Makin Anda suka yang mewah, makin Anda ketagihan untuk meraih kemewahan yang lebih. Akhirnya, Anda tidak akan puas dan tidak akan sampai pada kemewahan yang Anda cari.

Saya sendiri puas dengan koper saya yang murah tetapi berkualitas ini. Kami sudah cek luar dalamnya. Kondisinya bagus. Pas untuk membawa pakaian saya dalam perjalanan ke luar negeri.

Quezon City, 13/12/17
Gordi SX


MEREKA SUDAH BESAR
 
FOTO ilustrasi: pixabayfree
Empat tahun tak btertemu. Sepanjang itu juga perubahan terjadi. Banyak dan besar sekali. Saya bersyukur, semuanya baik-baik saja.

Ya, kami berpisah selama empat tahun. Hari ini, saya dan keluarga saya berjumpa kembali. Kami memang berpisah tetapi dalam perpisahan itu, kami tetap bersatu dalam doa. Dengan demikian, doa menjadi pemersatu antara kami.

Doa itu juga yang saya panjatkan dalam perjalanan untuk bertemu keluarga di bilangan Jakarta Timur. Dalam mobil, doa itu dilantunkan dalam hati, “Semoga mereka semua sehat.” Selain doa, saya juga berharap dengan rasa takjub, “Pasti ada banyak hal baru. Mereka—adik-adik saya—pasti sudah besar.”

Saat bertemu, semua itu menjadi nyata. Doa dan harapan saya menjadi nyata. Dan, sambil memeluk satu per satu, saya berterima kasih pada Tuhan. Impian untuk bertemu menjadi nyata.

Sejenak, saya pandang satu per satu wajah mereka. Om dan Tanta serta adik-adik semuanya menampakkan wajah gembira. Menengok kembali empat tahun lalu, mereka tetap mempunyai senyum yang sama. Hanya saja, kedua adik saya S dan S sudah besar. Kini menjadi nyata, bayangan mereka sudah besar ada di depan mata saya.

Perubahan itu begitu cepat. Empat tahun bukan waktu yang dirasakan. Semua mengalir begitu saja. Waktu pergi ke Italia, adik yang pertama masih SD. Kini, dia duduk di SMP. Yang kedua waktu itu masih kecil. Kini dia duduk di kelas 5 SD. Betapa indah karya Tuhan. Dengan indah, dia mengubah segalanya menjadi sesuatu yang patutu disyukuri.

Pertemuan hari ini memang menjadi pertemuan syukuran. Mereka datang dari Bekasi ke Jakarta Timur. Di situ ada keluarga yang satu. Jadilah, pertemuan kami berada di tengah, antara saya dan mereka.

Kami bersyukur atas perjumpaan ini. Dengan rasa syukur juga kami menikmati hidangan yang ada. Setelahnya, ada ungkapan syukur dalam berbagi cerita. Dari Italia sampai Indonesia. Dari Jakarta sampai Pekanbaru. Dari Pekanbaru sampai Flores, terus di sana, kemudian beranjak pergi jauh sampai ke Thailand sana.

Kalau dihitung-hitung, ceritanya menjadi banyak. Dan memang perjumpaan kali ini cukup lama. Dari siang sampai sore. Pukul 6 sore, kami berpisah. Sebelum berpisah, kami berdoa sejenak, memohon berkat Tuhan atas kami, keluarga dan rumah kami. Kiranya berkat ini menjadi sebuah rahmat terindah bagi kehidupan kami selanjutnya.

Terima kasih atas perjumpaan hari ini. Sampai bertemu kembali pada liburan mendatang.

Quezon City, 13/12/17

Gordi SX

MISTERI PAGI YANG INDAH

FOTO di Kebun belakang rumah Wisma Conforti

Rupanya perjalanan semalam memang seperti misteri. Dalam arti, tidak ada yang tahu. Yang tinggal di rumah ini pun tak tahu. Jadi, hanya saya yang tahu.

Saya memang bangun kesiangan. Setelah mandi dan doa, saya keluar kamar dan menuju kamar makan. Di sini, saya bertemu Ibu pemasak. Dari dia, saya tahu, kalau mereka juga tidak tahu waktu kedatangan saya. Dalam arti, jam berapa.

Jelas saja, Bu. Saya tibanya larut malam. “Pak Dodo menunggu sampai jam 12 semalam,” terangnya.
“Saya tiba di bandara jam 12 lewat Bu,” balas saya.

Dialog ini menjadi indah. Antara mereka dan saya ada misteri. Misteri ini pelan-pelan dipecahkan. Datang lagi satu sahabat menyapa saya. Jadilah kami bertiga memecahkan misteri ini. Ini memang bukan kehendak kami. Ini terjadi karena pesawat menunda keberangkatannya. Dampaknya pada banyak orang.

Ini hanya pada kami. Berapa banyak lagi orang yang dirugikan karena keterlambatan pesawat semalam. Dan, meski rugi, hidup tetap terus berlanjut. Kami pun berpisah di kamar makan, dan melanjutkan aktivitas kami.

Hari ini saya akan bertemu keluarga saya di bilangan Jakarta Timur. Sebelum ke sana, saya membereskan semuanya. Kamar dirapikan. Perlengkapan perjalanan disiapkan. Tak lupa memanjatkan doa Terima Kasih pada-Nya.

Inilah misteri pagi yang indah. Antara menunggu dan kedatangan. Antara tahu dan tidak tahu. Antara diam-diam dan berdialog. Antara pelan-pelan dan tidak mau mengganggu. Di atas semuanya, saya berterima kasih pada Dia yang memberi saya malam untuk istirahat dan pagi yang baru untuk beraktivitas.

Semoga misteri ini menjadi indah pada pertemuan berikutnya.

Quezon City, 12/12/17

Gordi SX

MASUK PELAN-PELAN
 
Pelan-pelan sampai tujuan, FOTO: pixabayfree
Masuk di rumah sendiri seperti pencuri. Pelan-pelan karena tak mau mengganggu yang lain. Mereka sedang tidur terlelap. Malam makin larut.

Langit Jakarta dingin mencekam. Untunglah di dalam pesawat ada pengatur suhu. Meski di luar dingin, di dalam masih normal untuk suhu manusia. Suhu normal itu membuat tidur saya terlelap. Ia tidak mengganggu saya yang sedang terlelap.

Dan lelap itu meski berakhir. Kami tiba di Jakarta tepatnya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng sekarang. Berangkat pukul 23.00 lebih sedikit dari Jogja. Tentunya tiba di Jakarta lewat tengah malam. Dari kru pesawat diumumkan akan mendarat sebentar lagi. Saya segera menyadarkan diri. Memastikan penjemput nanti yang juga adalah teman Grab saya.

Begitu turun dari pesawat, saya langsung menuju ruang tunggu bagasi. Entah karena malam, bagasi saya cepat keluar. Setelahnya, saya mengirim pesan kepada sahabat saya agar menunggu di luar. Sebelum keluar, saya ingin agar perjalanan menuju rumah ini nanti nyaman. Maka, saya ke toilet sebentar untuk mengamankan semua pasukan.

Saya ingin agar rasa nyaman ini benar-benar terjadi. Dan, dengan nyaman sahabat saya datang menemui saya. Tidak menunggu lama, kami langsung keluar. Perjalanan malam ini tentunya lancar sehingga cepat sampai di rumah. Kami ingin agar lebih cepat lagi. Maka, kami keluar di gerbang tol Kemayoran. Dari sini ke cempaka putih lebih dekat.

Begitu tiba di cempaka putih, saya membayar ongkos Grab ini plus dengan uang tol dan biaya parkir keluar dari bandara. Ini sudah jadi ketentuan mutlak dari Grab seperti juga dalam taksi. Saya sebenarnya protes karena tidak nyaman. Penumpang sebenarnya tidak mesti membayar biaya parkir untuk mobil yang tunggu di bandara.

Tetapi ya, mungkin lain kali saya akan protes. Malam terlaru larut untuk berdiskusi. Lagi pula toh, biayanya tidak besar. Anggap saja ini sebagai ongkos lebih bagi sopir Grab.

Dengan nyaman, saya turun dari mobil. Kemudian membuka gerbang rumah kami dan masuk pelan-pelan. Anjing peliharaan kami kiranya mendukung jalan saya ini. Mereka tidak menggonggong. Hanya melihat dari dalam gelap kemudian tetap diam.

Saya masuk lewat pintu samping. Kebetulan intu garasi belum dikunci. Hanya ditutup saja. Terus ke pintu kedua dan ketiga. Dan, saya memilih kamar di ujung di mana ada kebun belakang rumah kami. Saya tengok sebentar ke kamar tengah di mana biasanya saya nginap. Di sana, belum disiapkan. Jadilah saya masuk di kamar ujung.

Tanpa basa-basi, saya langsung terlelap. Hanya dengan tanda silang Bapa Putra dan Roh Kudus di dahi. Lalu, tidur. Dan entah mimpi apa malam ini. Yang jelas, besok saya tidak ikut misa pagi pukul 06.00. Saya akan cari misa lain saja.

Perjalanan ini tadi terasa panjang. Semoga bisa istirahat lebih panjang malam ini. Selamat tidur.

Quezon City, 12/12/17

Gordi SX

TAKDIR DI BANDARA JOGJA
 
FOTO di Bandara Soe-Hat Jakarta
Masih ada orang yang percaya, hidup ini adalah sebuah takdir. Dengan takdir, segala yang di luar pikiran pun menjadi sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Sakit parah, bencana, cek-cok rumah tangga, kecelakaan, dan peristiwa luar biasa lain akan dicap sebagai takdir.

Takdir—bagi saya—tidak ada. Yang ada hanya rencana dan kehendak Yang Kuasa. Inilah iman saya. Pembaca boleh setuju dan tidak. Setiap kita berhak memilih prinsip hidup.

Saya datang dan pergi dari kota Jogjakarta pada malam hari. Tampak seperti pencuri saja. Boleh jadi ini sebuah takdir. Waktunya sama. Tetapi bagi saya, ini bukan takdir. Ini adalah kehendak saya untuk datang dan pergi pada malam hari.

Seperti waktunya yang pas, maskapinya juga pas. Maskapi ini terkenal murah namun lambatnya minta ampun. Kadang-kadang kita tidak tahu, kapan jadwalnya datang. Di atas kertas tersusun rapi. Kenyataannya dibatalkan mendadak. Kadang ada pemberitahuan, kadang tidak. Kadang dibatal berkali-kali. Pengguna setia maskapi ini kiranya sudah tahu. Saya tidak perlu mengulasnya di sini.

Malam ini, saat saya tinggalkan kota Jogja, maskapi ini telat juga. Dibatalkan dua kali. Semula, tiga kali, dengan pengumuman yang jelas. Untunglah, akhirnya yang jadi adalah pengumuman kedua. Untung pula, saat pengumuman ketiga, maskapi ini membagikan makanan ringan sebagai kompensasi. Entah sebagai peredam marah atau tidak.

Bagi orang yang percaya, ini adalah sebuah takdir. Sekali lagi, bagi saya ini bukan takdir. Ini rencana kami. Itulah sebabnya, saya pamit kepada konfrater saya di Jogja setelah makan malam. Barang-barang disiapkan sebelumnya. Selesai makan malam, masih ada waktu istirahat, sebelum teman saya mengantar ke bandara.

Perjalanan ini sebenarnya aman dan tidak buru-buru. Namun, menjadi capek karena kantuk yang bukan main. Setelah bosan menunggu, tiba giliran masuk pesawat, 1 jam sebelum tengah malam. Saya langsung tidur dan terbangun menjelang pendaratan di ibu kota.

Saya sengaja tidak mau menikmati perjalanan seperti cerita orang. Saya ingin agar perjalanan ini dinikmati dengan cara saya. Dan, inilah kenikmatan yang saya peroleh: tidur dalam perjalanan.

Ini sebenarnya kebiasaan saya. Dan, saya senang. Namun, ada yang tidak setuju. Ada yang sering berkomentar, kalau pesawatnya jatuh gimana? Ya, siap mati jika kamu tidur. Dan komentar menakutkan lainnya.

Bagi saya, ini juga bagian dari perjalanan. Saat masuk pesawat, saya serahkan perjalanan ini pada pilot. Seperti saat mengendarai mobil, saya selalu percaya pada sopir. Atau, saya selalu mau bertanggung jawab atas nyawa penumpang jika saya mengemudikannya.

Kalau kita berpikir pesawat jatuh, ya pasti tidak bisa tidur. Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Meski sesekali muncul rasa takut. Tetapi, mau bilang apa lagi. Lebih baik buang prasangka itu agar bisa tidur.

Dan, di malam larut ini, saya ingin mengucapkan Selamat Tinggal Joga. Sampai berjumpa pada kesempatan mendatang. Gunung Merapi membubung di langit Kaliurang. Pesawat yang lewat di sekitarnya akan melihat dengan jelas. Inilah salah satu daya tarik sekaligus sumber ketakutan di Jogja. Namun, dari sana juga kita belajar banyak hal.

Sampai jumpa kota budaya. Da-da-da

Quezon City, 11/12/17

Gordi SX

UNDANGAN YANG MENGGEMA
 
Kami tidak sempat foto bersama, saya pasang gambar Salak dari pixabayfree ini
Perkenalan tanpa perjumpaan langsung kiranya belum lengkap. Namun, perjumpaan tanpa didahului perkenalan rasanya mendadak. Keduanya mesti lengkap agar bisa menjadi pertemuan yang mengharukan.

Inilah yang saya alami di kota Jogja. Setelah kejutan di Kaliurang kemarin, kini kejutan kedua muncul. Keluarga saya mengundang saya ke rumah mereka. Masih di sekitar Kaliurang, tepatnya di Turi.

Undangan ini sebenarnya sudah lama. Saat masih di Pekanbaru, kemudian ke Flores, undangan itu sudah menggema. “Datanglah ke rumah kakak,” demikian inti undangan itu. Singkat, padat, dan penuh perhatian.

Saya sebenarnya kenal dengan Kakak saya ini melalui facebook. Maklum, sama-sama merantau sehingga jarang bertemu di kampung. Saya kenal keluarganya dan dia mengenal keluarga saya. Tetapi—tidak seperti keluarga kami—kami sebenarnya belum pernah bertemu.

Melalui facebook-lah pertemuan itu bermula. Saya sengaja selipkan agenda pertemuan ini selama persinggahan di Jogja. Dan, sykurlah hari pertama dan kedua di Jogja, saya isi dengan perjumpaan ini.

Undangan ini rupanya menjadi nyata. Siang hari, saya dijemput Kakak saya ini. Kemudian kami ke rumahnya. Di sinilah pusat Salak khas Jogjakarta. Sayang, karena hujan, kami belum bisa menikmati salak ini.

Seperti Salak yang memuaskan, pertemuan kami sungguh memuaskan. Kami berbagi banyak cerita: di kampung, pengalaman perantauan, dan sebagainya. Cerita ini menjadi bagian dari serpihan pengalaman kami. Meski baru pertama kali, perjumpaan ini seperti sudah ke sekian kali saja. Ini karena pengalaman kami rupanya cukup banyak untuk disambung dengan perjumpaan ini.

Saya merasa bersyukur pada Tuhan atas perjumpaan ini. Andai di facebook tidak saling sapa, pertemuan ini tidak terjadi. Andai di facebook tidak saling berbagi, cerita dan pengalaman kami tidak berkaitan.

Setelah istirahat semalam di rumah ini, esok harinya saya kembali ke Jogja. Perjumpaan ini sungguh membekas bagi saya. Dalam perjalanan pulang—dalam mobil—saya berangan-angan agar suatu saat bisa kembali ke rumah Kakak saya ini.

Untuk keluarga Kak Dina, saya ucapkan Terima Kasih atas banyak hal. Keramahan yang saya terima, kesediaan untuk menjemput dan mengantar kembali, serta berbagai cerita yang dibagikan. Indahnya kekeluargaan yang terus dipererat di mana saja kita berada.

Salam kekeluargaan.

Quezon City, 11/12/17

Gordi SX

MENEMUKAN JEJAK KEHIDUPAN

Salah satu model pameran di Oemah Poetruk, Jogja
Hari ini, saya akan menemukan jejak kehidupan. Inilah angan-angan saya pagi ini. Pagi hari pertama di kota Jogja. Saya ingin agar pagi ini menjadi awal untuk bertemu sapa kembali.

Dari balik kamar, saya dengar suara Pak Mul, karyawan yang bekerja lama di rumah kami. Dia biasa datang pagi-pagi dari daerah Bantul. Suaranya masih saya ingat dengan jelas. Mungkin dia tahu bahwa sahabatnya sedang medengar suaranya itu dari balik kamar.

Matahari beranjak dari peraduannya. Alam Jogja masih hangat seperti dulu. burung-burung berkicau. Suara kendaraan di Ring Road Utara kota Jogja mulai riuh. Saya terus membayangkan lalu lalangnya sepeda motor di jalur lambat, dan mobil di jalur cepat.

Seperti mereka, saya pun segera bangun dan mandi. Kemudian, berdoa sejenak sembari mengucap terima kasih pada Bapa yang memperkenankan saya melewati perjalanan panjang hingga tiba dengan selamat di tempat ini. Saya senang mengucapkannya pada Dia karena Dia saya pun ada di sini.

Rasa senang ini, saya bawa saat saya bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama. Ada bapak dan ibu di dapur yang sedang menyiapkan sarapan. Ada Pak Mul yang suaranya tadi khas terdengar. Dan, ada Mas Jono di belakang yang btertemu saat dia datang untuk sarapan. Kami semua tersenyum dan tertawa kegirangan.

“Sekarang sudah jadi orang besar,” sapa yang satu.
“Wahh tak sangka, kita bisa bertemu lagi,” lanjut yang lainnya.
“Masih ingat, dulu kita mengantar Majalah Xaverian ke paket ekpres hehe (sambil tertawa..),” tanggap saya.

Banyak cerita lainnya berlanjut. Ya, kami ingat semuanya ini. Rasanya bumi berputar saat kami mengenang kembali. Inilah bagian dari jejak kehidupan kami bersama. Jejak itu begitu kuat. Jejak itu seperti gempa Jogja yang terjadi pada 2006 yang lalu. Ingatannya membekas. Mulai dari lari-lari dari lantai 2, tertahan di kamar mandi, takut tidur di lantai 2, sampai jadi relawan di Kabupaten Bantul.

Jejak kedua tidak kalah saing. Mulai dari mengatur anak-anak untuk hidup tertib, disiplin, jujur, dan bekerja keras sampai pada pengiriman paket ke luar kota dan ke luar negeri. Semuanya ini adalah jejak kami. Jejak ini menjadi indah dan bermakna, saat kami mengingatnya kembali. Pertemuan pagi ini betul-betul menjadi awal dari proses penemuan jejak itu.

Salah satu jalan yang juga menjadi jejak petualangan di Jogja adalah Jalan Kaliurang. Di jalan ini, banyak tempat persinggahan mulai dari kampus, pusat belanja, warung makan, sampai tempat live-in di panti asuhan.
Pagi ini, saya dan sahabat saya menyusurinya lagi. Saya ingat betul jejak-jejak saya di sini. Hanya saja sekarang ada sedikit perubahan. Rumah-rumah di sekitar jalan makin bertambah dalam 4 tahun terakhir. Perjalanan hari ini sebenarnya lebih dari sekadar menemukan jejak tetapi juga menemukan jejak baru.

Pertama, kami singgah sebentar di Gereja Katolik St Maria Assumpta, Pakem. Mampir di sekretariat paroki untuk menitipkan surat. Kemudian, kami menuju Rumah Budaya-nya Romo Sindhunata, Oemah Petroek. Tempat ini baru bagi saya. Dulu, sudah tahu namanya tetapi tidak tahu tempatnya. Saya senang, hari ini bisa tiba di tempat ini.

Sebelum berkeliling di kompleks yang asri ini, kami membeli buku Dari Jurang yang Dalam karangan Rm Sindhunata. Saya sudah mengincar buku ini sejak lama. Diterbitkan tahun 2014 dan dicetak untuk kedua kalinya pada 2015. Inilah salah satu penulis yang saya suka dalam dunia tulis menulis saya.

Setelah membayar di kasir, kami berkeliling. Ada beberapa rumah Joglo yang besar tempat pertunjukan seni. Ada pameran patung-patung. Ada kolam bercorak seni. Masih banyak pemandangan budaya lainnya. Rumah ini memang menjadi rumah seni, budaya, dan meditasi. Ulasannya nanti akan muncul di kemudian hari. Untuk kali ini, sekian saja.

Jejak itu kini ditemukan kembali. Ada jejak baru yang juga pasti akan dikenang. Setiap peristiwa akan menjadi jejak dan setiap jejak akan dicari kembali. Itulah siklus kehidupan. Indah dikenang, kangen diulangi. Terima kasih semuanya.

Quezon City, 10/12/17
Gordi SX

JOGJA SWEET HOME
 
Jogja, kota budaya, FOTO: pixabayfree
Scott Hann pernah menulis buku dengan judul Rome Sweet Home. Buku ini mengisahkan perjalanan keyakinannya. Ia berubah dalam pencariannya akan Tuhan.

Scott semula adalah Pendeta di salah satu Gereja Protestan. Sebagai Pendeta, ia membekali dirinya dengan pengetahuan dan pengalaman. Keahliannya dalam bidang Teologi pun tak diragukan lagi. Seperti teman-teman Protestan lainnya, Scott paham betul ayat-ayat Kitab Suci.

Dari Kitab Suci dan ilmu Teologi lainnya, Scott menjadi Teolog kondang. Ayat-ayat Kitab Suci baginya menjadi sumber dari pengetahuannya. Maka, setiap kali menulis buku atau membawa seminar, Scott hampir pasti mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Karena keakrabannya ini, Scott pun diubah oleh ayat-ayat Kitab Suci itu.

Dalam pencariannya akan Tuhan, dia menemukan sesuatu yang kurang. Ia bertanya, bertanya dan terus bertanya sembari mencari, mencari dan terus mencari. Pada akhirnya, ia menemukan rumah teduhnya. Ia memutuskan untuk pindah Gereja dan Agama. Ia kini masuk Agama Katolik.

Menurutnya, inilah agama asal dari denominasi Kristiani. Perpecahan dalam Kristiani memang melahirkan banyak gereja Protestan dan Agama Katolik. Dalam Katolik, dia menemukan sumber dari kerinduan yang ia cari. Itulah sebabnya, ia memberi judul Rome Sweet Home. Ia kembali ke pangkuan rumah teduhnya.

Kerinduan yang dialami Scott Hann persis sama dengan yang saya alami. Saya rindu untuk kembali ke Yogyakarta. Dulu, saya di sini selama 2 tahun: 2005-06 dan 2012-13. Sebelum ke Italia, saya tinggal di kota budaya ini. Empat tahun setelahnya, kerinduan ini terjawab. Saya kembali ke rumah teduh saya dulu.

Jogja malam ini memang benar-benar menyapa saya dengan keanekaragamannya. Tak dibendung, semuanya ini dulu menjadi bagian dari hidup kini saya lihat kembali. Saya betul-betul menghirup udara rumah teduh ini.

Sapaan itu menggema dari ujung kamar makan, “Langsung ke sini saja, kami menunggu,” teriak konfrater saya.

Saya ingat dengan baik suara itu. Dan tahu siapa orangnya. Setelah mengeluarkan koper dari mobil dan memasukkannya ke kamar, saya bergegas ke kamar makan.

Di sana ada warna-warni baru. Satu per satu saya sapa dan peluk. Budaya peluk saat bertemu sudah membekas dalam diri saya sejak saya di Italia. Dan spontan menyapa dalam bahasa Italia masih membekas, ciao. Sapaan itu juga terus dengan menjabat tangan konfrater lainnya yang masih muda.

Perut saya sebenarnya belum membutuhkan makanan. Tetapi, untuk menghormati pemilik rumah, saya menemani teman saya menghabiskan hidangan yang ada. Basa-basi pun dikurangi agar kami sama-sama kompak selesai makanan.

Malam ini memang begitu singkat untuk berbagi. Lelah karena jadi buronan di Bali pun mesti dipulihkan. Itulah sebabnya setelah makan, saya mandi dan langsung tidur.

Quezon City, 9/12/17
Gordi SX


JEMPUT BURONAN DI YOGYAKARTA
 
Ini bukan buronan penjahat
Jawaban atas telepon a la buronan kemarin muncul sudah. Esok paginya, saya mengirim pesan kepada sahabat di Jakarta tentang peristiwa yang terjadi di Bali. Dari sana muncul jawabannya.

Memang benar, saya ditelepon oleh pihak NAM Air karena agak telat masuk pesawat. Nomor saya diberikan oleh sahabat saya. Keraguan saya akan nomor lokal pun terjawab. Rupanya, merekalah yang menelepon saya.

Keraguan ini tidak saya ceritakan pada teman saya di Yogyakarta. Begitu turun dari pesawat, saya diam saja sambil menunggu koper di begasi. Meski demikian, keraguan ini memang begitu kuat pengaruhnya. Saya terbangun saat pesawat berputar di atas langit-langit kota Jogja.

Dalam keraguan itu, saya masih ingat beberapa titik sentral kota budaya ini. Hanya ada lampu-lampu jalan dan jalanan padat kendaraan. Ini yang tampak dari pesawat. Pemandangan ini sejenak mengalahkan kekuatan rasa ragu tadi.

Entah karena ragu, ingatan saya akan bandara Jogja hampir hilang. Dulu, saya sering menjemput para konfrater saya dari Padang dan Jakarta. Juga, mengantar mereka yang ke Bali, Jakarta, Riau, atau Makasar. Saking seringnya, saya pun hafal letak tempat strategis di bandara.

Malam ini, semua itu seakan-akan ditelan rasa ragu. Begitu turun, langit malam menyambut. Hanya ada lampu sorot bandara. Dari pesawat, kami—para penumpang—berjalan kaki cukup jauh ke pintu masuk bandara. Untung saja malam hari, panas tidak mencekam.

Saat keluar dari bandara, teman saya memberitahu jika sedang ada pengerjaan landasan dan tempat parkir bandara. Ini yang membuat pesawat kami mendarat di ujung. Di sini, keraguan saya pun tentang bandara terjawab sudah.

Seiring berlalunya keraguan yang lama, muncul sesuatu yang baru. Teman saya memberitahu bahwa mobil yang dia gunakan adalah mobil yang terbaik di rumah kami. Saya langsung memikirkan mobil yang baru mereka beli. Saya pun sedikit melonjak ingin mengetahui model mobil itu. Rupanya, mobil itu hanya ada dalam bayangan. Yang terjadi adalah saya dijemput dengan mobil pick up Panther-Isuzu.

Saya membiarkan teman saya menjelaskan asal-muasal mobil ini. Hujan mengguyur Jogja malam itu sehingga tas dan koper disimpan di depan. Jadilah, di bagian depan mobil ada 3 penumpang. Teman saya yang menyetir, saya, dan koper saya yang diletakkan di tengah.

Saya sebenarnya tenang-tenang saja. Mobil seperti ini tidak asing bagi saya. Tanpa dijelaskan pun, saya sendiri bisa menebak pemilik mobilnya. Saya pun tidak mau tahu siapa pemiliknya. Hanya saja, ada satu hal yang saya rasakan. Saya kok seperti buronan benaran.

Buronan yang benar-benar dicari. Ujung dari pencarian adalah penangkapan. Dan, biasanya yang ditangkap akan dimasukkan ke mobil tahanan. Bisa dibayangkan, situasi dalam mobil tahanan. Duduk berdesakkan.

Situasi ini persis yang terjadi dalam mobil ini. Saya memangku tas saya. Di samping kanan, ada koper yang terletak di tengah kursi. Dalam hati saya berpikir, teman saya benar-benar sedang menjemput buronan dari Bali.

Saya memang benar-benaran buronan tetapi bukan buronan karena kejahatan. Tetapi buronan kebaikan. Saya diundang oleh beberapa teman untuk singgah di Jogja. Jadi, yang sedang dijemput ini bukan buronan biasa tetapi buronan luar biasa.

Maligaya, 9/12/17

Gordi SX

JADI BURONAN DI BALI

Bali

Buronan selalu akan dicari-cari. Itulah sebabnya status sebagai buronan itu melelahkan. Dalam kelelahan, ada tingkat keterkenalan. Buron dengan demikian akan menjadi terkenal.

Di Bali, saya hampir menjadi buronan. Saya memang mesti transit selama 5 jam. Tiba dari Labuan Bajo pukul 12.45 WITA dan baru akan berangkat ke Yogyakarta pukul 17.45. Totalnya 5 jam. Saya pun merencanakan dan memutuskan untuk singgah di rumah teman saya.

Sebelum keluar dari Bandara Internasional Ngurah Rai, saya cek di pusat informasi. Dari sana, saya tahu bahwa, asal sudah check-in, keluar bandara tidak apa-apa. Petugas di bandara mengatakan bahwa untuk NAM Air tidak ada masalah. Asal tepat waktu saat masuk pesawat nanti.

Saya memang sudah check-in di Labuan Bajo. Menurut petugas di sini, sebelum keluar bandara di Bali nanti, mesti lapor petugas, “Siapa tahu ada perubahan jadwal,” sambungnya.

Saya kira ada benarnya juga. Hanya saja, di Bali tidak ada petugas yang menginformasikan perubahan ini alias ikut jadwal yang tertera saja. Inilah yang membuat saya tanpa ragu keluar bandara daripada menunggu 5 jam di bandara.

Setelah menunggu beberapa waktu, teman saya datang menjemput. Kami sama-sama ke rumahnya. Lalu lintas masih lancar. Belum lama sampai di rumah, hujan turun. Hujan biasanya membuat tubuh menjadi lapar.

Dalam cuaca yang dingin, tubuh membutuhkan banyak makanan. Dan, kami memang melakukannya. Setelah menu makan siang, ada jeda sebentar, lalu berlanjut dengan makan makanan ringan sore hari.

Pukul 5 sore, kami berangkat ke bandara. Menurut kami, waktu 45 menit cukup untuk sampai bandara. Rupanya tidak pas. Dengan lalu lintas yang padat pada sore itu, laju kendaraan pun makin lambat. Dan, saya tiba di bandara hampir terlambat.

Dari pintu pertama, saya lihat di monitor jadwal NAM Air ke Jogyakarta. Tertulis Panggilan Terakhir dengan berkedip berwarna merah. Saya pun segera masuk dan melewati beberapa pintu berikutnya. Alhamdulilah, sesampainya di pintu gerbang NAM Air, petugas memanggil-manggil nama saya. Melihat saya berlari, mereka langsung menjemput dan memotong kertas check-in lalu mengantar ke pesawat.

Dalam kekalutan itu, saya tidak menggubris beberapa panggilan yang ada di hp saya. Saya benar-benar menjadi penumpang terakhir di pesawat ini. Saya cek sebentar hp saya. Ada beberapa panggilan masuk via whatsapp dan panggilan telepon biasa. Ada nomor hp dan ada nomor lokal Bali. Saya pikir sejenak, janga-jangan ada yang salah dengan saya.

Tanpa mau memikirkannya lebih lanjut, saya mematikan hp. Sabuk pengaman dikencangkan dan mulai beristirahat sembari pramugari memeragakan cara-cara penyelamatan dalam pesawat. Dalam keadaan capek, saya mendengar suaranya. Lalu, saya tidur dan sampai jumpa di Jogja nanti.

Maligaya, 8/12/17

Gordi SX

TANGISAN CINTA NAN ABADI
 
Mama bersama anak dan cucunya
Tangisan boleh jadi tanda sedih. Namun, tangisan juga bisa jadi tanda cinta. Dengan cinta, tangisan itu menjadi sesuatu yang membahagiakan. Dalam sedih, tangisan menjadi sesuatu yang normal.

Tangisan cinta itulah yang terjadi pada Selasa siang di Bandara Komodo. Seperti biasanya, Mama saya selalu menangis setiap kali bepergian jauh seperti ini. Bukan saja untuk saya tetapi juga untuk anak-anaknya yang lain. Tangisan itu tetap sama yakni tangisan cinta.

Dengan tangisan itu, Mama ingin mengatakan bahwa dia mencintai kami, dia mencintai saya. Jarak boleh berjauhan, tetapi cinta itu tetap abadi selamanya. Dan, hari ini cinta itu muncul dalam bentuk tangisan.

Sambil menenangkan Mama yang menangis, saya memeluknya dengan erat. Anggota keluarga yang lain beserta sahabat yang menantar saya pun satu per satu berpamitan. Pagi ini benar-benar menjadi perpisahan bagi kami. Dan, sebelum berpisah, kami semua bercerita bersama dalam nada gembira.

Kegembiraan itu muncul di wajah beberapa sahabat yang datang. Saya tidak menduga, mantan orang penting di kota Labuan Bajo pun datang. Dia memang kenal bapak saya tetapi bukan saya. Dan, pertemuan dengannya terjadi pada Misa syukur di kampung beberapa waktu lalu. Saat itulah, saya melihatnya sebagai orang besar yang ingat kampung halaman. Ia tahu, ia jadi besar karena dukungan dari kampungnya. Dan, kini ia akan pensiun dan tetap ingat akan kampungnya.

Tanpa menafsir terlalu jauh, saya menduga ia seakan-akan mengajari saya untuk mencintai kampung halaman. Dalam perjalanan dari penginapan ke bandara, dia bercerita banyak tentang tugas-tugasnya. Sambil menyetir sendiri mobil Kijang LGX-nya, dia membagikan pengalaman menjadi pemimpin di tingkat provinsi dan beberapa kabupaten di NTT. Dari sini, saya duga, dia memang banyak pengalaman. Dan, meski banyak berkecimpung dalam tugas luar kota, dia tetap ingat kampung halamannya.

Seperti dia, saya pun akan meninggalkan kampung halaman ini. Satu jam sebelum pesawat NAM Air tiba, saya masuk bandara. Dan, setelah menunggu dalam waktu yang ditentukan, pesawat pun datang. Maskapi ini datang tepat waktu. Saya pun pamit dalam hati kepada tanah tumpah darah ini. Jumpa lagi pada liburan mendatang.

Maligaya, 8/12/17

Gordi SX
Diberdayakan oleh Blogger.