Halloween party ideas 2015

 


Biasanya guru lupa akan muridnya. Karena jumlahnya banyak. Wajar jika tidak ingat. Tapi murid tak pernah sekalipun melupakan guru. Entah karena dia baik atau buruk. 

 

Hari ini, ada guru yang tidak lupa akan muridnya. Dia datang mengunjungi ketiga muridnya. Sudah lama mereka tidak berjumpa. Kesempatan kali ini pun menjadi reuni kecil.

 

Bagi Bapa Uskup Lui Tamniam, setiap kesempatan adalah sebuah kunjungan. Itulah sebabnya, kesempatan kecil pun dia manfaatkan untuk mengunjungi murid-muridnya di paroki kami. Sebagai seorang Uskup emeritus, dia mungkin punya banyak kesibukan. Tapi, di sela-sela kesibukan itu, ia tetap mengunjungi umatnya.

Bapa Uskup Lui juga selalu cepat membantu keuskupan yang membutuhkan pelayanannya. Kali ini, ia datang 1 hari sebelum hari H. Ia akan memimpin rekoleksi untuk para Imam di Keuskupan Nakhon Sawan pada Jumat ini. Dilanjutkan dengan memimpin Misa Pesta Paroki St Theresia Maesot, Thailand. Ia bisa saja datang pada Jumat pagi. Tapi ia memilih datang pada Kamis siang.

 

Ia pernah bekerja di Keuskupan ini. “6 tahun saya melayani, kemudian dipindahkan ke Keuskupan Agung Tharee,” tuturnya dengan suara lembut. “Saya melayani di Tharee selama 16 tahun,” lanjutnya sambil mengalihkan pembicaraan dalam bahasa Inggirs. Sekarang ia pensiun, tapi ia tetap melayani, termasuk datang mengunjungi umat yang pernah diasuhnya kala menjadi Imam dan Uskup di Keuskupan ini.

 

Suara lembut seorang kakek itu membawa kebahagiaan yang menyejukkan. Dua dari tiga orang mantan muridnya datang bertemu dengannya. Mereka kini sudah berkeluarga namun mereka tetap melihat Mgr Lui seperti bapak asuh mereka. Mereka juga bukan orang Katolik tapi kenal baik dengan kekatolikan. Di asrama, mereka dibina melalui nilai-nilai Katolik. Pendidikan ala Katolik sungguh merasuk di jiwa mereka yang Buddha dan Animisme. Mereka pun memilih tetap menghidupi nilai Katolik itu, tanpa menjadi orang Katolik. 

 

Terima kasih atas teladanmu Bapa Uskup. Sayang, foto-fotonya belum dikirim oleh sekretaris pribadinya. Saya pun menggunakan foto ini saja.

 

Km 48, 7/10/22

BK

 


Sambil tersenyum, ia mempersilakan saya duduk. Ia baru saja tiba entah darimana. Tapi, tidak ada waktu untuk istirahat baginya.

 

Ia memang bukan pekerja keras yang mengerjakan hal berat. Ia hanya pekerja ramah, yang sabar meladeni pelanggan. Ia bukan pegawai besar, tapi hanya seorang tukang cukur rambut. Sebagai pencukur, ia dituntut untuk sabar. Dan, dalam kesabarannya tersirat keramahan yang tiada tara.

 

Bagi saya, inilah tempat pangkas rambut terbaik. Sudah 3 tahun, saya datang ke sini. Bukan karena tidak ada tempat lain, tapi di sini, nyaman saja. Saya menemukan tempat ini saat tinggal di kota Maesot. Atas rekomendasi seorang teman. Kebaikan itu rupanya berantai. 

 

Bayarannya murah padahal pelayanannya super. Kalau tanpa kriteria ruangan ber-AC, tempat ini malah lengkap. Selain bisa kramas ada, pelayanan pangkas rambutnya pun lengkap. Selain rambut, jenggot dan kumis juga ikut dirapikan. Demikian juga dengan rambut di lubang hidung. Termasuk juga kotoran telinga dibersihkan. Sembari malas-malasan di kursi, kita dibuat tenang dan rileks. Kemudian ada pijat kecil. Dari tangan termasuk jarinya, kemudian sampai di kaki.

 

Meski di sini nyaman, tukang cukurnya ada yang ganti. Dulu, ada 4. Semuanya pria. Kemudian berkurang 1. Dibanding yang lain, yang satu itu memang sudah berusia. Tampaknya ia pensiun. Dari yang 3 itu, kemudian kurang 1. Tapi ada lagi 1 yang baru. Sedang dalam tahap pencobaan. 

 

Semua pekerjaan bisa jadi sumber cinta. Saya yakin, tanpa cinta, ketiga pencukur ini tidak akan melanjutkan profesi ini. Cintalah yang membuat mereka bertahan. Cinta juga yang membuat mereka tidak tergiur godaan. Bisa saja mereka menaikkan tarif. Tapi, 3 tahun berlalu, tarifnya masih sama. Murah meriah. Hampir 50% dari biaya pangkas rambut di tempat lainnya.

 

BBM naik tapi tarif mereka tetap sama. Apalagi kalau bukan kesabaran yang menjiwai mereka. Bayaran besar tampaknya bukan target mereka. Tapi, profesi kecil itu jadi tempat pelayanan yang prima. Buktinya, dalam ruang sederhana itu, pelanggan berdatangan. Memang tidak setiap hari rame. Tapi, kadang-kadang harus antri sampai 2 jam. 

 

Terima kasih pahlawanku.

 

MAESD, 27/9/22

BK

 

FOTO saat jamuan makan 
bersama teman di Umphang

Seorang keluarga mengundang kami untuk makan malam di kota kecil, Umphang. Makan malamnya bukan di rumah tinggal. Tapi di rumah yang berada di tengah kebun Durian. 

 

Undangan itu syarat dengan persahabatan. Memang keluarga itu adalah sahabat dari teman saya Romo Rey SX. Romo pernah bercerita kalau mereka bersahabat sejak sama-sama menjadi guru di sebuah sekolah negeri. Keluarga ini sejak pertama sudah akrab dan suka dengan gaya Romo Rey yang mudah diajak ngobrol.

 

Malam itu, sambil barbeque, kami bercerita banyak hal. Mulai dengan pengalaman harian mereka di sana. Misalnya tentang bagaimana dahsyatnya banjir setahun lalu di kota kecil itu. Saat itu, beberapa jembatan di jalan utama terputus oleh aliran sungai. Bala bantuan pun harus menunggu beberapa hari. Banjir itu selalu membuat mereka berjaga. Apalagi saat musim hujan begini.

 

Banjir ini memang menjadi pengalaman baru. Selama 30 tahun terakhir, baru kali ini terjadi banjir besar. Keluarga pensiunan guru ini memang sudah malang melintang di kota ini. Mereka berasal dari kota lain tapi sudah lama mengajar di sini. Dalam rentang waktu ini, mereka berusaha membangun ekonomi keluarga. Mereka pun sampai punya banyak tanah dan bangunan. Sayangnya semua ini hanya dinikmati berdua. Anak-anak mereka memilih tinggal dan buka usaha di kota lain.

 

Meski jauh dari anak-anak, kedua pasangan ini tetap merasa bahagia. Penghibur mereka kini hanyalah seorang cucu. Sang cucu tambah bahagia karena dia jadi satu-satunya anak kesayangan di rumah. 

 

Selain momong cucu, memasuki masa tua ini, pasangan guru ini hanya menikmati hidup. Mereka bahagia menjadi pengajar. Memang selain ini, mereka juga bekerja sambilan untuk menghidupi keluarga. Kini, mereka menikmati kebersamaan di kebun Durian ini. Selain merawat tanaman tiap hari, mereka juga memelihara Ikan dan Babi. Tambak ikan dan kandang Babi adalah sumber kebahagiaan mereka. Saat lelah datang, mereka bisa beristirahat di rumah kebun ini. 

 

Sebagai guru, sang istri tentu suka bercerita. Malam in, cerita-ceritanya seru. Sambil mendengar kami becerita, dia juga memerhatikan makanan yang sedang dipanggang. Sang suami sesekali menanggapi. Kalau sang istri bidang makanan, sang suami bidang minuman. Dia memerhatikan gelas kami. Menambah untuk yang sudah kosong.

 

Sungguh masa tua seperti ini penuh makna. Kebahagiaan rupanya bisa ditemukan di tengah kebun. Memang di sini masih berbau alam. Beda misalnya saat kebahagiaan itu ditemukan di mol super mewah. Yang menawarkan pakaian dan perhiasan mahal. Pameran iklan yang menggoda pun terpampang di tiap sudut mol, dan di pinggir jalan besar. Di sini, iklan itu hanya satu: menikmati indahnya alam, menghirup udara kebun yang segar, dan menikmati teriknya matahari pegunungan. Sungguh dedaunan pohon itu meneduhkan jiwa, menentramkan rasa.

 

Terima kasih ya Khru Phani dan Kru Wiracay.

 

UPHG 25/9/22

GA-BK

 

FOTO: Di sebuah desa di Kabupaten Umphang,
tempat jamur itu akan ditanam

Lawan sikap putus asa itu tidak mudah. Godaannya kuat. Apalagi hidup sudah diiramai kecenderungan putus asa. Mudah menyerah itulah melodi di hadapan sebuah masalah.

 

Putus asa itu bisa datang kapan saja. Bahkan untuk sesuatu yang sudah pasti. Saya sudah pastikan tempat tujuan saya. Yakni sebuah toko jamur. Di google map terlihat jelas. Berada di sebelah kiri jalan. Penanda sebelah kanan juga jelas. Pintu masuk sebuah Air Terjun. Dalam pikiran saya tidak ada yang lain selain petunjuk ini. Rupanya, pikiran dan kenyataan bisa berbeda juga.

 

Alih-alih sudah jelas, kebimbangan muncul. Antara kenyataan yang kanan, dan situasi yang kiri. Meski saya sudah berhenti di sisi kiri jalan, petunjuk itu tidak terlihat jelas. Sebelah kanan terus memberikan petunjuk yang pasti. Kalau mengacu pada sebelah kanan, posisi sebelah kiri ini tepat sekali. Tapi, tempat yang dituju tidak saya temukan.

 

Pepatah malu bertanya sesat di jalan pun dipakai sebagai senjata. Berharap senjata ini ampuh mengatasi kebimbangan. Dan jawaban penjaga toko itu memperjelas arahnya. Rupanya sudah benar hanya belum sampai persis dekat tujuan. Untuk mundur tidak bisa lagi. Kami pun memutar arah. Jalan sampai tujuan itu panjang rupanya. Harus melintasi arah sebelahnya. Mirip seperti berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. 

 

Kami berakit melintasi jalur sebelah yang panjang, dan akhirnya berenang sampai tujuannya. Dan, kami bertemu pemilik toko Jamur itu. Ia mengarahkan kami ke tempat penyimpanan jamur yang berada di belakang. Ia baik sekali. Petunjuknya lebih baik dari peta google. Ia juga menjawab pertanyaan kami dengan ramah. Bahasanya yang sopan ini membuat kami ingin bertanya-tanya. Dan, betapa ramahnya ia menjawab. Ia juga mengundang kami ke tempat proses pembuatan jamur. 

 

Keramahan ini kiranya mesti jadi milik pedagang di mana saja. Kesopanan dan keramahan adalah nilai-nilai yang mesti dirawat. Untuk menumbuhkan keakraban hidup bersama yang subur.

 

Km 48, 16/9/22

GA-BK

 


Terlelap adalah pengalaman menarik hari ini dan kemarin. Terlelap dalam perjalanan memang jadi kebiasaan saya. Tapi, terlelap dalam perjalanan ke Umphang bukanlah hal mudah.

 

Berjarak sekitar 165 km dari paroki, dan lebih dari 200o tikungan, bukanlah medan yang nyaman untuk terlelap. Alih-alih terlelap, medan itu membuat mabuk bukan kepalang. Jalur ini memang jadi jalur maut bagi pesakitan yang bepergian. Jalur ini cocok untuk mengukur sejauh mana tubuh dan pikiran kita sehat. Sebab, bagi sang sopir, ini tidak mudah. Butuh perhatian ekstra.

 

Dan, jika saya jadi sopir, jalur ini memang cocok untuk mengukur konsentrasi. Karena inilah, saya tidak pernah mabuk saat nyetir di jalur ini. Dua hari ini, perjalanan pergi dan pulang, teman saya yang nyetir. Musim hujan tentu mengasah kemampuan menyetir. Saya sudah beberapa kali hampir terpeleset, karena lupa menggunakan gigi 4x4 di jalanan licin. Pengalaman itu membuat saya ikut berlatih. Tidak saja, bagaimana menggunakannya, juga membiasakannya. Dan, setelah itu, bagaimana membiasakan diri melaju di jalanan licin dengan gigi biasa 2x4.

 

Setelah berkali-kali mencoba, kini sudah pada taraf lancar. Meski sesekali terpeleset juga. Teman saya sudah pada taraf jauh lebih lancar dari saya yang baru tiba 2 tahun lalu di sini. Karena lancar, saya pun tidak khawatir kala ia menyetir. Kepadanya, saya percayakan kelancaran perjalanan ini. Dan, saya pun dengan percaya diri, terlelap.

 

Begitu tiba di Umphang kemarin, saya terbangun dengan semangat baru. Tak terasa oleng di banyak tikungan. Demikian juga hari ini, dengan durasi lelap lebih lama. Saya terbangun saat mobil melaju di jalanan rusak yang sedang diperbaiki. Deru mesin dan getaran amat terasa. Sebab, berjalan di atas tanah dan kerikil. Dari sana, sisa 45 menit sampai paroki.

 

Betapa nyamannya terlelap dalam perjalanan. Tapi, kiranya lebih nyaman terlelap dalam pelukan Tuhan. Mungkin tidak terlihat, tapi saya yakin, Tuhan juga ikut menyertai perjalanan kami. terlelap yang saya rasakan tak lain tak bukan, adalah berasal dari-Nya. Terima kasih Tuhan, untuk terlelap yang boleh saya rasakan dari-Mu.

 

KM 48, 26/9/22

GA-BK

 


Pagi hari keempat ini, rasanya lega. Meski kebersamaan kami belum berakhir, satu bagian sudah kami lewati. Butuh waktu tiga hari, untuk membahas topik penting, sebelum maju ke topik yang tak kalah penting berikutnya. Dan kebersamaan ini masih akan berlanjut, meski bagian pertama selesai pagi ini, di tempat ini.

 

Ini adalah rangkaian panjang yang tak terpisahkan. Seperti dalam gerbong kereta api, tak ada yang dipisahkan. Semuanya serangkai dan dikomandoi oleh kereta penarik atau lokomotif. Lokomotif kami adalah pertemuan atau asemblea tahunan. Gerbang-gerbang yanG ditariknya meliputi pertemuan tiga hari di kota ini, kemudian rekreasi bersama mengunjungi Museum dan bekas Gereja Katolik di kota Lop Buri. Inilah program untuk hari ini, sebelum kami akan berangkat ke komunitas asing-masing.

 

Sebelum rencana ini dimulai, tentu kami ingin mengucap syukur pada Tuhan terlebih dahulu. Misa hari terakhir ini tetap dilaksanakan pada tempat yang sama. Ruang pertemuan nan asyik. Setelahnya, kami ber-sarapan ria. Suasananya masih rekreatif seperti sarapan 3 hari sebelumnya. Bedanya hari ini, tidak dikejar waktu. Maka, suasana santai ditekankan. Dan dalam nada santai tapi serius, kami juga mengucap syukur kepada pemilik tempat ini. Selama 3 hampir 4 hari ini, mereka melayani kami. Dari menyiapkan kamar-kamar yang mulanya berdua, kemudian sendiri-sendiri, kemudian menyediakan sarapan, makan siang, dan malam. Juga tak kalah penting, ruang pertemuan yang nyaman. 

 

Semua fasilitas ini dimiliki oleh pemilik yang baik hati ini. Kebaikannya akan kami kenang. Sebab, dari kami menghubunginya, kami datang, kami gunakan fasilitas ini, kami meminta yang kurang, dan sebagainya, dia selalu melayani dengan sebaik mungkin. Ini adalah kebaikan yang standar. Tapi menjadi lebih dari standar ketika itu dijiwai dengan semangat persaudaraan dan cinta kasih. Inilah dasar dari kebaikan plus berikutnya.

 

Setelah foto bersama dengannya, kami siap-siap pulang. Membereskan perlengkapan masing-masing, kamar, dan sebagainya. Terima kasih untuk kamar yang menjadi ‘home’ saya selama 4 hari ini. Dari meja dan kursi tempat saya mengetik dan membaca atau berdoa pribadi, kemudian dari tempat tidurnya tempat saya beristirahat, kemudian dari kamar mandinya tempat saya membuang kelelahan seharian, dan sebagainya. Semuanya ini selesai dan kami berangkat. 

 

Saya dan Romo Alessio berangkat bersama. Sebab, kami akan pulang bersama. Romo Rey dengan mobilnya sendiri, sebab ia akan ke Bangkok. Dan rombongan Bangkok satu mobil sendiri. Tiga mobil menuju ke tempat yang sama yakni kota Lop Buri. Dari kota Sing Buri ke Lop Buri tidak terlalu jauh. Kotanya bertetanggaan. Di sana, kami akan mengunjungi Museum Nasional Raja Narai (King Narai National Museum). Ini akan menjadi kesempatan emas untuk mengenal sejarah Thailand. Mumpung ini adalah bagian akhir dari pertemuan. Kunjungan seperti ini justru menambah pengetahuan tentang daerah misi. Selain tentu saja mempererat kebersamaan kami.

 

Meski dibilang dekat, dengan mobil tentu membutuhkan sekitar 1 jam-an. Dihitung dengan kepadatan yang ada di beberapa titik. Entah karena banyak pengguna jalan, atau juga karena ada perbaikan besar. Perbaikan jalan kadang membuat pengguna jalan harus menambah jarak tempuh. Sebab, jalurnya diputar untuk menghindari titik perbaikan. Dan, kami melewati jalur putaran seperti ini. Setelah sejam berjalan sambil bercerita, kami tiba di depan Museum. 

 

Mobil kami diparkir di bahu jalan. Mungkin karena kami akan mengunjungi tempat berikutnya. Sebab, sebenarnya bisa juga memarkir di dalam Museum. Tetapi memang tidak ada yang merisaukan. Semuanya akan baik-baik saja. Kecuali mungkin oleh hewan Kera yang berkeliaran. Biasanya Kera akan menghampiri mobil yang bermuatan buah-buahan atau makanan lainnya. Tapi, mobil-mobil kami tertutup dan tidak membawa buah-buahan. Amat kecil kemungkinannya ia datang.

 

Museum Kerajaan dan Gereja St Paulus

Selang beberapa menit kemudian, kami masuk Museum. Seorang dari kami membeli tiket untuk semua, sementara yang lainnya menuju Toilet. Memang tidak semuanya, tapi saya hitung sekitar 4 dari kami ber-7 ke Toilet. Maklum, setelah sejam berjalan, tentu tubuh ini perlu membuang zat yang tidak dibutuhkan lagi. Seperti Thailand pada umumnya, Museum ini juga amat bersih, mulai dari toiletnya. Wangi dan bersih.

 

Masuk ke bagian dalamnya, sudah terlihat pemandangan hijau. Oleh pohon-pohon yang rindang. Cocok untuk berteduh. Tampak beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan dan merapikan beberapa bagian di salah satu sudut. Di sisi kiri dari pintu masuk, ada halaman besar, yang ditandai dengan puing-puing bangunan kuno. Ini adalah bagian dari bangunan istana Kerajaan Narai. Bagian ini masih terkait dengan bagian dalam yang bangunannya masih eksis sampai sekarang.

 

Bangunan eksis itulah yang disulap menjadi ruang Museum. Dengan berbagai koleksi yang menarik. Sisi sejarah Thailand memang ditampilkan dengan baik di sini. Memerhatikan benda-benda antik yang ada, saya teringat akan Italia, negara dengan koleksi barang antik yang amat bagus. Kehebatan Thailand dalam merawat sejarah patut dipuji. Cerita ini menjadi panjang sehingga baik kalau akan diulas dalam edisi tersendiri. 

 

Dari bagian Museum bagian bawah ini, saya berpindah ke Museum sebelahnya. Saya naik ke lantai 2. Di sana ada pajangan benda kuno yang dipakai oleh Raja Narai, atau juga yang terkait dengan Kerajaannya pada zaman itu. Rupanya diplomasi Raja Narai bersama beberapa negara amat hebat. Raja yang terbuka seperti ini kiranya akan membangun masa depan Kerajaan yang lebih baik. Misalnya ada peninggalan Raja yang menandakan relasinya dengan Kerajaan di Prancis. Sungguh, berjalan di antara pemajangan barang-barang kuno ini tidak membawa kebosanan. Setidaknya bagi saya yang suka Sejarah. Beda dengan Museum bawah yang full AC, museum atas ini hanya bermodalkan kipas angin besar. 

 

Setelah semuanya dikelilingi, saya turun ke taman. Sambil menunggu teman-teman yang lain, saya ingin menikmati pemandangan taman. Dari arah toilet, saya menuju ke dua bangku taman. Di sana teman saya Romo Rey sudah duduk lebih dulu. Bosan di taman, kami berpindah ke Caffe yang ada di sebelah pintu masuk Museum. Kami memesan Teh dan Kopi, lalu menikmatinya sambil berbagi cerita dalam ruang ber-AC itu. Minuman hangat itu sangat cocok untuk suhu AC yang dingin. Seperti orang-orang Phillippines pada umumnya, orang-orang Thailand juga mengatur AC dengan suhu yang rendah sekali. AC memang menciptakan suhu ruangan yang dingin tapi tidak bisa sampai sedingin-dingin sekali. AC hanyalah mesin pendingin yang bekerja berdasarkan suhu normal di luar ruangan. Maka, jika rerata suhu tropis 27-28, jangan memaksa AC untuk bekerja sampai menciptakan suhu 18-21. Ini bisa saja dibuat, tapi bayangkan betapa kerasnya kerja AC itu nanti.

 

Setelah menikmati Museum itu, kami berpindah ke reruntuhan Gereja Katolik St Paulus. Jaraknya hanya 3 km dari Museum. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki. Romo Rey menjadi pelopor dari perjalanan yang ngos-ngosan ini. Memang dekat, tapi untuk pejalan kaki, itu amat jauh. Memang di sana, kami hanya melihat bekas reruntuhan gereja. Tapi dari reruntuhan itu, bisa digali sejarah Kekatolikan di Thailand. 

 

Setelah lelah, kami berhenti di sebuah restoran, untuk makan siang. Menu lokal nasi dan beberapa lauk yang enak dinikmati. Apalagi lapar seperti ini. Setelah duduk menikmati menu ini, kami berangkat lagi. Berjalan kaki di tengah teriknya mentari Lop Buri. Kaki ini terus melangkah, mencapai tujuan akhir di parkiran mobil. Mata juga bekerja, menemukan celah di antara pedangang yang memakai bahu jalan. Sesekali melirik ke kiri kanan, sambil menangkap peluang untuk nyebrang jalan. Semua ini berakhir dalam suhu yang panas, dan masuk mobil.

 

Perjalanan Pulang

Romo Alessio memulai menyetir mobil dari Lop Buri sampai kota Kampheng Pet. Mula-mula kami bercerita sambil menikmati jalanan datar nan lurus itu. Saking lurusnya sampai membosankan. Perut yang kenyang pun seolah-olah mempercepat rasa kantuk datang. Saya pamit pada Romo Alessio, lalu tidur pulas. Terbangun ketika beberapa kota dilewati. Rupanya jarak 250-an km telah dilewati. Sudah saatnya mengisi kembali BBM. Sekalian berhenti dan membuang air. Saat berhenti ini, kami bertemu dengan banyak turis Italia. Mendengar bahasanya, saya langsung tahu, mereka dari Italia. Romo Alessio pun saya beritahu. Dan jadilah mereka berbincang. Betapa senangnya kala kita bertemu orang se-negara di negara orang.

 

Setelah menikmati kebahagiaan dalam percakapan singkat itu, saya dan Romo Alessio pamit. Kendali mobil diserahkan ke saya. Saya pun dengan senang hati menyetir. Jalanan ini masih datar dan lurus sekitar 80-an km sampai di kota Tak. Dari kota ini, jalanan mulai berkelok-kelok, naik turun, menuju kota Maesot. Tentu akan lebih asyik jika di jalanan seperti ini, tidak perlu banyak berhenti, selain melaju kencang, menaklukan tanjakan, dan menuruni turunan dengan lancar. Sayangnya kami harus berkelok-kelok melewati pos pemeriksaan juga. Terhitung ada 3 pos penjagaan, sebab ini masuk daerah perbatasan. Hanya satu pos yang cukup ketat. Polisi meminta kami menunjukkan kartu identitas. Dua pos lainnya lancar. Apalagi saya dilihat seperti orang Thailand, polisi dan tentara penjaga pun langsung melewatkan kami.

 

Setelah melewati jalan berkelok, kami tiba di kota Maesot. Dari sini, jalanan tidak berkelok-kelok lagi. Kembali ke jalan lurus, menuju Paroki kami. hanya di beberapa titik terdapat tanjakan kecil. waktu sudah agak malam, kala kami tiba di kota Maesot. Maka, kami memutuskan untuk berhenti di tempat pengisian BBM terakhir sambil menikmati makan malam. Di 7-11, kami membeli makanan malam, sebelum melanjutkan perjalanan. Ini kesempatan yang baik untuk beristirahat. Saya menikmati Hamburger dan Romo Alessio menikmati nasi goreng. Semuanya tersedia di 7-11. Hangatnya amat cocok dengan suhu dingin di sore jelang malam ini. Setelah 30 menit berhenti, kami melanjutkan perjalanan. Rute yang panjang ini pun kami tempuh sampai jam 8.20 malam. Kami tiba dan langsung menuju kamar masing-masing. Romo Alessio menginap di sini malam ini. Besok masih ada urusan di kota Maesot, sebelum ia melanjutkan ke komunitasnya pada siang atau sore harinya. Terima kasih untuk perjalanan 4 hari ini. Terima kasih Tuhan, atas perlindungan-Mu.

 

Km 48, 15/9/22

 


Merawat persahabatan itu penting. Bukan saja di negeri sendiri, tapi terutama di negeri orang. Persahabatan memupuk semangat kekeluargaan. Saling sapa pun akan muncul dari hangatnya persahabatan.

 

Pagi-pagi sekali teman saya Romo Reynaldo SX mengetuk pintu kamar saya. Meski agak malas bangun pagi, saya rajin membaca pesan singkat sebelum benar-benar bangun. Saya pun ingat, pagi ini kami akan mengunjungi teman kami Romo Nuu. Romo Projo yang bekerja di paroki dekat sini. Romo inilah yang mendampingi saya selama 6 bulan di Paroki St Theresa, Maesot. Kini, ia bertugas di kota Singburi ini. Dan, pagi ini, kami berjumpa lagi.

 

Senangnya bukan main. Senyum khasnya menyapa kami yang tiba lebih dulu di ruang Sakristi sebelum Misa. Kami sengaja datang lebih awal. Sebelum Misa jam 6 pagi, kami sudah keluar dari tempat penginapan. Tiba lebih awal sambil melihat Gereja yang megah ini. Inilah gereja dengan jumlah umat terbanyak di Keuskupan kami. Di samping gereja, ada asrama dan sekolah. Semuanya milik paroki ini. Jangan heran jika Bapa Uskup menugaskan Romo Nuu untuk melayani di sekolah, dan Romo Joo untuk paroki. 

 

Romo Nuu dan Romo Joo adalah teman akrab kami. Mereka berasal dari suku pegunungan (Karen). Salah satu ciri khas suku ini adalah semangat persaudaraan. Persaudaraan ini amat kuat dan terlihat saat kami mengikuti pertemuan di Keuskupan. Mereka berdua ini adalah di antara yang selalu bercerita-cerita dengan kami. Karena persahabatan inilah, kami datang pagi ini. Toh letaknya hanya 500 meter dari tempat kami menginap. Amat baik jika kunjungan seperti ini dibuat.

 

Di gereja, Romo Nuu memberi kesempatan kepada kami untuk mempersembahkan Misa bersama umat. Maka, pagi ini, kami bertiga berkonselebran. Romo Rey memimpin Misa, Romo Nuu membaca Injil, dan saya mendapat bagian untuk mendaraskan Doa Syukur Agung. Selesai Misa, kami masih bisa sarapan bersama. Sungguh indah dan mengingatkan saya akan masa-masa bersama Romo Nuu di paroki. Penuh kekeluargaan.

 

Pinginnya lama-lama ngobrol di sini, tapi kami harus pulang. Masih sempat menyapa Romo Joo yang hadir saat kami asyik berngobrol ria di kamar makan. Setelahnya kami kembali ke tempat penginapan. Mengikuti Misa untuk kedua kalinya. Tidak ada salahnya. Hitung-hitung menambah kekudusan. Seperti kemarin, Misa dilanjutkan dengan sarapan pagi. Ada nasi goreng dan roti. Lagi-lagi, ini sarapan kedua. Demi kebersamaan, sarapan ini dinikmati.

Pagi ini, pembahasannya tidak terlalu membosankan seperti sebelumnya. Jika kemarin semuanya di ruangan pertemuan, pagi ini dibagi dalam dua kelompok. Sempat ada kebingungan karena di kelompok kami tidak ada topik khusus yang didiskusikan. Tampaknya sengaja diperlambat. Pesan masuk setelah pertemuan berjalan hampir sejam lebih. Topiknya datang terlambat. 

 

Diskusi di luar topik program pastoral ini pun meliputi banyak hal. Ada usulan, ada penegasan, ada himbauan, dan sebagainya. Inilah yang mendominasi kegiatan hari ketiga ini. Pertemuan ini diakhiri dengan ibadat sore. Kemudian makan malam. Ini agak unik juga.

 

Sebelum makan malam berakhir, hujan turun. Meja kami pun dipindahkan ke dalam ruangan. Memang ruangan makan ini terbuka. Hanya saja meja kami letaknya di balkon luar tanpa atap. Kalau hujan, otomatis basah. Romo Rey bergerak cepat, menandakan hujannya. Beberapa pegawai restoran pun setuju memindahkan meja makan. Dan untung hujan turun, tepat semenit sebelum semuanya dipindahkan. Kami pun melanjutkan menyantap hidangan di bagian dalam.

 

Hujan ini rupanya tidak mau berhenti. Kami selesai makan tapi hujan masih turun. Jadinya kami bercerita-cerita. Yang lain pindah ke ruang pertemuan sambil nonton film atau buka laptop. Saya dan Romo Rey memilih bercerita dengan pemilik resotran. Aura persaudaraan itu muncul lagi saat kami saling berkenalan. Tanpa pertemuan non formal ini memang, kami benar-benar tidak saling kenal.

 

Sebelum ini, pemilik dan pegawai restoran mereka-reka identitas kami. Saya misalnya diyakini sebagai orang dari Suku Karen. Karena penandanya adalah tas yang saya pakai. Tas karen itu rupanya ikut menentukan identitas saya. Mereka kaget saat pemakai tas itu berasal dari Indonesia. Dari situlah cerita jadi panjang. Anak pertama dari pemilik resotran ini rupanya punya pengalaman hidup di luar negeri. Ia belajar master manajemen perhotelan di negeri kanguru. Selain Australia, Bali adalah tempat favoritnya untuk belajar makanan indonesia. Ia pun meminta Romo Rey mencarikan menu masakan Indonesia.

 

Sebelum jam 9 malam, saya mohon pamit duluan. Rupanya semuanya juga ikut berpamitan. Demikianlah percakapan yang singkat dan menarik di malam terakhir ini. Hujan rupanya selain membuat kami huru-hara, juga membuat kami mengenal yang lain. Setiap waktu adalah kesempatan emas. Asal kita mampu melihat peluang emas dari setiap kesempatan yang ada. Pertemuan penuh kekeluargaan malam ini tidak kami rencanakan. Terjadi begitu saja. Saat Romo Rey mengajak saya untuk mampir di ruang receptionist. 

 

Setelahnya, kami pamit ke kamar masing-masing. Malam belum berakhir. Saya masih bisa zoom Rosario lagi. Mengawali dan mengakhiri hari dengan ucapan syukur itu memang amat membahagiakan. Rasanya berkat itu harus disyukuri. Pagi adalah penanda syukuran atas waktu malam. Dan malam adalah penanda syukuran atas aktivitas seharian. Tuhan rupanya sudah mengatur semuanya. Dan, terima kasih untuk semuanya. Di hari ketiga ini. (bersambung)


SGBR 14/09/22



Mungkin karena sendirian, istirahat semalam terasa begitu nyenyak. Saking nyenyaknya, tubuh ini enggan bangun jam 5 pagi. Meski ada alarm, tubuh ini benar-benar meninggalkan tempat tidur pukul 5.30. 

Semalam memang rasanya capek sekali. Habis Rosario, saya langsung tidur. Dan nyenyak sekali. Mula-mula dengan menghidupkan AC, kemudian tanpa AC. Rasanya tidak ada yang perlu dimintai pendapat saat matikan AC. Begitu terasa dingin, langsung dimatikan. Semalam memang enggan seperti ini karena ada teman di sebelah. Tidur berdua memang asyik bercerita, tapi tidak nyaman soal AC atau lampu atau TV dan sebagainya. Malam ini, kami minta kamar tambahan. Agar bisa tidur sendiri-sendiri.

 

Tidur nyenyak memang bisa melupakan hal yang lain. Karena itulah, pagi ini, sebelum mandi, saya menuliskan artikel renungan harian, yang seyogianya harus ditulis semalam. Syukurlah, lancar dan cepat. Sebab, idenya sudah ada. Tinggal menuangkan rencana homili pagi ini. Saya dapat giliran memimpin Misa pagi. Panitia membagi petugas pemimpin Misa berdasarkan negara. Oleh teman saya yang senior, saya didapuk menjadi pemipin Misa. Saya terima dengan senang hati.

 

Beda dengan kemarin, hari ini kami mulai dengan Misa pagi. Di mana-mana Ekaristi menjadi sebuah perayaan syukur. Dalam rasa syukur itulah terlintas harapan. Maka, jika kita ingin bersyukur, pasti ada harapan yang mendahuluinya. Kami pun memohon rahmat pengharapan ini dalam Misa pagi. Kami berharap bahwa kami benar-benar melaksanakan misi-Nya di Thailand. Bukan misi pribadi kami masing-masing. Untuk tugas ini, kami diajak untuk mengenal di mana posisi kami sekarang. Baik di Indonesia  maupun di Thailand, misi itu tetap sama. Yakni misi Tuhan sendiri. Maka, semua yang bermain-main di balik misi-Nya ini mesti disingkirkan.

 

Thailand memang menjadi negara Buddha yang unik di Asia. Tapi, di Thailand, semua agama diterima dengan baik. Dalam perjalanannya tentu ada pengecualian sana-sini. Yang berujung ke arah ‘diskriminatif’, tapi itu tidak menjadi perkara besar. Di atas kertas memang kadang ada persoalan soal dokumen. Tapi, itu tidak perlu menjadi kerisauan yang berkepanjangan. Harapan ke arah yang lebih baik tentu amat dibutuhkan. Itulah sebabnya diskusi membahas soal ini perlu ditingkatkan.

 

Setelah kenyang dengan santapan rohani, kami masuk ruang santapan jasmani. Nasi goreng ala Thaland sudah tersedia. Ini santapan yang enak, namun ada juga persediaan roti. Bagi mereka yang tidak makan nasi. Dan beberapa dari kami memang senang menikmati roti di pagi hari. Dua santapan ini dipadu dengan kopi hangat. Perpaduan rasa ini membuat pagi yang sejuk dan indah ini makin asyik. Di atas restoran terapung itu, kami juga menikmati pemandangan pagi. Melihat mentari yang bersinar dengan terang. Seterang harapan hati kami untuk akivitas selanjutnya. 

 

Hari ini, kami berhasil menyelesaikan pembahasan soal program pastoral. Dimulai dengan sesi lanjutan dari Komunitas Bangkok. Kemudian dari Komunitas Umphang. Dari komunitas ini, ada program unik. Karena pastoralnya bervariasi: di sekolah, di keluarga Katolik, dan anak asrama. Romo Reynaldo SX asal Indonesia adalah ujung tombak dari misi di kota Umphang ini. Meski awalnya mau ditutup oleh pemimpin kami beberapa tahun lalu, Romo Rey tidak patah semangat. Tanah misi baru ini memang belum pernah disentuh oleh tangan-tangan misionaris pendahulu. Maka, bagi mereka yang masuk pertama, salah satu tantangannya adalah patah semangat. Romo Reynaldo melewati tahap sulit ini dengan baik.

 

Ia pun dengan gigih memulai kunjungan perdana sejak 2015 silam. Setahun kemudian, misi ini sempat dihentikan dengan alasan tidak menjanjikan masa depan. Keputusan pemimpin kami waktu itu amat keliru. Selain tidak pernah berkunjung ke sini, Pastor asal Italia itu memutuskan secara sepihak dan amat gegabah. Keputusannya yang salah waktu itu, kini justru menjadi sebaliknya. Ia yang semula meragukan misi baru ini, kini dibuat ternganga oleh perkembangan yang dibuat Romo Reynaldo. Romo Rey memulai dari nol. Ia sadar betul bahwa di sini tidak ada keluarga Katolik. Alih-alih mundur, ia mencari keluarga Katolik dan menemukan mereka. Mereka yang hidup tanpa sang gembala itu kini amat senang. Kalau didiamkan memang seperti kota ini tanpa orang Katolik. Tapi begitu dicari, ada yang datang dan mau memperbarui iman Katoliknya yang sudah lama terpendam.

 

Pelan-pelan keluarga-keluarga Katolik akan muncul. Perkembangan ke arah komunitas Katolik pun mulai tampak. Setelah komunitas spiritual dibentuk, kini komunitas fisiknya sedang dikerjakan. Dari tidak ada tempat berdoa, kini mereka sedang menunggu penyelesaian gedung Kapel yang pertama. Bersamaan dengan itu, Romo Rey masih berkecimpung dalam pengajaran di sekolah, dan pengembangan asrama. Kini, ia dibantu oleh seorang Romo lain yang manangani bidang asrama.

 

Misi Romo Rey di Umpang bermula dari misi Xaverian di Paroki St Yosef Pekerja, km 48. Sore ini, kami mendengarkan pemaparan program pastoral dari paroki ini. Paroki ini memang boleh dibilang mandiri. Umatnya banyak dan organisasinya teratur. Meski demikian, paroki ini akan berjalan di tempat jika gaya pastoralnya hanya itu-itu saja. Maka, dalam program pastoral ini, kami juga menambah inisiatif baru. Seperti mempelajari bahasa dari suku-suku yang lain, termasuk bahasa Myanmar. Juga adakan kunjungan ke keluarga-keluarga Katolik Myanmar. Ini yang saya buat bersama katekis kami yang bisa berbahasa Myanmar.

 

Kegiatan hari kedua ini ditutup dengan ibadat sore bersama. Lalu, makan malam. Ini makan malam unik. Sebab, di dalam kamar makan berbentuk restoran itu, ada juga kelompok umat Katolik. Tempat ini memang punya restoran yang buka tiap hari. Seperti semalam, malam ini juga ada banyak kelompok dan perorangan yang datang. Dan, pemilik restoran memperkenalkan kelompok Katolik ini kepada kami. Mereka rupanya adalah sebuah keluarga besar yang sedang merayakan ulang tahun. Kami ber-7 pun memberikan berkat khusus kepada 3 orang yang berulang tahun. Senang bisa bertemu dengan umat di tempat pertemuan seperti ini. Ini adalah momen kebahagiaan bagi kami semua di hari kedua ini.

 

SGBR 13/09/22

 


Mestinya saya bangun telat karena semalam tidurnya telat. Tapi itu rupanya tidak terjadi. Pagi ini, jam 5, sudah bangun. Mandi dan siap bekerja sejak 5.30. Kalau sudah siap seperti ini, biasanya ada semangat. Semoga semangat ini selalu menyertai dalam beberapa hari ke depan. 

 

Hari pertama, semangat itu muncul dalam doa pagi. Doa dalam semangat tentu punya nilai tersendiri. Biasanya saya membaca doa pagi setelah sarapan. Sebab, pagi-pagi sekali harus berangkat Misa. Pagi ini, ibadat bacaan saya daraskan sesaat setelah bangun. Rasa segar setelah mandi itu ikut berkontribusi dalam mendaraskan doa. Ibadat bacaan pribadi itu pun dianjutkan dengan ibadat pagi bersama. Di bawah, pohon rindang, kami melantunkan pujian. Ada rasa kusyuk kala kami duduk bersama di kursi kayu, menikmati alam yang indah pagi ini. Alam adalah hadiah terindah dan pagi ini, alam itu kami nikmati sambil memuji nama-Nya.

 

Doa pagi yang jadi pembuka kegiatan hari ini pun berlanjut dengan kunjungan ke Gereja Paroki St Lukas. Bertemu dengan Romo Tawat, Pr. Romo diosesan yang kami undang itu rupanya mengundang kami untuk bertamu ke parokinya. Dalam perjalanan ke sana, kami berhenti di sebuah warung. Untuk sarapan pagi. Ibu pemilik warung itu menyediakan sarapan berupa Khao Tom yang enak sekali. Empat dari kami ber-7 menikmati sarapan khas Thailand ini. Tiga lainnya membeli sarapan ala orang Eropa di toko 7-11. Ibu itu rupanya tidak saja pandai memasak, tapi juga pandai bercerita. Kami dibuat terkagum dengan kisahnya. Sambil menyiapkan makanan itu, matanya sesekali melirik ke arah kami sambil bercerita. Kisahnya seperti apa? Nanti akan diceritakan dalam edisi tersendiri.

 

Tempat Romo Tawat rupanya tak jauh dari tempat kami sarapan. Dalam waktu 10 menit, kami sudah memasuki kompleks sekolah dan paroki. Di sana, Romo Tawat sudah menunggu. Dari caranya menyapa, bisa ditebak, ia adalah seorang dperamah. Kisah pelayanannya di paroki pegunungan membuatnya terbiasa untuk menyapa siapa saja yang ia jumpai. Kisah pegunungan menarik untuk diceritakan. Ini pun akan diulas dalam edisi lainnya. Sayang sekali jika kisah pewartaan heroik seperti ini dilewatkan.

 

Romo Tawat mengisi sesi karya pastoral di Keuskupan Nakhon Sawan. Kisah-kisah pastroal itu diselingi dengan kisah pribadinya selama melayani baik di paroki maupun di sekolah, baik di pegunungan maupun di kota, baik di luar negeri maupun di seminari nasional di Thailand. Kisah ini amat menarik untuk dipelajari. Kekayaan pengalaman pastoral ini sungguh menjadi bahan yang sangat berarti bagi kami yang merasul di keuskupan ini. Kami pun berjanji akan mengambil contoh yang cocok untuk karya misi kami ke depannya. Pertemuan dengan Romo Tawat membawa kami pada kesadaran bahwa, sepandai-pandainya kami bermisi, pengalaman misi para Romo diosesan setempat masih lebih pandai dari kami. Ini kiranya yang mendorong Santo Guido Conforti untuk menitip pesan kepada para misionarisnya: Masuk melalui pintu mereka dan keluar melalui pintu kita. Wejangan Santo Conforti ini kiranya bukan saja soal budaya tetapi juga soal gaya pastoral.

 

Gaya berpastoral inilah yang akan kami bahas dalam 2 hari ke depan. Terima kasih kepada Romo Tawat yang bukan saja mengenyangkan kami dengan pengalaman pastoral, tapi juga melayani kami dengan santapan siang yang melimpah. Inilah makan siang super kenyang di awal pertemuan tahunan atau asemblea kami ini. Dari tempat Romo Tawat, kami kembali ke tempat pertemuan. Masih ada jeda waktu 1,5 jam untuk beristirahat sebelum memulai sesi kedua hari pertama ini.

 

Berpastoral di tempat misi seperti Thailand memang membutuhkan persiapan yang matang. Romo Tawat dalam pertemuan pagi juga menyinggung soal ini. Apalagi ini adalah negara dengan mayoritas Buddha. Sesi kedua ini, kami mendengarkan pemaparan program pastoral dari Komunitas Bangkok. Meski bekerja di antara orang miskin, pengalaman pastoral mereka tak bisa tidak, mesti menyentuh orang-orang dan kelompok berduit dan pelayanan pastoral paroki lainnya. Mereka pun mengakui jika mereka banyak menerima sumbangan dari kelompok orang asing, paroki-paroki, sekolah-sekolah internasional, dan kelompok kategorial lainnya di ibu kota negara Thailand itu.

 

Pembahasan program pastoral ini amat menarik. Namun, kami harus menunda kelanjutannya besok pagi. Panjangnya tidak kami duga akan melebihi satu sesi pertemuan. Sesi berikutnya sore ini adalah Perayaan Ekaristi. Perayaan suci yang biasanya dibuat pagi hari ini dipindahkan ke sore hari, hanya untuk hari ini. Perayaan syukur ini menjadi madah terima kasih kepada Tuhan atas penyelenggaraannya kepada kami dari kemarin, semalam, tadi pagi dengan Romo Tawat, sore ini, dan sampai malam nanti. 

 

Malam nanti, ada acara Nonton Bareng. Meski moment kebersamaan ini penting, sifatnya hanya rekreatif. Setelah lelah beraktivitas sepanjang hari, malam hari adalah waktu yang terbaik untuk menampung energi kembali. Saya pun menggunakan moment ini untuk bersitirahat. Selesai makan malam, saya mandi, dan siap dengan zoom Rosario. Selesai Rosario baru menyiapkan tulisan ini. Biar tidak hilang ditelan kesibukan, kesempatan singkat pun harus digunakan untuk menggoreskan ide yang tebersit. Tulisan ini adalah rangkuman dari pengalaman hari pertama di kota Singburi. Kisah hari berikutnya tentu akan lebih menarik. Teruslah menyimak serial ini.


SGBR 12/09/22

 


Sore tadi menjadi awal dari perjalanan panjang. Hingga jam 10.40 malam. Saat kami memasuki kamar masing-masing. Dari Provinsi Tak ke Provinsi Singburi, Thailand. Total lamanya 6 jam 10 menit. Dihitung dengan waktu berhenti di pasar dan makan malam di pom bensin.

 

Perhentian inilah yang membuat sadar akan perjalanan panjang ini. Jarak yang panjang akan lebih panjang saat kita menunggu. Dan karena menunggu inilah, kami tiba telat malam ini. Rencana untuk tiba sore buyar. Kami memang ingin berangkat cepat, tapi kami sadar, kami harus tunggu teman yang paling jauh. Menunggunya tentu punya alasan. Kami akan nebeng di mobilnya. 

 

Setelah makan siang, saya dan teman saya menunggu teman dari jauh ini. Menunggu ini akan makan waktu lama dengan kondisi hujan. Jalanan tambah macet. Beberapa titik menjadi pusat kemacetan karena sedang ada perbaikan. Menunggu yang biasanya membosankan ini harus dilawan. Lawannya bukan dengan tidak menunggu. Tapi dengan kegiatan lain yang bisa membunuh kebosanan. Bosan itu pun berhasil diatasi dengan tidur pulas. Dua jam saya habiskan di tempat istirahat. Meski, belum terasa puas, saya harus bangun menjelang jam 4 sore. Telepon berdering, suara teman saya terdengar, “Saya masih di sini, menunggu antrian, tidak lama lagi, akan sampai.” 

 

Dia memang tidak jauh dari tempat kami. Kira-kira 30-an km lagi. Tapi, jarak ini menjadi tidak bisa diprediksi karena kemacetan itu. Angan-angan itu pun jadi nyata. Dari jam 4 sore yang dijanjikan, mundur ke jam 4.20 menit. Ini sudah telat maka kami harus berangkat. Tanpa banyak bicara, kami memasukkan beberapa tas, lalu melanjutkan perjalanan.

 

Meski sudah melaju 125 km, teman saya masih kuat nyetir. Dia memang bukan sopir baru. Belasan tahun dia mengendarai mobil. Di Italy, Inggris, Phillippines, dan Thailand. Kecakapannya bertambah dengan tenaga mobilnya yang super di kelas pick up. Jarak 48 km ke kota pertama yang kami lewati pun hanya ditempuh dalam 30 menit. Sekitar 70-an km berikutnya pun, ia tempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Maka, setelah melaju 1 jam, kami sudah tiba di pasar 24 jam. Sebelum tiba di sini, kami sempat berhenti di pos pengecekan dokumen oleh polisi imigrasi dan polisi perbatasan. Semua ini saya lalui sambil setengah mengantuk. Tapi, di sini, di pasar ini, rasa kantuk itu hilang segera. Tapi, meski sudah bangun, saya tidak ikut kedua teman saya yang turun dari mobil. Di dalam mobil itu, saya masih sempat mendaraskan doa Angelus pada jam 6 sore. Adik saya mengingatkan saya melalui telepon. Kami pun berdoa bersama.

 

Momen ini penuh rasa syukur. Atas perjalanan yang sudah dilalui. Kiranya rasa syukur yang sama dialami oleh para penjual di Pasar 24 jam ini. Rasa syukur bisa saja diungkapkan dalam doa, tapi senyuman juga bisa menjadi tanda syukur. Senyuman itulah yang saya lihat di wajah beberapa penjual. Sebagian besar dari mereka adalah kaum ibu dan para gadis. Senyum syukur itu pun menjadi lebih cantik kala mereka melayani pembeli. Dan, kedua teman saya dari Italy termasuk dalam kelompok ratusan pembeli lainnya. Syukur dalam senyum itu rupanya juga menjadi milik kedua teman saya ini. Mereka bersyukur bisa menemukan oleh-oleh untuk sahabat yang akan kami jumpai dalam beberapa hari ke depan. Sambil besyukur, kami pun berpamitan dengan gadis-gadis penjual, sembari masuk di mobil, dan jalan lagi.

 

Dalam nada syukur, teman saya pun melajukan mobilnya. Kota terdekat lewat dan berhenti di kota berikutnya. Di sini, lagi-lagi saya dibangunkan oleh teman saya. Begitu pintu mobil dibuka, teman yang satu membangunkan saya. Saya pun turun dan rupanya sudah waktunya untuk makan malam. Tanda syukur apa lagi yang akan muncul berikutnya?

 

Syukur berikutnya adalah syukuran makanan. Di sini, toko 7-11 pun buka 24 jam. Beberapa restoran dan pom bensin juga buka 24 jam. Meski selalu buka, di salah satu restoran rupanya tidak menjual nasi lagi. Saya dan teman saya pun mengikuti jejak teman yang lebih dulu ke 7-11. Kami menemukan nasi yang kami inginkan. Dan, sambil beristirahat, bercerita, menikmati makanan malam itu. Perjalanan ini memang harus dinikmati. Saya dan teman saya biasanya punya perjanjian. Kalau jalan bersama, nyetir bergantian. Maka, malam ini pun ide gantian menyetir itu muncul tepat saat makan malam. Tapi, meski saya bisa, saya rasa masih ngantuk. Teman saya pun melanjutkan nyetir. 

 

Dia sempat melontarkan masalah matanya kala nyetir di waktu malam. Tapi, ini tampaknya bukan masalah besar. Buktinya, dia berani nyetir. Teman yang satunya yang lebih tua juga menolak untuk nyetir. Syukurlah teman saya ini tidak mau berdiskusi panjang. Sambil berjalan, saya pun pelan-pelan menutup mata. Perjalanan panjang setelah makan ini tampaknya sungguh mengasyikkan. Sampai-sampai saya tidak sadar, sudah tiba di tempat tujuan. Penjaga pintu gerbang setengah kantuk mengantar kami ke kamar masing-masing.

 

Di sini, saya langsung tidur. Pengennya nyenyak sampai pagi. Sayangnya jam 2 malam dibangunkan teman saya. Dia pendatang terakhir malam ini. Dia membangunkan saya untuk membuka pintu. Rasa kantuk membuat saya menyapanya dengan sesingkat-singkatnya. Saya pun melanjutkan tidur. Dan nyenyak, bukan karena menikmati waktu malam. Tapi, karena rasa capek. Tak terasa pagi sudah menyapa. Betapa perjalanan ini panjang dan melelahkan. Dalam lelah, kami bersyukur, karena bisa tidur pulas. Dan, dalam tidur pulas, kami menyadari, betapa Tuhan selalu melindungi kita semua. Baik waktu berjalan, maupun waktu berdiam untuk istirahat. Hanya karena Tuhan, jantung kami terus bekerja, meski tubuh kami berhenti total dan bersitirahat. Jantung yang bekerja 24 jam itulah yang memungkinkan kami yang capek bisa istirahat. Terima kasih Tuhan.


SGBR 11/09/22


Diberdayakan oleh Blogger.